jealousy

258 23 12
                                        

Saat kami berjalan menyusuri proyek, Adrian memimpin dengan percaya diri, memberikan arahan pada para pekerja dan menjelaskan setiap detail dengan cermat.

Cara dia berbicara membuatnya terlihat begitu profesional dan kharismatik, hingga aku tergerak untuk berbisik pada Sam, "Umur Adrian berapa sih?"

Sam menoleh dengan ekspresi datar, "Dia dua tahun lebih muda dariku."

Aku mengangguk sambil tersenyum kecil, seolah menyimpan informasi itu di dalam kepalaku. Namun, entah kenapa, jawaban Sam terdengar sedikit ketus, meski dia tidak banyak berbicara setelah itu.

"Why?" tambah Sam heran.

"Enggak, cuma... Adrian itu apa ya, dia kayak lebih berjiawa muda aja" Balasku sambil tersenyum melihat kearah Adrian yang sedang mengarahkan para pekerja.

Saat kami menyusuri proyek, Sam lebih banyak berjalan sendiri, memperhatikan gedung dengan serius, sementara aku lebih sering berbincang dengan Adrian dan Andrew. Adrian, dengan sifat ramahnya, terus menunjukkan perhatian yang membuat suasana terasa ringan. Andrew, yang seumuran denganku, ikut tertawa dan bercanda, menambah kesan hangat dalam kelompok kecil kami.

 Andrew, yang seumuran denganku, ikut tertawa dan bercanda, menambah kesan hangat dalam kelompok kecil kami

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Sam? Dia sepertinya menahan diri. Tatapannya sesekali tajam ketika melihat Adrian terlalu dekat denganku, tapi dia memilih diam. Mungkin dia memang lagi kesal. Aku tidak bisa menebak dengan pasti, tapi suasana canggung itu terasa di antara kami.

Pekerjaan kami selesai lebih cepat dari yang kami duga. Adrian, yang tampak puas dengan hasilnya, menoleh padaku dan Sam sambil bertanya, "Jadi, kalian akan tinggal lebih lama di Malaysia atau balik ke Jakarta besok?"

Sam menjawab dengan singkat, "Kami kembali besok."

Adrian tampak sedikit kecewa. "Sayang sekali, kalau kalian bisa tinggal lebih lama, aku mau tunjukkan tempat-tempat menarik di sini."

Aku hanya tersenyum tipis. Rasanya, setelah semua kejadian kemarin, aku dan Sam memang butuh waktu untuk menjauh dari situasi ini.

Setelah beberapa saat akhirnya aku berpamitan pada Adrian yang mengantar kami.

Aku mendekati Adrian, memberikan pelukan hangat dan kecupan di pipi. Sebelum berpisah, Adrian berbisik di telingaku, "Titip Sam ya, Anna. He's nice guy, dia sudah melewati banyak hal. Be soft to him, ok?"

Aku terdiam sesaat, menatap Adrian dengan pandangan bingung. Aku hanya mengangguk pelan, lalu tersenyum kecil sebelum akhirnya berjalan kembali bersama Sam.

Ketika kami meninggalkan lokasi proyek, aku bisa merasakan ketegangan di antara kami berdua. Sam tetap diam sepanjang jalan, hanya fokus pada langkah-langkahnya, seolah sedang berpikir keras tentang sesuatu.

Aku menatapnya sesekali, merasa ingin berbicara tapi juga takut untuk membuka percakapan yang mungkin akan membuat suasana makin canggung.

Kami berjalan beriringan di lorong hotel menuju kamar kami, tiba-tiba saat aku hendak membuka pintu kamarku Sam menahan tanganku agar tidak menscan kartuku, "what do you want Sam?" ujarku kesal.

Dear SamTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang