Mysterious Boy

104 12 1
                                        

Pagi itu, aku terbangun lebih awal dari biasanya, karena aku tahu aku harus mengejar transportasi umum agar bisa sampai tepat waktu di kantor.

Aku menghela napas ringan, menikmati momen pagi yang tenang, sebelum memulai rutinitas yang cukup padat. Setelah mencuci muka dan menyikat gigi, aku langsung menuju dapur.

Dengan gerakan cepat, aku memanggang dua roti dan membuka kotak susu almond yang baru aku beli kemarin. Sarapan pagi yang sederhana, tapi cukup untuk memberi energi sampai jam makan siang.

Aku meminum susu almond yang terasa segar di tenggorokanku, dan menikmati roti panggang dengan selai kacang yang kuoleskan tipis-tipis. Pagi itu, seperti biasa, aku merasa sedikit melankolis.

Sam dan Niko sedang di Malaysia untuk menyelesaikan finishing proyek kami, dan aku sudah beberapa hari ini bekerja sendiri tanpa mereka di sekitar. Jujur saja jarak ini membuatku merasa sedikit kesepian.

Setelah sarapan selesai, aku mengenakan blazer yang sudah kusiapkan dari malam sebelumnya. Penampilan yang sedikit formal untuk hari itu, tapi setidaknya membuatku merasa lebih siap untuk menghadapi pekerjaan di kantor.

Aku menatap jam di pergelangan tanganku, waktu sudah menunjukkan pukul 7:45 pagi. Aku keluar dari apartemenku dan menutup pintu dengan hati-hati, memastikan semuanya tertutup rapat.

Namun, saat aku melangkah keluar dari pintu apartemen, mataku langsung tertuju pada seorang anak laki-laki yang berdiri di depan unit 13C. Anak itu tampak sekitar 7-8 tahun, mengenakan pakaian kasual, dan berdiri diam di depan pintu unit tersebut.

Mungkin dia sedang menunggu seseorang, atau mungkin dia hanya kebetulan berada di sana. Aku memberikan senyuman singkat padanya, mencoba memberi kesan ramah. Anak itu membalas senyumanku, meskipun tampaknya sedikit canggung.

Tanpa berpikir panjang, aku melanjutkan langkahku menuju lift dan menekan tombol untuk turun ke lantai bawah.

Di dalam lift, aku terdiam sejenak, memikirkan apa yang baru saja kulihat. Siapa anak itu? Kenapa dia berdiri sendirian di depan unit 13C? Mungkin dia hanya anak tetangga atau teman dari penghuni unit tersebut. Tapi entah kenapa, aku merasa ada yang aneh dengan kejadian itu.

Aku mencoba mengingat-ingat siapa penghuni unit 13C, tapi aku benar-benar tidak ingat. Aku pernah mendengar beberapa orang di apartemenku, tapi tidak begitu mengenal mereka satu per satu.

Perjalanan menuju kantor berjalan lancar, dan aku segera terlarut dalam rutinitas pekerjaan begitu aku tiba. Pagi itu, aku langsung disibukkan dengan beberapa email penting, rapat singkat dengan tim, dan beberapa panggilan telepon yang harus kuselesaikan.

Pekerjaan terus menumpuk, dan seiring berjalannya waktu, aku mulai melupakan kejadian tadi pagi, meskipun benak kecilku terus mengingatkan tentang anak laki-laki di depan unit 13C.

Ketika jam kantor hampir selesai, aku melihat layar ponselku menyala. Itu panggilan dari Sam. Seperti biasa, aku langsung mengangkat telepon dan menyapa dengan suara ceria.

"Hey, I miss you," ucap Sam di ujung telepon.

"I miss you too," jawabku sambil tersenyum, meskipun aku tahu dia tidak bisa melihat senyumku. "How's your day going?"

Sam terkekeh. "Busy, as expected. But I miss Jakarta. Dan, tentu saja, I miss you more."

Aku tertawa kecil. "Kamu memang tahu banget ya bikin aku blushing."

"Of course, that's my job," balasnya santai. 

Lalu Sam bercerita tentang pekerjaannya di Malaysia, seputar proyek yang sedang berjalan, dan sedikit keluhan tentang jadwal yang padat. Aku mendengarkan dengan seksama, ikut merasa sedikit sedih karna sangat merindukan Sam dan Niko. Kami bertukar cerita tentang hari kami, seperti biasanya.

Dear SamTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang