Setelah hari yang cukup panjang di kantor, aku dan Sam akhirnya kembali ke apartemen. Malam itu kami makan malam sederhana bersama Tata dan Niko, yang seperti biasa tidak bisa berhenti bercanda satu sama lain. Setelah makan malam, mereka pamit untuk bertemu teman lama, meninggalkan aku dan Sam untuk kembali ke apartemen Sam berdua.
Sampai di apartemen, aku mengganti pakaian menjadi lebih santai, lalu kami duduk di sofa ruang tengah, menyetel film lama yang pernah jadi favorit Sam—film yang bahkan aku belum pernah dengar judulnya.
Tapi aku tak benar-benar fokus. Tatapanku kosong ke layar TV, tapi pikiranku dipenuhi banyak kemungkinan tentang esok hari. Tentang orang tuaku. Tentang kami.
Sam memalingkan wajahnya dari layar, menatapku dengan ekspresi lembut.
"Are you having second thoughts?" tanyanya pelan.
Aku langsung menoleh cepat. "Second thoughts? No. Not even close."
Sam masih menatapku, sedikit menyipitkan mata. "Then what is it? Your face says otherwise. You look... restless."
Aku menarik napas panjang, menyandarkan punggungku lebih dalam ke sofa. "I'm just... overthinking. About tomorrow. About my parents. What if they don't approve of us?"
Sam mendekat, menggeser tubuhnya lebih dekat ke arahku. "Do you think they won't?"
Aku mengangkat bahu pelan. "I don't know. Maybe. You're not what they expected, Sam. You're... you."
Sam tertawa kecil, tapi tawanya hambar. "Well, that's true. I'm not exactly the young man every parent dreams their daughter will bring home."
Aku menoleh padanya, mataku mencari matanya. "Kalau orang tuaku benar-benar menentang... apa kamu akan mundur?"
Pertanyaanku membuatnya terdiam sejenak. Ia menatapku dengan intens, seperti sedang menimbang kata-kata sebelum menjawab. Lalu perlahan ia menyentuh rambutku, membelainya lembut.
"Depends," katanya tenang. "If you still want this—if you still want us—then I won't back down. I'll do everything I can to make them see what I see when I look at you. When I look at us."
Aku terdiam mencerna setiap ucapannya. Lalu Sam memandangku dengan senyumnya yang lembut serta memegang tanganku.
"Kalau mereka menolakku, aku nggak akan marah," lanjut Sam, suaranya mulai pelan namun tetap tegas. "Aku bisa mengerti. Tapi aku nggak akan menyerah. Karena kamu pantas mendapatkan seseorang yang berani memperjuangkanmu. Dan kalau aku mundur hanya karena mereka tidak langsung setuju... then I'd be a coward."
Aku menahan napas sesaat. Ucapannya menampar rasa takutku. Membuat semuanya terasa lebih nyata, lebih kuat. Aku menyandarkan kepala ke bahunya dan menutup mata.
"I still want us," bisikku. "So badly."
"I know," katanya pelan, mencium puncak kepalaku. "Then that's all I need to keep fighting."
Aku mendongak pelan, menatap Sam tepat di matanya. Tatapannya tenang, tapi ada kilatan emosional di sana—seperti dia juga sedang menahan sesuatu. Entah ketakutan, keinginan, atau keduanya.
"I mean it, Sam," kataku, suaraku nyaris bergetar. "If they ask me to choose, I'd still choose you."
Sam mengerutkan kening, ekspresinya berubah. "Don't say that so easily."
"Why not?" tanyaku, menantangnya.
"Because it's not supposed to be that easy," katanya, suaranya lebih berat. "They're your parents. You love them. I don't want to be the reason you lose that part of your life."
Aku menarik napas, hatiku berdetak cepat. "But you're not just any reason. You're not a phase, Sam. You're my future. I see it. Every single day."
Sam menatapku, lama. Lalu ia menggerakkan tangannya ke pipiku, menyentuhnya lembut. "You're too young to say things like that with so much conviction."
KAMU SEDANG MEMBACA
Dear Sam
RomanceAnna Wijaya, seorang wanita berusia 27 tahun yang ceria dan bersemangat, baru saja pindah ke sebuah apartemen di Jakarta. Di seberang lorong, tinggal tetangga barunya yang misterius, yang dikenal sebagai Samuel Hennessy. awalnya, Anna hanya mengangg...
