Hennesy's

99 12 3
                                        

"Anna!"

Suara nyaringnya menyebut namaku begitu dia keluar dari pintu kedatangan, dan dalam hitungan detik, dia sudah berlari ke arahku, memelukku erat.

"Oh my God, Anna! I missed you so much!" serunya, nyaris menghancurkan tulang rusukku dengan pelukannya yang kuat.

Aku tertawa kecil, memeluknya kembali. "I missed you too, Tata! Finally, you're here!"

Dia menarik diri, menatapku dengan mata berbinar. Lalu mentap sekitar seperti mencari sesuatu.

"Mana Niko? Why isn't he the one picking me up?" Ujarnya sambil menyilangkan tangan di dada sambil memasang wajah masam.

Aku terkekeh. "Niko and Sam are still busy with meetings. They'll meet us later at the restaurant for dinner."

Tata mengerutkan kening, lalu menggodaku. "So mysterious. You still won't tell me who this guy is?"

Aku tersenyum penuh arti. "You'll see for yourself later."

Selama perjalanan di taksi, Tata tak berhenti melayangkan pertanyaan penuh rasa ingin tahu. "So, did you tell your parents already? Do they know you're engaged?"

Aku menghela napas, menatap keluar jendela sejenak sebelum kembali menatapnya. "Yeah, I told them. But they don't know who my fiancé is yet. I invited them to Jakarta so they can meet him in person and give their blessing."

Tata mengangkat alis. "You sound worried."

Aku tertawa gugup. "Because I am worried. What if they freak out when they find out that my fiancé is... well, their age?"

Tata menatapku sejenak sebelum tertawa. "Oh wow. That is going to be interesting."

Aku mendesah. "Yeah, tell me about it."

Dia menepuk bahuku dengan ringan. "Relax. They love you, and they'll see how happy you are. That's what matters."

Aku tersenyum, meski tetap merasa was-was. "Yah mudahan."

Kemudian aku mengalihkan pembicaraan. "Anyway, Kamu bakal stay di Jakarta berapa lama?"

Tata mengangkat bahu. "Nggak yakin. But my Dad just contacted me, saying he's in Jakarta and wants to meet up."

Aku mengerutkan kening. "Wait... what? Your Dad? Om lagi stay di Batam?"

Dia tersenyum kecil, seolah tahu aku akan kebingungan. "My Dad, i mean my real Dad. The parents you know are actually my adoptive parents—technically, they're my uncle and aunt."

Aku terdiam beberapa detik, mencoba mencerna informasi itu. "I had no idea... I always thought they were your real parents."

Tata mengangguk. "Yeah, I never really talked about it much. But now, my real dad suddenly wants to see me, so I figured I'd stay in Jakarta a little longer."

Aku mengangguk pelan, memahami perasaan campur aduk yang mungkin sedang dia rasakan. "Are you okay with that? Meeting him, I mean."

Dia tersenyum kecil, tanpa ada sedikit keraguan di matanya. "I don't know yet. Aku juga nggak ngerti kenapa dia tiba-tiba mau ketemu, padahal hubungan kami nggak deket-deket banget. But I guess I'll find out soon enough."

Aku meremas tangannya dengan lembut. "Whatever happens, I'm here for you."

Tata tersenyum lebih lebar kali ini. "Take it easy Anna. But Thanks. Now, let's focus on more pressing matters—like meeting this mysterious fiancé of yours."

Aku mengangguk sambil tertawa "Sure"

***

Restoran tempat makan malam kami sudah dipesan jauh-jauh hari oleh Niko, dan begitu aku dan Tata tiba, suasana hangat dan elegan langsung menyambut kami. Kami memilih meja yang nyaman di sudut ruangan, lalu mulai mengobrol santai sembari menunggu kedatangan Sam dan Niko.

Dear SamTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang