after break up

101 12 2
                                        

Entah sudah berapa lama sejak terakhir kali aku dan Sam benar-benar berbicara tentang hubungan kami yang berakhir.

Awalnya, setiap kali aku melihatnya di kantor atau mendengar namanya disebut, ada perasaan aneh yang mengendap di dadaku. Tapi sekarang, setelah sekian minggu, aku mulai merasa lebih baik. Aku sudah cukup berdamai dengan hati, meskipun bekas luka itu masih ada.

Vincent, di sisi lain, semakin terang-terangan mendekatiku. Dia tidak lagi sekadar bersikap baik sebagai atasan atau rekan kerja yang baik, tapi benar-benar menunjukkan niatnya.

Aku bisa merasakannya dari cara dia berbicara, cara dia mencari-cari alasan untuk berada di dekatku, bahkan dari caranya menawarkan bantuan untuk hal-hal kecil sekalipun.

Namun, meskipun aku tahu Vincent adalah pria yang baik, aku tidak begitu tertarik untuk menjalin hubungan lagi. Aku belum siap. Hatiku masih terlalu lelah untuk memulai sesuatu yang baru.

Tapi Vincent tidak menyerah.

"Wanna go out for dinner tonight?" tanyanya ketika aku masih sibuk dengan pekerjaanku.

Aku mengangkat kepala dan menatapnya. "I still have some things to finish. Maybe later?"

Vincent tersenyum kecil, seperti sudah menduga jawabanku. "You always say that. You need to take a break too, you know."

Aku hanya tersenyum tipis sebelum kembali fokus pada layar monitorku.

Vincent masih berdiri di sana beberapa detik sebelum akhirnya berkata, "Alright, then. tell if you change your mind."

Aku hanya mengangguk tanpa benar-benar berpikir, dan melihat Vincent pergi.

Saat Vincent pergi, mataku tertuju pada pintu ruangan Sam yang sedikit terbuka, mataku mengintip sedikit mencari tahu apa Sam datang ke kantor hari ini.

Sebenarnya keberadaan Sam di kantor tidak terlalu menggangguku lagi. Aku tidak lagi berharap dia akan mengajakku bicaram menghentikanku saat aku melewati ruangannya, aku tidak lagi menunggu-nunggu panggilannya atau pesannya. Ya, aku benar-benar bisa berdamai dengan keadaan ini.

Setelah hubungan kami berakhir Sam  lebih banyak menghabiskan waktu dengan mengambil business trip. Dia sering bepergian ke luar kota atau bahkan ke luar negeri untuk menindak lanjuti proyek perusahaan kami secara langsung, jadi aku semakin jarang bertemu dengannya di kantor. Mungkin ini memang yang terbaik.

Namun, tidak peduli seberapa baik aku berpura-pura, aku tidak bisa membohongi diriku sendiri. Terkadang ada saat-saat di mana aku masih merindukannya. Ada momen-momen di mana aku ingin mengirim pesan, menggodanya, menanyakan apa yang akan kami santap untuk makan malam, atau sekadar mengeluh tentang hariku seperti dulu.

Tapi tentu saja aku tidak melakukannya. Aku hanya menyimpannya dalam hati.

Hari ini berjalan cukup cepat, Aku mematikan komputerku dan meregangkan tubuh setelah seharian duduk di depan layar. Saat aku bersiap untuk pulang, Niko tiba-tiba muncul di samping mejaku dengan senyum jahilnya yang khas.

"So... Vincent's really going all out, huh?" katanya sambil melipat tangan di dadanya.

Aku hanya tertawa kecil. "Apaan sih."

Niko mendekat, mencondongkan tubuhnya ke meja dan menatapku dengan penuh rasa ingin tahu. "Oh? Jadi kamu nggak ada rasa sama sekali?"

Aku menghela napas sambil mengemasi barang-barangku. "Nope, nggak ada Nik. Aku masih belum kepikiran buat mulai hubungan baru."

Niko menatapku dengan tatapan penuh arti sebelum menyenggol lenganku. "Masih belum bisa move on dari Sam?"

Aku melotot padanya dan tanpa ragu langsung memukul lengannya. "Jangan mulai."

Dear SamTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang