Pagi ini aku duduk di meja makan bersama Sam, menikmati sarapan sambil sesekali melirik cincin di jariku. Aku tahu senyumku tidak bisa disembunyikan, tapi aku juga tidak berusaha menyembunyikannya.
Sam, yang duduk di seberangku, melirikku dengan satu alis terangkat. "You've been smiling like that since last night. Do I have something on my face?"
Aku terkikik. "No, I'm just... happy." Aku memutar-mutar cincinnya di jariku, membuat Sam tersenyum kecil.
"Good," katanya, menyuap sarapannya dengan ekspresi puas.
Di dalam mobil saat perjalanan ke kantor, aku masih belum berhenti tersenyum. Aku merasa seperti gadis remaja yang baru saja jatuh cinta untuk pertama kalinya. Sam melirikku sekilas sambil tetap fokus pada jalan.
"Alright, sweetheart, you have to stop that," katanya dengan nada geli. "Or people at the office will think you won the lottery."
Aku tertawa kecil. "I did. I won you."
Sam menghela napas pasrah, tapi senyumnya tidak bisa disembunyikan.
Saat sampai di kantor, aku berjalan ke mejaku sambil tetap tersenyum. Beberapa rekan kerja melirikku penuh rasa ingin tahu, dan aku tahu mereka pasti sadar ada yang berbeda dariku hari ini.
Seperti yang kuduga, Vincent langsung mendekat begitu melihatku. "You look suspiciously happy today," katanya sambil menyipitkan mata. "What happened?"
Aku hanya mengangkat bahu. "Nothing."
Vincent melipat tangan di dadanya, matanya menyipit lebih tajam sebelum tiba-tiba menatap tanganku. "Wait... is that a ring?"
Aku refleks melihat ke tanganku, lalu tersenyum kecil.
"Hmm... looks good on you," katanya, mengangguk puas. "Jewelry suits you."
Aku hanya tersenyum tanpa menjawab.
Vincent kemudian tersenyum tipis. "Well, since you're in such a good mood, why don't you have lunch with me later? Denger-denger di kafe bawah ada menu baru"
Aku baru akan menjawab ketika tiba-tiba Sam muncul di sampingku, menaruh ponsel di mejaku.
"You left this in my car," katanya santai.
Aku langsung mengambilnya. "Oh, thank you!"
"Of course," jawab Sam sambil tersenyum—dan sebelum aku sempat bereaksi, dia mencondongkan tubuh dan mencium pipiku. "See you later, sweetheart."
Vincent membeku. Begitu juga beberapa rekan kerja di divisi yang melihat kejadian itu. Mata mereka membesar, shock.
Aku sendiri masih memproses apa yang baru saja terjadi, ketika tiba-tiba Niko muncul. Begitu melihat Sam berdiri di ruanganku, dia langsung menghampiri dengan ekspresi excited.
"Finally!" serunya, langsung menyalami Sam dan memeluknya. "Congrats, man!"
Sam tertawa kecil. "Thanks, Niko."
Niko kemudian berbalik ke arah semua orang di ruangan dan dengan suara lantang mengumumkan, "Attention, everyone! Our dear Anna is now engaged to Mister Hennessy!"
Aku langsung menutup wajahku dengan kedua tangan, malu setengah mati.
Seisi ruangan terdiam selama beberapa detik sebelum tiba-tiba gemuruh suara mulai terdengar. Beberapa orang terkejut, beberapa lainnya mulai memberi selamat. Tapi yang paling menarik adalah ekspresi beberapa orang yang tampaknya baru sadar bahwa aku tidak backstreet dengan Niko.
"Oh my God, beneran?!"
"Oh my God, she was dating Mister Hennessy this whole time?"
"Sejak kapan? Kok kita gak tahu apa-apa?!"
KAMU SEDANG MEMBACA
Dear Sam
RomanceAnna Wijaya, seorang wanita berusia 27 tahun yang ceria dan bersemangat, baru saja pindah ke sebuah apartemen di Jakarta. Di seberang lorong, tinggal tetangga barunya yang misterius, yang dikenal sebagai Samuel Hennessy. awalnya, Anna hanya mengangg...
