Di meja makan yang hangat dengan cahaya lampu temaram dan aroma makanan menggoda, percakapan berlangsung cukup lancar... setidaknya sampai detik itu. Papa masih asik bercakap-cakap dengan Sam, bernostalgia tentang masa muda mereka, tentang proyek lama yang pernah mereka tangani bersama di luar negeri, dan tentang betapa hidup membawa mereka ke arah yang sama sekali tak terduga.
Aku duduk di antara Mama dan Tata, mencuri pandang ke arah Niko yang duduk berseberangan. Sejak awal makan malam dimulai, Niko terlihat tidak seperti biasanya. Ia jauh lebih diam, jarang ikut tertawa, dan hanya menjawab seperlunya jika ditanya. Bahkan saat Mama atau Tata sesekali menyinggung hal-hal ringan tentang makanan atau pekerjaan, dia hanya menanggapi dengan anggukan atau senyum kecil.
Dan tentu saja, aku tahu kenapa.
Seluruh sandiwara ini terlalu mendadak. Terlalu gila. Dan Niko yang biasanya begitu cakap berbicara, kini terjebak dalam peran mendadak sebagai... tunanganku.
Papaku meletakkan garpunya, menyeka sudut bibirnya dengan serbet makan, lalu menatap Niko dengan sorot penuh minat—dan aku tahu itu artinya masalah.
"Jadi, Niko..." kata Papa, mengangkat alis dengan senyum yang tampak ramah, tapi entah kenapa terasa seperti lampu sorot interogasi FBI.
Niko tersentak kecil, lalu memaksa tersenyum. "Ya, Om...?"
Papa menyenderkan tubuh ke sandaran kursi, melipat tangan di dada. "Kalian belum cerita soal rencana kalian soal tunangan. Sudah ada bayangan mau kapan nikah?"
Aku hampir tersedak air minumku sendiri.
Sementara itu, Niko kelihatan seperti seekor rusa yang disorot lampu mobil di malam hari. Matanya membelalak, mulutnya terbuka, lalu tertutup lagi. "Eh... kami... saya maksudnya... kami masih... diskusiin sih om."
"Oh?" Papa mengangguk pelan, masih menatap tajam. "Tapi berarti udah ada bayangan, dong? Maksudnya, kalau sudah melamar, pasti sudah ada arah ke sana, kan?"
Aku ingin menendang kaki Sam di bawah meja agar dia membantu, tapi Sam hanya duduk tegak, menatap gelas airnya seolah itu cermin ajaib yang bisa menyelamatkan situasi. Tata juga menunduk, menahan tawa yang hampir meledak dari wajahnya.
Lalu Mama ikut menyahut dengan nada manis tapi menggoda, "Dan orang tua Niko gimana? Mereka pasti senang ya, anaknya mau menikah?"
Detik itu, Niko seperti kehabisan oksigen. Dia menoleh sebentar padaku—memohon bantuan, jelas sekali—lalu kembali menatap Mama dan Papa.
"Eh... orang tua saya masih... di luar negeri, Tan. Mereka belum tahu... tentang, eh... saya yang ngelamar Anna," jawabnya dengan senyum canggung yang lebih seperti senyum mau pingsan.
Papa dan Mama menatapnya bersamaan.
Aku ikut menunduk, pura-pura sibuk membetulkan lipatan serbetku.
"Belum tahu?" ulang Papa dengan suara yang lebih datar. "Maksudnya... kamu belum bilang sama orang tuamu kalau kamu melamar Anna?"
Niko cepat-cepat menambahkan, "Belum sempat, Om. Maksud saya, saya mau menyampaikannya langsung, secara pribadi. Saya menunggu mereka kembali ke Jakarta. Jadi saya bisa bilang sendiri... langsung ke mereka."
Keheningan menggantung selama beberapa detik.
Bahkan suara alat makan di meja pun seolah enggan berbunyi.
Tata menunduk dan mengunyah roti dengan sangat pelan, Sam menghela napas nyaris tak terdengar, dan aku ingin sekali menghilang dari permukaan bumi.
Aku tahu, bagi Papa, ini sudah mulai terdengar aneh. Bahkan sangat aneh.
KAMU SEDANG MEMBACA
Dear Sam
RomanceAnna Wijaya, seorang wanita berusia 27 tahun yang ceria dan bersemangat, baru saja pindah ke sebuah apartemen di Jakarta. Di seberang lorong, tinggal tetangga barunya yang misterius, yang dikenal sebagai Samuel Hennessy. awalnya, Anna hanya mengangg...
