lost boy

80 10 1
                                        

Pagi harinya, aku terbangun oleh aroma lezat yang menyeruak dari dapur. Saat aku melangkah ke ruang makan, aku melihat Sam sudah sibuk menyiapkan sarapan di atas meja.

"Sam?" aku memandang heran ke arah makanan-makanan yang terlihat begitu lezat. "Kamu dapet semua bahan-bahan ini dari mana? Di dapurku kan nggak ada apa-apa."

Sam menoleh sambil tersenyum santai. "I noticed that last night. Jadi, pagi-pagi aku lari ke apartemenku. Aku punya banyak stok bahan makanan. So aku bawain ke sini dan masak buat kita semua."

Aku tertegun. "Kamu bener-bener... terlalu baik, Sam. Thank you."

"Anything for you, My lady," jawabnya sambil tersenyum lebar.

Namun, momen santai kami terganggu oleh suara lirih dari ruang tamu. Aku mendengar Jojo memanggil, "Mama..."

Aku segera menuju ke ruang tamu, mendapati Jojo yang baru bangun dengan wajah bingung. Aku berjongkok di depannya, berbicara pelan, "Jojo, kamu ingat? Kamu lagi ada di apartemenku sekarang."

Jojo menatapku dengan mata berkaca-kaca. "Mungkin Papaku sudah datang, tapi kita semua nggak dengar suara belnya..."

Sebelum aku bisa menjawab, Sam berdiri dari kursinya. "Kid, I stayed up all night. I would have heard the bell if someone came."

Jojo menggeleng keras, tidak percaya. "Mungkin Om ketiduran jadi nggak dengar."

Sam mulai kehilangan kesabaran. Dia melipat tangannya dengan ekspresi tegas. "Fine. If you don't believe me, let's go check."

Dengan langkah cepat, Sam berjalan menuju pintu apartemen ayah Jojo, sementara Jojo mengikutinya dengan wajah penuh harapan. Aku menyusul di belakang mereka.

Sam menunjuk ke pintu apartemen itu, tepat ke catatan yang masih tertempel di sana. "Look, Kid. Note-nya masih di sini. That means no one's been here."

Jojo terdiam, ekspresinya berubah murung. Ia menunduk, menatap lantai dengan penuh kekecewaan.

Aku segera berlutut di sampingnya, mengusap lembut punggungnya. "Jojo, nggak apa-apa. Ayo kita sarapan dulu, ya? Setelah itu, kita cari cara buat hubungi ayah atau ibumu. Kita pasti bisa."

Jojo hanya mengangguk kecil, meski wajahnya tetap murung.

Kami semua kembali ke apartemenku. Sam dan aku duduk di meja makan, sementara aku menyajikan makanan untuk Jojo. Aku dan Sam mulai makan, tetapi Jojo hanya duduk diam di kursinya, tidak menyentuh makanannya sama sekali.

Sam akhirnya bersuara, suaranya agak keras. "Hey, kid. Eat your food. You need energy. So, Makan makananmu. Kamu nggak bisa duduk di sana sambil terus-terusan diam."

Namun, Jojo tetap diam, tidak bereaksi sedikit pun. Ia hanya menatap piringnya dengan wajah lesu.

Aku bisa melihat Sam mulai kesal. Dia meletakkan sendoknya dengan bunyi pelan, menatap Jojo dengan ekspresi frustasi. "Anna, this kid... he's so stubborn!"

Aku menenangkan Sam dengan menyentuh lengannya. "Calm down, Sam. He's just... upset. Kita harus sabar sama dia."

Sam mendesah, mencoba menenangkan dirinya. Aku kembali menoleh ke Jojo, berbicara dengan nada selembut mungkin. "Jojo, aku tahu kamu sedih dan khawatir. Tapi kamu harus makan, ya? Aku janji, setelah ini kita semua akan cari jalan keluar bersama."

Jojo akhirnya mengangkat garpunya perlahan, meski raut wajahnya masih penuh dengan kesedihan.

Setelah selesai sarapan, kami bertiga menuju bagian keamanan apartemen. Aku menjelaskan situasi Jojo kepada petugas keamanan dan bertanya apakah mereka memiliki informasi mengenai pemilik unit 13C. Salah satu petugas memeriksa data dan memberikan nomor telepon pemilik sebelumnya.

Aku mencoba menghubungi nomor tersebut, tetapi hanya terdengar suara operator yang mengatakan bahwa nomor itu tidak aktif. Aku menghela napas panjang, merasa buntu.

 Aku menghela napas panjang, merasa buntu

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.


S

am, yang selalu pragmatis, berkata, "Alright, let's not waste more time here. We bring him to police station now."

Aku mengangguk, meskipun ada sedikit keraguan di hatiku. Kami pun pergi ke kantor polisi terdekat.

Setelah mendengar cerita kami, petugas polisi menyarankan agar Jojo dibawa ke tempat penampungan anak hilang sampai orang tuanya ditemukan. Aku melihat Jojo yang langsung tampak ketakutan dan sedih mendengar saran itu. Dia mencengkeram lenganku erat-erat.

Aku menoleh ke Sam, mencari dukungan, tetapi Sam berkata tegas, "I think this is the best option, Anna. Mereka lebih tahu cara menangani hal seperti ini."

Aku terdiam, memandang Jojo yang hampir menangis. Rasanya hatiku tidak tega untuk meninggalkannya. "Sam," kataku pelan. "Aku nggak bisa. Lihat dia. He's scared. Aku mau Jojo tinggal sama aku sampai orang tuanya datang."

Sam menatapku tak percaya. "And what if they don't come back? What then, Anna? Kamu nggak bisa tanggung jawab selamanya."

Aku menggigit bibir, berpikir keras. "Kita pikirkan itu nanti. Yang jelas, untuk sekarang, aku nggak bisa biarin dia pergi ke tempat asing. Dia bisa tinggal sama aku dulu."

Sam menghela napas panjang, tapi dia tidak mengatakan apa-apa lagi. Aku pun memberi tahu polisi bahwa aku akan merawat Jojo di apartemenku sampai orang tuanya datang. Aku meninggalkan alamatku kepada mereka, agar mereka bisa menghubungiku jika ada perkembangan.

Saat akan kembali ke apartemen, aku meminta Sam untuk mampir ke department store terdekat. "We need to buy some clothes for Jojo. Dia nggak bisa terus-terusan pakai baju yang sama," kataku sambil menggandeng tangan Jojo.

"Anna, are you serious? Ini udah terlalu jauh," protes Sam sambil mengikuti kami.

"Come on, Sam. It's just some clothes. He needs it," jawabku sambil tersenyum kecil, mencoba meredakan ketegangan.

Di dalam department store, aku memilih beberapa pakaian untuk Jojo. "Jojo, kamu suka baju yang ini nggak?" tanyaku sambil menunjukkan kaos bergambar dinosaurus.

Jojo mengangguk malu-malu, matanya berbinar.

"Good. Kalau gitu kita ambil yang ini," kataku, memasukkan baju itu ke keranjang.

Sam, yang berdiri di belakangku, menyela dengan nada ketus, "Pick the cheapest ones, Anna. No need to overspend."

Aku menatapnya tajam. "Sam, it's just a few clothes. Stop being so grumpy."

Dia mengangkat tangan seolah menyerah, tapi tetap menggerutu pelan.

Saat kami hampir selesai berbelanja, Jojo tiba-tiba bertanya dengan polos, "Om dan Kak Anna menikah, ya?"

Aku langsung tertawa kikuk, sementara wajah Sam berubah aneh, seperti tidak tahu harus merespons apa. "Belum, Jojo," jawabku sambil mengacak rambutnya lembut. "Kami belum menikah."

Sam hanya mendengus kecil. "Yeah, but i've kissed her many times," katanya setengah bercanda, lalu menatapku sambil tersenyum menggoda.

Aku mendelik padanya. "Sam!" seruku pelan sambil memukul lengannya.

Jojo hanya menatap kami bingung, tapi aku bisa melihat sedikit senyum di wajahnya. Setidaknya, dia sudah mulai merasa lebih nyaman.

Dear SamTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang