Meryl

112 11 1
                                        

Aku menggigit bibir, pikiranku langsung berkelana ke arah yang paling buruk. Selama ini... apakah Sam sudah menikah lagi? Apakah dia memiliki istri yang tinggal di Amerika? Apakah ini alasan dia terlihat gelisah beberapa hari terakhir? Apakah dia khawatir aku akan mengetahui kebenarannya?

Aku merasa dadaku sesak. Pantas saja saat di awal dia terlihat ragu-ragu tentang hubungan kami. Apa selama ini aku hanya... selingan?

Saat aku masih tenggelam dalam pikiranku, suara pintu terbuka.

Aku mendongak, dan di sana Sam berdiri. Ekspresinya santai, seolah tidak ada yang aneh. Namun, begitu dia melihat wajahku, senyum kecilnya memudar.

"Anna?"

Aku tidak langsung menjawab. Aku hanya menatapnya, perasaan campur aduk berkecamuk di dadaku. Aku tahu aku mungkin seharusnya tidak langsung berasumsi, tapi bagaimana bisa aku tetap tenang setelah melihat pesan seperti itu?

Sam melangkah mendekat, mencoba menyentuh lenganku. Namun, aku menepis tangannya dengan cepat.

"What the hell, Sam?" suaraku bergetar, berusaha menahan emosi. "Apa maksudnya ini?"

Sam tampak terkejut melihat reaksiku. Dia melirik ke arah monitornya, lalu menghela napas. "Anna, listen—"

"Nggak, kamu yang listen to me!" potongku tajam. Aku bisa merasakan mataku mulai panas. "Siapa Meryl Hennessy? Since when do you have a wife?"

Sam mengerutkan dahi. "Wait, what? I don't have a wife."

Aku tertawa sinis, mencoba menyembunyikan kepedihanku. "Oh really? Then explain this damn message!" Aku menunjuk layar komputer dengan tajam. "She said she misses you, she can't wait to see you! She literally asked when you're coming home!"

Sam mengusap wajahnya dengan frustasi. "Anna, please calm down—"

"Jangan suruh aku tenang!" aku hampir berteriak. "Aku bodoh banget ya? Aku pikir kamu serius sama aku, but apparently, I'm just someone you play around with while your wife stays in America!"

Sam menatapku dengan mata penuh ketegasan. "Stop it, Anna. Just stop."

Aku terdiam, nafasku memburu.

Sam menghela napas panjang sebelum berbicara lagi, suaranya lebih tenang. "Meryl is my sister."

Aku berkedip. "Apa?"

"Meryl Hennessy is my sister, not my wife," ulangnya dengan jelas.

Aku tetap diam, masih mencoba memproses kata-katanya. "But... the message—"

Sam menatapku lurus-lurus. "She's getting married. Again. And she wants me to come to Boston for her wedding."

Aku merasa wajahku mulai memanas. "Wait... she's your sister?" suaraku melemah.

"Yes, Anna. Meryl is my sister." Sam menghela napas, ekspresinya mencerminkan kelelahan. "Dan aku nggak langsung bilang ke kamu karena..." dia terdiam sebentar, lalu melanjutkan, "karena aku sebenarnya nggak setuju dengan pernikahan mereka."

Aku masih berusaha menenangkan diriku sendiri, tapi kata-katanya membuat rasa ingin tahuku bangkit. "Why?" tanyaku, suaraku lebih tenang sekarang.

Sam berjalan ke kursinya, duduk, dan mengusap wajahnya. "I have a bad feeling about her fiancé. Something about him doesn't sit right with me."

Aku masih berdiri di tempatku, menatapnya dengan penuh tanda tanya. "Kamu pikir dia orang jahat?"

Sam mengangguk pelan. "I don't know. But Meryl is stubborn, just like you." Dia melirikku sekilas dengan sedikit senyum masam. "She thinks I'm just being overprotective."

Dear SamTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang