"—maka mungkin kamu benar. Mungkin kita memang tidak seharusnya bersama."
Hening.
Sam menatapku lama, matanya gelap, penuh sesuatu yang tidak bisa aku baca.
Aku menunggu.
Tapi dia tidak berkata apa-apa.
Dan itu membuat dadaku semakin sesak.
Akhirnya, aku mengangguk pelan, lalu mundur selangkah. "I see," gumamku.
Aku berbalik, berjalan pergi, meninggalkannya di sana.
Tapi sebelum aku benar-benar menjauh, aku mendengar suara Sam, nyaris seperti bisikan.
"Anna..."
Aku berhenti sejenak, berharap dia akan mengatakan sesuatu yang bisa menghentikanku.
Tapi tidak ada yang keluar dari mulutnya.
Dan aku pun melangkah pergi.
Aku berjalan menuju lift dengan langkah berat, dada terasa sesak. Tanganku mengepal, berusaha menahan rasa sakit yang mulai menjalar. Sam tidak mencoba menghentikanku. Dia hanya berdiri di sana, membiarkanku pergi.
Saat pintu lift terbuka, aku masuk dan menekan tombol lantai apartemenku. Begitu pintu tertutup, aku mengembuskan napas panjang dan menyandarkan kepala ke dinding lift. Aku menutup mata, mencoba menenangkan diri, tapi bayangan Sam terus muncul di kepalaku.
Aku ingin marah. Aku ingin berteriak. Aku ingin berbalik dan mengguncangnya, memaksanya untuk berhenti berpikir terlalu jauh ke depan dan hanya melihat apa yang ada di depan matanya sekarang—aku.
Tapi dia tidak melakukannya.
Dia memilih untuk tetap diam.
Saat aku sampai di apartemen, aku melempar tas ke sofa dan langsung masuk ke kamar. Aku melepas sepatu dengan kasar, lalu berjalan ke kamar mandi. Aku menyalakan keran, membasuh wajahku dengan air dingin, berharap bisa menenangkan emosiku.
Aku menatap bayanganku di cermin. Mataku merah, napasku masih tersengal.
Aku ingin menangis, tapi aku tidak bisa.
Aku duduk di tepi tempat tidur, menatap kosong ke arah jendela apartemenku yang memperlihatkan pemandangan kota di malam hari. Lampu-lampu kendaraan berkelip di kejauhan, tetapi pikiranku sama sekali tidak bisa fokus pada apa pun selain memikirkan kata-kata yang keluar dari mulut Sam.
"Ten years from now, where do you see yourself?"
"That guy."
"Dia seusiamu. Dia bisa memberimu kehidupan yang lebih... normal."
Sam selalu memikirkan segalanya dengan cara yang terlalu logis. Dia terlalu takut untuk mengambil risiko, untuk mempercayai bahwa aku tahu apa yang aku inginkan.
Aku menghela napas, merasa frustrasi dan lelah. What the hell is wrong with him? Hanya karena dia melihatku tertawa dengan Vincent, dia langsung berpikir aku lebih baik bersama pria lain? Bagaimana bisa dia begitu cepat menyerah padaku? Padahal, kalau aku melihat pasangan lain di luar sana—pria seusia Sam yang memiliki kekasih seusiaku—mereka tampak bahagia. Mereka tidak akan seperti Sam. Mereka akan merasa bangga, bukan malah mendorong kekasih mereka ke pelukan orang lain.
Kenapa Sam tidak bisa melihatku seperti Al Pacino melihat Noor Alfallah, atau Michael Douglas melihat Catherine atau George Clooney melihat Amal Clooney? Atau bagaimana pria seumurannya memiliki kekasih yang kebetulan umurnya terpaut lebih muda dari umur mereka.
Aku membanting punggungku ke kasur, menatap langit-langit.
"Apa aku yang salah?" gumamku pelan.
Aku mencoba mengingat setiap detail selama beberapa minggu terakhir. Ya, aku memang lebih sering bersama Vincent sejak Sam pergi ke Boston. Tapi apakah itu berarti aku selingkuh? Tidak. Aku hanya melakukan pekerjaanku. Vincent atasku, dan kebetulan dia baik. Itu saja. Lagipula, aku tidak pernah melihat Vincent sebagai sesuatu yang lebih dari teman.
KAMU SEDANG MEMBACA
Dear Sam
Storie d'amoreAnna Wijaya, seorang wanita berusia 27 tahun yang ceria dan bersemangat, baru saja pindah ke sebuah apartemen di Jakarta. Di seberang lorong, tinggal tetangga barunya yang misterius, yang dikenal sebagai Samuel Hennessy. awalnya, Anna hanya mengangg...
