Best friends

60 8 1
                                        

Sore itu langit Jakarta sedikit mendung, angin menghembuskan udara hangat khas kota metropolitan. Aku, Sam, Tata, dan Niko melangkah ke dalam restoran yang telah dipesan sebelumnya oleh Niko.

Suasana restoran cukup elegan, dengan cahaya temaram yang memantul dari kaca-kaca wine dan deretan lampu gantung bergaya modern-klasik. Perutku terasa mual karena gugup, jantungku berdetak tidak karuan. Ini adalah kali pertama orang tuaku akan bertemu dengan Sam—dan walaupun aku sudah membayangkan berbagai skenario... aku tidak pernah memprediksi yang akan terjadi malam itu.

Aku duduk di kursiku, tepat di samping Sam, sementara Tata duduk di seberang, berdampingan dengan Niko yang tampak jauh lebih tenang dariku.

Tata mencondongkan tubuh ke arahku sambil menyeringai. "You look like you're about to be interrogated by the FBI," bisiknya sambil tertawa kecil. "Can you imagine their faces? Your mom and dad are gonna be more shocked knowing that your fiancé is my dad," ujarnya sambil menahan tawa.

Aku mendelik padanya. "Tata, stop. Seriously."

Niko duduk di seberang kami, tenang-tenang saja sambil membolak-balik menu walau dia pasti bisa merasakan ketegangan di udara.

Ponselku bergetar tiba-tiba. Nama "Papa" muncul di layar.

"Oh!" Aku langsung berdiri dari kursiku, "It's my dad."

Mataku menyapu seluruh restoran, dan tak butuh waktu lama sampai aku melihat sosok Papa—dengan kemeja biru muda dan senyum hangat, berdiri di dekat pintu bersama Mama yang mengenakan scarf warna marun kesayangannya. Aku melangkah cepat menghampiri mereka.

"Papa! Mama!" seruku sambil memeluk mereka erat.

"Kabar kamu gimana Sayang, kita kangen banget sama kamu" kata Mama sambil membelai rambutku. Papa hanya menepuk punggungku sambil berkata, "You look thinner. Kamu makan cukup nggak?"

Aku tertawa gugup. "I'm fine, Pa. Ma... sini, ayo aku antar ke meja kita."

Aku menggandeng Mama dan Papa menuju meja kami. Setiap langkah terasa seperti sedang menapaki tambang yang bisa meledak kapan saja.

Dan benar saja...

Saat kami mendekat, Sam berdiri menyambut mereka. Namun sebelum aku bisa mengenalkan, Papa menatap Sam dengan penuh kejutan yang justru berbeda dari dugaanku.

"Tom?" seru Papa, penuh semangat. "Long time no see! I didn't expect you to come too!"

Waktu seperti berhenti sejenak. Tatapan Sam membeku. Matanya bertaut dengan milik Papa, dan untuk sesaat aku bisa melihat ada semacam keterkejutan yang sama kuatnya di wajahnya. Tata dan Niko juga langsung menatap ke arahku, bingung. Aku sendiri... benar-benar blank.

Aku membeku.

Tata dan Niko yang duduk di meja tampak sama terkejutnya. Kami semua saling berpandangan dengan ekspresi bingung dan panik.

"Tom...?" aku berbisik pada diriku sendiri.

Nama itu familiar. Sangat familiar. Otakku berpacu cepat. Aku ingat nama itu—Papa pernah menyebutnya saat aku pertama kali pindah ke Jakarta. "Om Tom yang bantu cari apartemen buat kamu," katanya waktu itu. Dan sekarang... "Tom" itu adalah Sam?

Dunia rasanya seperti diputar balik. Jadi Sam adalah... sahabat Papa?

Aku menatap Sam. Wajahnya tenang, tapi matanya menunjukkan kilasan kegugupan yang dia coba sembunyikan.

"Yes, long time no see, Richard," jawab Sam akhirnya sambil tersenyum tenang. "Well, let's sit first."

Kami semua duduk, perlahan mencoba menenangkan situasi yang mendadak berubah jadi lebih absurd dari drama TV manapun.

Dear SamTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang