get along

109 14 2
                                        

Berminggu-minggu berlalu, dan sekarang aku mulai terbiasa melihat Sam di kantor tanpa merasa ada beban emosional yang dulu selalu menghantuiku. Kami tidak lagi saling menghindar ataupun saling canggung saat bertemu. Hubungan kami sekarang... sangat normal. Tidak ada teguran dingin, tapi juga tidak ada kehangatan yang dulu biasa ada.

Setiap kali melewatinya di kantor, aku hanya mengangguk singkat, dan dia pun melakukan hal yang sama. Tidak ada percakapan panjang, tidak ada sarkasme khasnya, tidak ada momen-momen di mana dia dengan santai menggodaku tentang apa pun yang sedang terjadi di sekitar kami. Rasanya aneh, tapi aku mulai menerima bahwa mungkin memang seperti inilah akhirnya hubungan kami.

Namun, ada satu hal yang terus menggangguku.

Selama berminggu-minggu ini, aku tidak pernah lagi melihat Sam di apartemen. Tidak di lorong, tidak di lift, tidak di tempat parkir. Padahal dulu, entah kenapa, aku selalu saja bertemu dengannya, meskipun hanya sekilas.

Aku mulai bertanya-tanya, apa mungkin dia sudah pindah?

Pikiran itu seharusnya tidak mengusik perasaanku. Aku tidak ingin mengakuinya, tapi tetap saja ada sesuatu yang terasa kosong. Jika benar Sam sudah pindah... kenapa aku tidak tahu? Kenapa dia tidak bilang apa pun padaku? Atau memang dia tidak merasa perlu untuk memberitahuku?

Aku menggelengkan kepala, mencoba menepis pikiran itu.

Mungkin ini lebih baik. Mungkin ini cara terbaik untuk benar-benar melanjutkan hidup tanpa terus-menerus diingatkan akan hubungan yang sudah berakhir. Mungkin sekarang, aku harus fokus pada diriku sendiri.

Saat aku masih tenggelam dalam pikiranku tentang Sam, Vincent tiba-tiba muncul di depan mejaku dengan senyumnya yang khas.

"Lunch?" tanyanya singkat, seperti biasa, tanpa basa-basi.

Aku mengangguk. "Sure."

Kami berjalan bersama ke restoran dekat kantor, restoran yang cukup sering kami datangi. Vincent memesan sesuatu yang berbeda kali ini—mungkin mencoba eksplorasi rasa baru. Aku sendiri tetap memilih menu favoritku.

Namun, saat makanan kami datang dan aku mulai menikmati makananku, aku sadar bahwa Vincent terlihat kurang antusias dengan pesanannya. Dia mengaduk-aduk makanannya dengan garpu, menatapnya dengan raut bingung seakan sedang menilai apakah makanan itu layak dimakan atau tidak.

Aku menatapnya penasaran. "Not good?" tanyaku.

Vincent menghela napas kecil. "I don't know. It's... weird?" Dia akhirnya mengambil sesendok makanan itu, memasukkannya ke mulut, lalu langsung meringis. "Okay, definitely weird."

Aku tertawa melihat ekspresinya yang begitu jujur. "Seabsurd itu rasanya?"

Alih-alih menjawab, Vincent tiba-tiba menyendokkan makanannya dan mengarahkannya padaku. "Here, try it"

Aku sempat ragu, tapi akhirnya menerima suapan dari Vincent. Begitu makanan itu menyentuh lidahku, aku langsung mengerutkan kening. Rasanya benar-benar aneh—campuran bumbu yang tidak menyatu dengan baik, terlalu asin di satu bagian dan terlalu hambar di bagian lainnya.

"Oh wow," aku mengomentari, meneguk air putih untuk menghilangkan rasa aneh itu.

Aku menggeleng-gelengkan kepala. "Seriously, even I can cook better than this."

Vincent mengangkat alisnya, tampak tertarik. "Oh? You can cook?"

Aku menyilangkan tangan di dadaku dengan percaya diri. "Of course. Much better than whatever this is."

"Oh yeah? Then Prove it," tantangnya dengan senyum nakal.

Aku mengangkat alis, menatapnya dengan tantangan. "Fine. Come to my place tonight. I'll cook something way better than this."

Dear SamTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang