"Hey, kid. Anak laki-laki harus kuat. Coba angkat kantung ini." Ujar Sam pada Jojo Saat tiba di apartemen dengan barang belanjaan, dengan nada bercanda, menunjuk salah satu kantung belanjaan.
Jojo dengan bersemangat mengangkat kantung belanjaan itu, memperlihatkan otot kecilnya sambil berkata, "Aku kuat, lihat ini!"
Aku tertawa kecil melihat mereka. "Kamu memang kuat, Jo," kataku sambil mengusap rambutnya.
Hari ini adalah hari yang istimewa. Jojo tampak lebih ceria dari biasanya karena ayahnya berjanji akan menjemputnya malam ini. Kami memutuskan untuk membuat makan malam perpisahan sebagai kenangan terakhir sebelum Jojo pergi.
Ayah Jojo menjelaskan bahwa dia baru tahu bahwa Jojo mendatangi apartemen lamanya setelah dia menghubungi ibu Jojo untuk mengajak Jojo bertamasya, Namun Ibu Jojo nampak terkejut dia pikir selama ini Jojo sudah bersamanya karna mengira Ayah Jojo masih tinggal di apartemen itu.
Ayah Jojo bercerita dia mendapatkan kabar tentang Jojo dan juga nomer telponku ketika mencoba menghubungi nomer pengurus gedung apartemen kami, menanyakan prihal Jojo, dan syukurlah pengurus gedung mengetahui soal Jojo yang tinggal di apartemenku.
Di antara kegembiraan dan rasa haru, aku tak bisa mengabaikan perasaan sedih yang perlahan mengendap di hatiku, karena aku tahu malam ini akan menjadi perpisahan kami.
Setelah sampai di apartemen, Sam langsung masuk ke dapur untuk mulai memasak. Sejak hubungan Sam dan Jojo menjadi lebih dekat setelah kejadian Jojo menghilang, aku sering melihat mereka melakukan berbagai hal bersama. Bahkan hari ini, sebelum belanja, mereka sempat menggambar dan mewarnai bersama di ruang tamu.
Sam memutuskan untuk membuat makan malam spesial. Ia memanggang steak yang terlihat sempurna, dilengkapi dengan kentang panggang dan sayuran rebus. Sementara itu, aku dan Jojo menata meja makan.
Jojo tampak sangat senang membantu, meskipun sesekali ia melirik ke arah pintu, berharap ayahnya segera datang.
Saat makan malam dimulai, Jojo terlihat lebih ceria dari biasanya. Namun, Yang membuatku terkejut, Jojo memakan sayuran dengan lahap dia tidak mengeluh sama sekali tentang sayuran yang biasanya dia hindari. Aku menoleh ke arah Sam, yang tersenyum bangga sambil melirik Jojo.
Setelah selesai makan, kami semua pindah ke ruang tamu untuk menunggu kedatangan ayah Jojo.
Aku duduk di sofa bersama Jojo, mendengarkannya bercerita tentang apa yang akan dia lakukan setelah bertemu kembali dengan ayahnya sambil menggambar dengan tenik menggambar yang di ajarkan Sam. Wajah kecilnya begitu ceria, dan aku merasa lega dia akhirnya akan pulang ke rumah.
Tiba-tiba, Sam mengeluarkan sebuah paper bag dari belakang sofa. Ia menyerahkannya kepada Jojo sambil berkata, "Take this, kid."
Jojo membuka paper bag itu dengan penuh antusias. Di dalamnya terdapat berbagai alat gambar seperti pensil warna, crayon, dan buku gambar. Wajahnya langsung bersinar bahagia. "Senuanya untukku Om?" tanyanya.
Sam tersenyum tipis dan menjawab, "Of course, make something good with those. Ok?"
Dan tidak itu saja, Sam mengeluarkan dua kotak kecil berisi kartu nama—satu miliknya dan satu milikku. Ia menyerahkannya pada Jojo dan berkata, "Kalau ada yang nggak beres, atau kamu butuh sesuatu, hubungi nomor yang ada di sini. Kami akan datang."
Jojo mengangguk dengan penuh keseriusan, dan menyimpan kartu nama kami di ransel kecilnya dengan hati-hati.
Beberapa saat kemudian, bel apartemen berbunyi. Jojo langsung berdiri dan berlari ke arah pintu. Aku membukanya, dan di sana berdiri seorang pria yang kutebak adalah ayah Jojo.
Pria itu tersenyum lega begitu melihat Jojo di balik pintu, lalu Jojo memeluknya erat sambil berkata, "Papa! Kenapa lama banget? Aku kangen banget sama Papa!"
Ayah Jojo memeluknya kembali dengan erat, matanya terlihat berkaca-kaca. "Papa minta maaf, Nak. Papa nggak tahu kamu ada di sini."
Setelah memeluk Jojo, ayahnya menatapku dengan penuh rasa terima kasih.
"Saya benar-benar berterima kasih karena Anda sudah menjaga Jonathan selama ini. Saya nggak tahu gimana cara membalas budi Anda." Ujar Ayah Jojo menyalami tanganku dan Sam.
Aku tersenyum dan menjawab, "Jojo anak yang baik. Kami senang bisa merawatnya selama ini."
Ayah Jojo mengajak Jojo untuk pergi, tapi sebelum mereka melangkah keluar, Sam memanggilnya. "Hey, kid," katanya.
Jojo berbalik dan menatap Sam. "Kamu belum bilang apa-apa ke Anna." ujar Sam pada Jojo.
Jojo menatapku, lalu berlari ke arahku. Ia memelukku erat, begitu erat hingga aku merasa air mataku mulai menggenang. "Terima kasih, Kak Anna," katanya dengan suara pelan.
Aku membalas pelukannya. "Kamu harus jadi anak yang kuat dan baik, ya, Jo. Jangan lupa sama kami di sini."
Jojo mengangguk, lalu beralih ke Sam. Ia memeluk Sam dengan erat, sesuatu yang tampaknya tidak diharapkan Sam. Wajah Sam terlihat kaku sejenak, tapi kemudian ia mengangkat tangannya dan menepuk kepala Jojo dengan lembut.
"Be good, kid," kata Sam dengan suara yang sedikit serak.
Begitu pintu tertutup, suasana apartemen terasa hening. Aku berdiri di tempatku, menatap pintu yang baru saja tertutup, dan air mata mulai mengalir di pipiku. Aku mencoba menghapusnya, tapi tangisku semakin menjadi.
Sam berjalan mendekat dan memelukku dengan erat. "Hey, it's okay," katanya pelan. "You did a great job." ujarnya sambil memgecup keningku dan mengusap rambutku dengan lembut.
KAMU SEDANG MEMBACA
Dear Sam
RomantizmAnna Wijaya, seorang wanita berusia 27 tahun yang ceria dan bersemangat, baru saja pindah ke sebuah apartemen di Jakarta. Di seberang lorong, tinggal tetangga barunya yang misterius, yang dikenal sebagai Samuel Hennessy. awalnya, Anna hanya mengangg...
