her first love

130 14 2
                                        

Perasaan campur aduk melintas begitu saja—kaget, marah, bingung. "Sean?"

Sean adalah mantan pacarku, bisa di bilang sebelumnya dia adalah duniaku. Kami sempat berhubungan selama dua tahun dan hampir merencankan pernikahan, tepat sebelum aku mengetahui bahwa dia sudah memiliki anak dan istri.

Dan Sean jugalah yang menjadi alasanku untuk pindah ke Jakarta, untuk memulai kehidupan baru, agar aku bisa melupakannya, Tapi kenapa sekarang dia datang kembali?

Sam berdiri di sampingku, tatapannya tajam ke arah Sean. "Who's this?" tanyanya dengan nada dingin.

Aku menelan ludah, mencoba menguasai diri. "Dia Sean... mantan pacarku."

Sean yang melihat Sam berkata "You must be Anna uncle? excuse me Mister...?"

"Samuel, Samuel Hennesy. And i'm her boyfriend" ujar Sam

Sean nampak terkejut dengan ucapan Sam namun Sean nampak tak mengambil pusing ucapan Sam "Nice to meet you Mr Hennesy, i'm Sean" ujar Sean menyalami tangan Sam.

"So, Anna... can we talk please?" pinta Sean tanpa memperdulikan ucapan Sam sebelumnya.

Aku merasa jantungku berdebar lebih cepat, tetapi sebelum aku sempat menjawab, Sam menyela. "I don't think she's interested in talking to you. Especially not now." 

 Sean mengangkat alis, lalu melihatku seolah meminta konfirmasi. 

Aku menarik napas panjang, mencoba meredakan ketegangan yang terasa semakin tebal.

"Sean, aku nggak tahu kenapa kamu ke sini, tapi ini bukan waktu yang tepat," kataku akhirnya, suaraku terdengar lebih tegas dari yang kukira. 

 Namun, Sean tidak bergeming. "Please, Anna. Just five minutes. Aku nggak akan lama."

Aku melirik Sam, yang wajahnya jelas menunjukkan ketidak setujuan. Namun Sean masih bersikeras, 

Dan akhirnya Sam mengajak Sean masuk kedalam untuk berbicara di ruang tamu.

Ketegangan di ruang tamu terasa seperti bom waktu yang hampir meledak. Aku duduk di sofa, sementara Sam dan Sean duduk saling berhadapan.

Wajah Sam terlihat seperti batu—dingin, tidak terbaca, dan penuh waspada. Sean, di sisi lain, tampak santai tapi dengan tatapan yang sarat makna.

Sean memulai. "Anna, aku ke sini karena aku mau bicara serius." Dia menarik napas dalam, kemudian melanjutkan, "Putusan perceraianku hampir selesai. Aku mau memperbaiki semuanya. Aku mau kita kembali sama-sama seperti dulu. Bahkan..."

Dia berhenti sejenak, seperti menimbang-nimbang kata-katanya. "I wanna marry you."

Wajahku memucat mendengar itu. Sebelum aku bisa merespons, suara tawa Sam yang sarkastik memenuhi ruangan.

"Marry her?" Sam berdiri, menatap Sean dengan tatapan dingin yang membuat ruangan terasa lebih kecil. "You must be joking."

Sean mendongak, mencoba tetap tenang. "Aku nggak bercanda."

Sam mengangguk kecil, seolah mengerti, lalu berkata, "You've got the wrong woman to propose to." Dengan nada rendah tapi tajam, Sam menambahkan, "She's absolutely gonna reject your intention"

"Shut up, old man!" Bentak Sean.

Kemudian, tanpa aba-aba sebelum aku sempat menghentikannya, Sam melayangkan pukulan keras ke rahang Sean.

"Sam!" Aku berteriak, berdiri dengan panik.

Sean, yang awalnya tampak terkejut, bangkit dari sofa dan membalas pukulan itu dengan tinjunya. Suara keras tinju yang mengenai dada Sam membuatku mundur beberapa langkah.

Dear SamTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang