Malam itu, udara Jakarta terasa hangat meskipun jendela apartemenku tertutup rapat. Suara kipas angin bergabung dengan detak jam dinding yang pelan, menandai waktu yang terus bergulir. Aku dan Tata sudah berganti baju, mengenakan piyama dan rebahan di ranjangku setelah pulang dari makan malam yang—sejujurnya—masih terasa seperti mimpi aneh yang nyata. Tata... ternyata adalah putri Sam. Dan Sam... adalah tunanganku.
Tata membaringkan kepalanya di atas bantal tipis yang aku siapkan khusus untuk tamu, tubuhnya miring menghadapku. Tapi aku hanya menatap langit-langit. Nafasku keluar pelan, berat, dan seolah menyimpan sejuta kecemasan.
"Aku tahu ekspresi itu," kata Tata tiba-tiba, suaranya pelan namun terdengar jelas di tengah keheningan. "You're overthinking again, aren't you?"
Aku meliriknya sebentar, lalu tertawa kecil sebelum menoleh ke atas lagi. "Gimana bisa kamu tahu?"
"Because I know you. That face of yours? Classic Anna-panik-mode," ucapnya sambil tertawa pelan. "Kamu kelihatan kayak abis dikejar deadline skripsi."
Aku menghela napas sekali lagi. "Do you think... I'm doing the right thing?"
Tata langsung mengangkat tubuhnya sedikit, menatapku dengan ekspresi serius. "Are you... regretting saying yes to my dad?"
"No! Of course not!" sahutku cepat, bahkan duduk saking paniknya. "Tata, aku mencintai Sam. I love him so much... Lebih dari yang aku kira mungkin."
Tata tersenyum, lalu perlahan ikut duduk. "Then what's bothering you?"
Aku menunduk, menatap jemariku yang bermain-main dengan ujung selimut. "It's my parents... Aku belum benar-benar jujur ke mereka tentang siapa Sam sebenarnya. I mean, mereka tahu aku bertunangan. Tapi mereka belum tahu siapa calon suamiku... bahwa dia... ya, seumuran mereka."
Tata menatapku dalam diam beberapa detik sebelum akhirnya angkat bicara, "You're scared they'll judge you. Or worse... that they'll judge him."
Aku mengangguk perlahan. "I mean, look at us. There's a twenty-five-year age gap. He's 52. Aku 27. Dan sekarang, tunanganku... adalah ayah dari sahabatku sendiri. That's... a lot to digest."
Tata tertawa kecil, lebih kepada geleng-geleng tidak percaya. "It is a lot. Tapi kamu tahu apa yang aneh? Aku enggak ngerasa aneh sama sekali."
Aku menoleh menatapnya, agak bingung.
Tata melanjutkan, "I mean, yeah, kaget banget—waktu tahu Sam yang kamu maksud is my dad and also your fiancé. Tapi, Anna... seumur hidupku, I've never seen my dad look at someone the way he looks at you. Bukan cuma karena kamu cantik, atau muda, atau penuh energi. Tapi karena kamu kasih dia sesuatu yang dia enggak punya lagi sejak my mom passed away."
Air mataku hampir menetes saat mendengar kalimat itu. "What's that?"
Tata tersenyum hangat. "Hope. Joy. Life."
Aku menutup mulutku, menahan isak yang mulai muncul tiba-tiba.
"And I've known you long enough to know," lanjut Tata, "that kamu bukan orang yang main-main. Kamu sayang dia dengan tulus, dan aku lihat itu dari cara kamu melihat dia. Honestly? Aku lebih kaget kalau kamu jatuh cinta sama cowok seumuran kamu yang toxic daripada kamu jatuh cinta sama ayahku yang dewasa, sabar, and weirdly romantic."
Aku tertawa di sela air mata. "He is romantic in the weirdest way."
Tata terkekeh. "Dan dia happy banget sekarang. You gave him that. So, who cares about age?"
Aku mengangguk perlahan, suara di dadaku sedikit lebih ringan. Tapi aku tetap gelisah. "But... what if my parents don't see it that way? What if they think I'm... lost, blinded by love, or worse... what if they think Sam's taking advantage of me?"
KAMU SEDANG MEMBACA
Dear Sam
Storie d'amoreAnna Wijaya, seorang wanita berusia 27 tahun yang ceria dan bersemangat, baru saja pindah ke sebuah apartemen di Jakarta. Di seberang lorong, tinggal tetangga barunya yang misterius, yang dikenal sebagai Samuel Hennessy. awalnya, Anna hanya mengangg...
