Kami telah memperbarui Pedoman Konten kami.
Tinjau pedoman terbaru untuk terus berbagi cerita dengan aman.

59. Cheating

83 12 4
                                        

Special untuk pembaca my love yang selalu nunggu Erys-Eros dan Nara-Rajen tersayang.

Happy Reading

"Tumben?"

Erys mendecakkan lidahnya pada Kaivan yang duduk di depannya lalu melirik sekilas Eros yang duduk di kejauhan. Segera Erys memalingkan wajahnya.

"Marah, gue bujuk gak bisa jadi gue gantian marah."

Eros marah dan ngambek.

Ceritanya sangat panjang.

Jadi begini, hari minggu Erys yang tenang kedatangan Aidan sebagai tamu. Aidan datang dengan ringisan tidak enak, belum membicarakan keinginannya sampai Erys bertanya.

"Kenapa Ai?"

Aidan tampak mengelus kepalanya yang tidak gatal, "kamu punya teman?"

Pertanyaan yang aneh. "Punya dong, kenapa emang?" Erys bertanya dengan penasaran.

Aidan pertama duduk menghadap Erys lalu berbicara dengan nada pelan, "boleh aku minta tolong salah satu teman kamu jadi pacar bohongan?"

Erys membelalakkan matanya, "kenapa butuh pacar bohongan segala?"

Awalnya Aidan tidak mau menjawab tapi karena Erys terus mendesak, Aidan bercerita jika dia bertemu kembali dengan temannya saat kecil dulu yang selalu menempel pada Aidan sampai pada tahap obsesi dan Erys tahu dia.

"Dia balik Indonesia?" Erys terkejut. Dia jadi ingat pernah didorong kasar perempuan itu karena Aidan selalu bermain bersamanya dan Kaivan. Dendamnya masih membara karena Erys kecil sering dibully. Hanya beberapa bulan karena perempuan itu akhirnya pindah ke Amerika. "Bukannya malah bahaya nanti temenku?"

Aidan juga menceritakan wanita itu sudah menikah sekarang tetapi tampaknya obsesinya masih ada. "Her husband said dia janji bakal berhenti if she knew I had partner or in relationship."

"Aku nggak yakin dia bakal percaya gitu aja." Erys menopang dagunya. Mereka semua sudah cukup dewasa untuk tahu mana yang pura-pura mana yang asli. Dan apalagi dengan orang asing. "Kecuali—" Erys menatap Aidan dengan tatapan serius.

"Aku mau cerita tapi jangan ketawa." Erys duduk tegak sembari menatap Aidan. Saat Aidan menganggukkan kepalanya, Erys mulai bercerita. "Aku pernah bilang ke dia. Aku bakal jadi istri Aidan nanti kalau udah dewasa. Aku bilang gitu dengan pede di hadapan dia, Ai ingat waktu aku didorong ke tanah sampai nangis itu kan?"

Aidan menahan tawa sambil mengangguk.

"Aku bilang jangan ketawa!" Erys cemberut, malas berbicara lagi.

"Oke. Ini nggak ketawa, so?" Aidan menoel tangan Erys pelan.

"Oke." Erys kembali menghadap Aidan. "Aku gak yakin dia bakal percaya kalau kamu bawa orang yang dia nggak kenal. Karena dia pastinya kenal sama aku, kenapa nggak aku aja?" Erys menawarkam diri untuk membantu.

Aidan lalu terbahak, "Taruhannya aku dibunuh Kak Eros? Nggak dulu." Katanya sembari menggelengkan kepalanya.

"Kalau nggak ada yang bilang ya gak tahu. Lagipula bohongan, kita semua juga saling kenal. Aku juga pengin tahu gimana ekspresi dia kalau tahu orangnya aku." Erys pendendam, dia rasanya akan puas sekali jika orang yang membuat lututnya berdarah dulu merasa malu.

Dengan dendam itu, Erys membantu Aidan. Rasa puasnya terpenuhi dan Eros tidak tahu. Sampai beberapa minggu tepatnya kemarin dia tidak sengaja bertemu dengan Siya—nama wanita itu— di mall saat dia berjalan jalan bersama Eros.

"Oh kamu selingkuhin Aidan? Aidan tahu kamu selingkuh."

Erys yang sedang menunggu Eros membelikannya ice cream kontan tercengang saat rambutnya ditarik dari belakang. "Shit."

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: a day ago ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

Fall ApartCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang