Sehari setelah mereka ehem, resmi menjadi pacar garis miring pasangan. Erys sudah tidak bisa menghitung berapa banyak Eros menatapi cincin di jari manisnya dengan senyuman. Mungkin bisa lima kali dalam satu menit alias sangat sering.
Erys tidak menyangka juga jika Eros punya sifat kekanak-kanakan seperti tiba-tiba mengangkat tangan Erys di depan wajah Kaivan persis saat mereka sarapan. "Ur future sister in law." Kata Eros dengan kelewat lempeng.
Dan tahu apa reaksi Kaivan? Dia bersorak tapi juga meminta pajak jadian. Eros yang memang gampang mengeluarkan uang, biasa saja saat Kaivan meminta handphone baru padahal seingat Erys kemarin baru saja Kaivan dibelikan Papa Rajendra. Tapi Kaivan banyak ngelesnya, dua handphone lebih baik katanya.
Begitu saja Kaivan langsung pergi sendiri, meninggalkan mereka pasangan baru yang sedang lovey dovey.
"Kamu mau makan apalagi, Sayang?"
Oh, Erys lupa. Sekarang Eros akan memanggilnya sayang, kadang hanya memanggil sana tanpa membutuhkan balasan Erys.
"Sayang."
"Sayang."
Erys berpikir sepuluh detik saja Eros sudah berkesempatan memanggilnya sayang. Aduh, melihat wajah Eros yang kelihatan sangat bahagia itu membuat Erys memerah. Karena Eros sangat tampan.
"Ih aku malu tau!" Erys memukul pelan lengan Eros, lalu diam-diam bertahan lama di bisepnya. "Wow, aku baru tahu ini keras banget." Katanya tiba-tiba sambil memencet bisep Eros.
Eros yang bisepnya tiba-tiba dipencet melonjak kaget karena ini pertama kalinya Erys bertindak seberani ini secara terang-terangan. Kalau tahu Erys akan semenakjubkan itu saat mereka sudah berlabel pasangan, Eros sudah memintanya dari dulu. Memang dasarnya dia juga nol pengalaman percintaan.
"Kamu suka?" Eros bertanya karena merasakan beberapa kali lagi Erys memenceti bisepnya.
"Suka."
Kalau ditanya, apa bagian tubuh lawan jenisnya yang paling menarik. Otot bisep ada dalam lima besarnya. Menurut Erys, milik Eros sangat pas, tidak terlalu besar tapi juga tidak kecil. Pas untuk dipeluk juga. "Gini aja terus okay? Aku suka Kak Eros yang berisi, kelihatan seger." Segarnya seperti buah melon yang baru dipetik.
Dipikir-pikir, Eros akan tampak pulen jika mereka dalam keadaan baik. Kalau mereka bertengkar atau Erys berulah, Eros cepat sekali kurusnya. Kaivan bilang, Eros cenderung seperti buku yang terbuka jika sudah sedih. Lebih mudah dibaca daripada saat dalam keadaan baik.
Dan kata Kaivan juga, semua itu tergantung pada Erys. Alasan Eros sedih tidak jauh-jauh dari dirinya begitupun alasan Eros bahagia. Intinya adalah, semua bergantung dari bagaimana Erys.
Erys juga sadar itu setelah mengamati beberapa kali hubungan ini naik turun, dia juga akhirnya bisa mengangguk dengan apa yang Kaivan katakan. Erys juga sadar—mungkin Eros juga, jika perilaku itu tidak baik. Tetapi, seperti apa kata Om Ale juga, semuanya butuh waktu untuk berproses. Memang akan menyakitkan bukan hanya untuk Eros tetapi Erys juga sebagai objek kasih sayang Eros, dia juga harus tahu kapan harus maju, mundur, atau tetap pada tempatnya.
Erys tidak pernah percaya seseorang bisa mengubah orang lain, semua itu juga sebagian besar bergantung pada orang itu sendiri. Maka dari itu Erys tidak terburu-buru. Lagipula, dia tidak tahu apa yang terjadi kedepannya. Dia hanya bisa 'menenangkan' Eros saja.
Keduanya bergandengan tangan di sepanjang pesisir pantai, menikmati hembusan angin yang jarang dia temukan di kota.
"Aku pengin makan es tung-tung, ada nggak ya?" Erys menatap sekelilingnya. "Ice cream aja juga boleh sih."
KAMU SEDANG MEMBACA
Fall Apart
RomanceSequel of Fall in Love Eros Kalnandra Nararya Adam mengenal Erys Serapina Adam bahkan sejak Erys masih dalam kandungan tantenya. Nama Erys pun pilihan Eros, mereka sedekat nadi dan tidak terpisahkan walau bahkan oleh jarak umur yang terpaut jauh. Ba...
