Ada satu waktu dimana Erys merasa energinya sangat minim, dia malas bertemu siapapun hanya ingin berdiam diri di kamar. Entah membaca, menonton film bahkan cuma tiduran tanpa arah. Dia selalu merasa dirinya extrovert tapi juga bisa berdiam diri saja di kamar tanpa berkomunikasi dengan siapapun. Dan ternyata dia ambivert.
Kali ini pun Erys juga merasa energinya minim tapi semangatnya luar biasa membara. Ingin keluar dari zona nyaman dan memanfaatkan masa mudanya yang masih fresh untuk berpikir kritis. Erys memutuskan ikut demo bersama banyak mahasiswa.
Tentu tanpa memberitahu orang tua dan utamanya Eros. Pagi sekali Erys sudah standby bersama teman seangkatannya. Menggunakan jaket almamater dan bedge medis.
"Nanti jangan sampai ada yang sendiri-sendiri. Kita tahu sendiri kan kalau jadi medis nggak menjamin aman dari samsak pukulan."
Pernah bertemu dengan orang yang melempem di keluarga tapi pemberani di luar? Itulah Erys, dia hanya menunjukkan sisi manja saja di rumah sedangkan di luar dia juga bisa menjadi pemberani. Kaivan saja tidak tahu dia sedang ikut demo sekarang.
Melihat semangat teman-temannya, Erys juga semakin semangat. Seumur hidup, baru kali ini dia merasakan semangatnya sungguh membara.
Erys kini berdiam diri di posko medis sembari mendengarkan aspirasi-aspirasi mahasiswa dari berbagai kampus. Dia tidak membuka handphone saat tidak dibutuhkan karena juga tidak ada sinyal. Khas sekali, sinyal disini sangat kacau.
Dari pagi hingga siang keadaan relatif aman, tetapi saat mulai sore, semuanya berhamburan karena gas air mata. Semuanya panik hingga keadaan menjadi chaos. Banyak perempuan yang menangis dan banyak laki-laki yang terkena tindakan represif.
"Bener-bener kita juga kena."
Seperti apa kata Erys tadi, mereka sebagai bagian kesehatan pun juga terkena padahal jelas-jelas tidak boleh ada yang menyerang tim medis. Hal itu sudah diatur oleh dunia.
Karena itu, saat akhirnya bisa pulang ke rumah dengan aman. Erys membawa oleh-oleh lutut luka dan dahi agak benjol. Oh dan kemarahan juga karena orang-orang itu benar-benar mengerikan.
Erys menanyakan apakah teman-temannya sudah aman semua karena banyak juga yang hilang tadi. "Astaga." Herannya lagi, tidak ada stasiun TV yang meliput demo hari ini. Algoritma X yang biasanya penuh demo pun tampak sangat sepi.
"Bisa-bisanya nggak ada yang ngeliput—" Erys mengerucutkan bibirnya sembari melihat handphone, tidak tahu didepannya ada Eros yang menatapnya datar sembari menyilangkan kedua tangannya.
"Mana bisa semuanya tahu kalau kaya gini. Dasar—Aduh!" Erys mendongak dan melihat Eros yang menatapnya datar. "Malam sayangku." Senyun Erys kontan melebar. Bukan jenis yang tulus karena disertai dengan ringisan.
"Darimana saja?" Eros bertanya dengan datar. Tangannya mengelus dahi Erys yang memerah. Dahi Eros berkerut, "kenapa ini?" Tanyanya.
"Jatuh, nggak sengaja." Jawab Erys dengan setengah kejujuran.
Netra Eros memindai Erys dari atas ke bawah dengan tatapan penuh selidik. "Kenapa kakinya juga?"
"Jatuh juga." Jawab Erys dengan singkat. "Jatuh waktu lari." Lanjutnya.
Eros tidak bertanya lebih lanjut. Tangannya dengan segera membawa Erys ke gendongannya, bridal style. Karena sudah terbiasa, Erys tidak kaget. Dia otomatis melingkarkan tangannya dengan kuat. Membiarkan Eros membawanya masuk ke dalam rumah. Membiarkan saja Eros mengoleskan gel ke kaki dan dahinya yang benjol.
"Nanti malam pasti kerasa kaku." Erys mengelus kepala Erys dengan sayang. "Kamu sibuk banget hari ini?"
Erys sudah bilang hari ini akan sibuk jadi tidak bisa bertemu Eros sampai malam hari sekali. Eros tidak bertanya karena Erys sudah memberi ultimatum. Erys juga tahu, pengawal yang biasanya mengawasinya sudah tidak ada lagi.
KAMU SEDANG MEMBACA
Fall Apart
RomansaSequel of Fall in Love Eros Kalnandra Nararya Adam mengenal Erys Serapina Adam bahkan sejak Erys masih dalam kandungan tantenya. Nama Erys pun pilihan Eros, mereka sedekat nadi dan tidak terpisahkan walau bahkan oleh jarak umur yang terpaut jauh. Ba...
