"Sabun apa yang paling genit?"
Erys menendang pelan kaki Eros yang sedang menyeruput es kelapa mudanya dengan tenang. Mendengar pertanyaan Erys, Eros mengerutkan keningnya. "Sabun mandi?"
"Salah," Erys ikut menyeruput kepala muda segar yang ia minum langsung dari buah kelapanya. "Sabun colek." Jawabnya.
Eros terkekeh, lalu mencolek pipi Erys. "Genit?"
"Cih, emang Kak Eros kan genit." Ucapnya lalu mulai memikirkan jokes bapak-bapak yang baru dia pelajari. "Tau nggak persamaan perempuan sama kurang garong?"
Kalau ini Eros tahu, dia ikut melihat ini di laman handphone Erus kemarin. "Sama-sama gak pernah salah." Lalu Eros menambahkan, "kucing ga wrong." Lanjutnya lempeng.
Erys langsung terkekeh, tangannya juga tidak diam saja. Sibuk mengambil mendoan cocol sambal kecap, sungguh mantap. Lalu pikirannya melayang pada Kaivan yang ikut kemarin tapi diberi banyak sekali uang oleh Eros agar tidak menempel pada mereka. "Kaivan kesenengan tahu kalau Kak Eros kasih banyak uang gitu."
"Biar kita berduaan," Eros tersenyum sembari menyelipkan rambut Erys yang terbawa angin. "Biar aja."
"Hum," Erys setuju, sekarang yang penting adalah memakan segala makanan yang Eros pesan karena Erys yakin seratus persen jika Eros hanya makan sedikit. "Seharusnya aku bawa bikini kali ya?" Erys bermonolog walaupun bibirnya sibuk mengunyah.
"Kakak buang bikini kamu kalau sampai bawa." Eros segera menjawab membuat Erys cemberut.
"Uh pocecif." Erys hanya bisa bergumam pelan. Memang dia tidak pernah pakai bikini, keluarganya dan dia sendiri pun tidak terlalu suka mengekspos kulit apalagi ada Eros yang kelewat posesif.
Keduanya menghabiskan waktu bersama sampai malam, hanya sekedar mengobrol atau menikmati angin Karimun Jawa. Hari pertama hanya ingin menghabiskan waktu di resort saja. Erys masih agak mabuk perjalanan dan Eros memang lebih suka tempat yang sepi.
Mereka berangkat bertiga dengan Kaivan yang libur, sangat jarang sekali terjadi. Sebenarnya Eros ingin mengajak Erys saja tapi akan sulit jika tidak membawa Kaivan sebagai alibi. Omanya pasti sudah bersungut-sungut kalau hanya mereka berdua yang pergi.
Akhirnya, dengan terpaksa sekali Eros mengajak Kaivan yang kebetulan bebas. Tetapi dengan iming-iming semua perjalanan gratis bahkan untuk ke toilet umum di wisata dan membelikan Kaivan sepatu incarannya sebagai upah tutup mulut tapi Erys agak tidak yakin Kaivan bisa tutup mulut.
Malam harinya, Eros menyiapkan dinner spesial untuk mereka dengan lilin-lilin bercahaya. Erys yang tidak siap membawa baju semi formal akhirnya terjebak dengan menggunakan gaun sabrina sederhana saja.
"Harusnya bilang, aku kan gak bawa gaun yang oke." Bibirnya cemberut maksimal pada Eros yang hanya tertawa pelan.
"Kamu selalu cantik, calm down." Eros tidak menggoda Erys, tapi memang di matanya, Erys selalu yang paling cantik nomor satu. Katakan dia kurang ajar, Mama Nara adalah nomor dua. Nomor satunya tetap Erys.
Erysnya memakai dress burgundy dengan aksen bunga. Riasan tipis membuat Erys semakin bersinar, apalagi rambutnya yang tergerai memancarkan harum vanila yang memabukkan. Eros berkali-kali jatuh cinta pada Erys. Pada tampilan sederhana maupun mewahnya.
Merasakan tatapan Eros yang seperti itu membuat Erys merasa seperti terbakar. Jantungnya berdetak dengan keras sekali. Entah kenapa, Erys merasa kali ini Eros terlihat sangat tampan. Lebih tampan dari hari-hari sebelumnya. Erys sadar jika ketampanan Eros sudah dari dulu, bahkan dari Aidan, bahkan lebih dari Papa Rajendra muda. Tetapi memang pada dasarnya tidak ada rasa-rasa cinta, ketampanannya tidak tampak secemerlang sekarang.
KAMU SEDANG MEMBACA
Fall Apart
RomanceSequel of Fall in Love Eros Kalnandra Nararya Adam mengenal Erys Serapina Adam bahkan sejak Erys masih dalam kandungan tantenya. Nama Erys pun pilihan Eros, mereka sedekat nadi dan tidak terpisahkan walau bahkan oleh jarak umur yang terpaut jauh. Ba...
