MOTOR Andra berhenti tepat di depan pagar rumah Gea, setelah mematikan mesin motornya ia membantu Gea untuk turun.
Andra ikut turun dari motornya, lalu dengan cekatan tangannya membantu membukakan pengait helm yang digunakan Gea. Helm itu milik Zikri, Andra meminjamnya untuk Gea pakai karena dirinya hanya membawa satu helm.
"Masuk, Ge. Istirahat, jangan dipikirin yang tadi."
"Kalau kepikiran?" cicit gadis itu.
Andra tersenyum kecil. "Telepon atau chat gue? Pokoknya gue temenin sampai lo gak kepikiran lagi. Kita bahas hal-hal yang menarik."
Gea menggaruk pangkal hidungnya, sebelum akhirnya bertanya. "Contohnya?"
Andra menaruh telunjuknya di dagu, dengan ekspresi berpikir. "Nih, lo tau gak sih, Ge? Kemarin malam gue dikasih hadiah sama Zwitsal."
"Ih hadiah apa?"
Mendengar nada antusias Gea membuat Andra terkekeh geli. Melihat sisi lucu Gea yang jarang diperlihatkan gadis itu, ia jadi lupa bahwa gadis di depannya ini merupakan orang yang keras kepala, yang selalu naik darah jika berhadapan dengan dirinya. Tapi hari ini Gea melunak, ia merasa bahwa kali ini Gea bisa didekati.
Andra merasa dirinya melamun, akhirnya berkedip beberapa kali sebelum akhirnya menjawab pertanyaan Gea. "Bunga melati."
Dahi Gea berkerut. "Kok bunga melati? Dapat dari mana?"
Andra menjentikkan jarinya. "Nah mau tau kan? Kalau gitu nanti topik obrolan kita tentang itu ya, hadiah dari Zwitsal."
Walau penasaran, Gea tetap menganggukkan kepalanya. Respon Gea lagi-lagi membuat Andra menyunggingkan senyumnya.
"Kalau gitu, gue pulang dulu ya. Lo istirahat, jangan nangis lagi ya, Ge."
Gea hanya terdiam, sambil memerhatikan Andra yang sudah naik di atas jok motornya.
Setelah melihat helm yang sudah terpasang di kepala laki-laki itu, Gea memanggil namanya dengan ragu-ragu.
"Andra."
Andra menoleh, dengan lembut dia merespon panggilan Gea. "Kenapa, Ge?"
"Makasih buat hari ini. Lo baik banget."
•••
Jam sudah menunjukkan pukul 8 malam. Setelah makan malam bersama kedua orang tuanya, Gea memutuskan untuk langsung masuk ke kamarnya lagi. Sepulang sekolah tadi Gea sudah berniat untuk tidak keluar dari kamar lagi, bahkan di jam makan malam. Tapi ia urungkan niatnya, karena hal itu akan membuat kedua orang tuanya bertanya-tanya mengenai kondisi dirinya, yang memang saat ini sedang tidak baik-baik saja.
Gea bergerak dengan gelisah di bawah selimutnya, matanya kembali memanas begitu wajah Dimas terlintas di kepalanya. Demi apapun, kini ia sangat membenci laki-laki itu.
Akhirnya Gea bangun, lalu menyandarkan punggungnya di headboard. Tangannya terulur untuk mengambil ponselnya di atas nakas, di samping ranjangnya.
Di layar ponselnya sudah tertera satu nama yang ingin ia hubungi, tapi ia menimbang-nimbangnya kembali. Gea berpikir, haruskan ia menelepon laki-laki itu. Laki-laki yang sudah sering kali Gea kecewakan.
"Harusnya dia benci gue, kenapa dia masih sebaik ini sama gue?"
Kalimat itu terus terngiang-ngiang di kepalanya, dari sejak laki-laki itu mengantarnya sampai depan rumah, tak lupa dengan kata-katanya yang membuat Gea sedikit tenang.
KAMU SEDANG MEMBACA
GEANDRA
Teen FictionIni tentang Gea dan Andra. Gea adik kelasnya Andra, sementara Andra kakak kelasnya Gea. Andralie Zafran, si kakak kelas tengil yang menyukai Sargea Wulandari. Punya setumpukan sepatu milik Gea, yang sayangnya hanya sebelah. Gea suka yang berbau Kor...
