Bagian yang Terpisah (part 8)

1 0 0
                                        

Sesuatu yang Dititipkan kepada Orang yang Tepat

Greenock tidak menyambut siapapun dengan hangat.

Kota itu berdiri di tepi laut dengan cara kota-kota pelabuhan berdiri di mana-mana, kokoh, penuh jelaga, dan tidak tertarik untuk terlihat cantik. Bangunan-bangunannya rendah dan padat, jalanannya basah oleh embun yang belum kering sejak semalam, dan udaranya membawa aroma garam dan besi yang menyatu menjadi satu bau yang hanya bisa dimiliki oleh kota yang sudah terlalu lama berdekatan dengan laut.

Annalise berdiri di peron dengan Raisa di dadanya dan tas di bahunya, tidak bergerak, membiarkan penumpang-penumpang lain mengalir di sekitarnya seperti air yang menemukan jalannya sendiri di antara batu-batu.

Seseorang masih memandanginya.

Ia merasakannya sebelum ia melihatnya, cara yang sama seperti seseorang merasakan hujan sebelum tetes pertama jatuh, dari udara yang berubah, dari sesuatu yang tidak bisa dinamai namun selalu benar.

Annalise tidak menoleh. Ia merapikan kain wol yang membungkus Raisa, gerakannya pelan dan natural, seperti seorang ibu yang hanya sedang memastikan bayinya tidak kedinginan. Bukan seperti seseorang yang sedang menghitung kemungkinan.

Tapi di dalam kepalanya ia sedang menghitung.

Pintu keluar peron ada di dua arah. Kiri lebih dekat tapi menuju lorong sempit. Kanan lebih jauh tapi terbuka, lebih banyak orang, lebih mudah untuk menjadi tidak terlihat di antara keramaian. Raisa belum menangis. Itu satu hal yang bisa ia syukuri pagi ini.

Ia memilih ke kanan.

Langkahnya teratur, tidak terburu-buru, tidak juga melambat. Ia belajar ini sejak lama, bahwa kecepatan yang salah selalu lebih mudah dikenali daripada wajah yang salah.

Keramaian di pintu keluar menyambutnya dengan suara dan aroma roti dari kios kecil di pojok kiri. Raisa menggeliat di dadanya, hidungnya bergerak kecil, seolah ia juga sedang mengenali kota baru ini dengan caranya sendiri.

Annalise hampir sampai di pintu ketika seseorang berjalan sejajar dengannya dari sisi kanan.

Bukan mendekat. Bukan menghalangi. Hanya berjalan sejajar, dengan langkah yang terlalu pas untuk jadi kebetulan.

Perempuan itu. Usianya sekitar tiga puluhan, mantelnya abu-abu gelap, topi kecil yang sedikit miring ke kiri. Ia tidak menatap Annalise. Matanya lurus ke depan, tapi bibirnya bergerak sangat pelan.

"Belok kiri setelah pintu. Tunggu di depan toko besi tua. Jangan berhenti berjalan."

Bahasa Belanda. Dengan logat yang sangat tipis namun jelas bagi seseorang yang tahu cara mendengarkannya.

Annalise tidak menjawab. Ia meneruskan langkahnya keluar pintu, belok kiri, dan berjalan seolah ia memang selalu punya tujuan ke arah itu.

Toko besi tua itu ada di ujung jalan kecil yang memisahkan diri dari jalan utama seperti sebuah rahasia yang tidak terlalu berusaha disembunyikan. Pintunya setengah terbuka, catnya mengelupas di bagian bawah, dan jendela kecilnya penuh debu yang sudah lama tidak terusik oleh tangan siapapun.

Annalise berdiri di depannya. Raisa tidur lagi.

Perempuan bermantal abu-abu datang beberapa menit kemudian, dari arah yang berbeda dari Annalise, dengan cara seseorang yang sudah terbiasa tiba dari arah yang tidak terduga.

(***)

"Elisabeth mengirimmu," kata Annalise. Bukan pertanyaan.

Perempuan itu mengangguk. Ia mengeluarkan sesuatu dari saku dalamnya, selembar kertas kecil yang terlipat, dan menyerahkannya kepada Annalise dengan gerakan yang sangat biasa, seperti seseorang yang sedang menyerahkan nota belanja.

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Sep 19 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

AnnaliseCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang