LIKE A GLASS?

10.3K 273 10
                                        

     XELLECIA

Perkataanya barusan membuat hatiku berdegup kencang. Aku tidak pernah merasakan hal seperti ini sebelumnya.

"Ekhem kalian pikir aku tidak melihatnya?" Ucap perempuan cantik yang sedari tadi menatap kami di sofa bawah. Dia Veronica blue.

"Kau masih disini?" Tanya Jonathan.

"Iyalah disini adem tau ngga kaya dirumah Mom and Dad" Ujarnya dengan nada manja.

"Pulanglah kan kau masih ada jadwal kuliah" Usir jonathan.

"Sebelum aku pergi kau harus membelikanku kucing" Ajukannya pada Jonathan. Aku hanya menatap mereka secara bergantian saja sambil menyimak.

"Sudah kubilang aku tidak suka kucing bodoh" Ujarnya kesal.

Aku turun kebawah dan memasuki dapur. Aku pusing melihat mereka berdebat hanya karena masalah kecil. Aku pun langsung memakai celemek dan mengikat rambutku dan mulai memasak.

Saat aku sedang memasak tiba tiba ada yang meraba pinggangku dengan lembut.

"Wow sedang memasak apa nih?" Jonathan! Berani beraninya dia melakukan hal ini!

"Lepaskan tanganmu dariku!" Tukasku kesal. Aku memukul tangannya dengan kasar tapi dia tak berkutik sedikitpun.

"Ngga ah enak begini" Godanya.

"Hentikan!" Aku mencubit tangannya dan dia sedikit mengaduh.

"Tidak mau" Ujarnya dengan hembusan hangat nafasnya dipundakku.

"Masih ada veronica! Jangan lakukan ini didepannya!" Ucapku pelan.

"Ngga apa dia aja juga sering kok ciuman sama pacarnya" Ucapnya tenang.

Tiba tiba kudengar suara benda keras mengenai sesuatu.

"Aww! Apa yang kau lalukan Vero?!!" Ucap jonathan kesal sambil memegang kepalanya yang terkena high heels.

"Gausah banyak bicara kau! Aku bahkan tidak punya pacar! Jangan seenaknya bicara mentang mentang kau lebih tua dariku" Ujarnya sambil mendengus dan pergi keluar rumah.

"Pfttt rasakan" Ketawa geliku.

"Berani tertawa? Kucium kau" Ancamnya.

"Never!" Ucapku sambil menutup mulutku.

     JONATHAN

Aku melirik jam dan teringat bahwa hari ini ada rapat antara sesama petinggi perusahaan.

"Aku pergi dulu ya mau ada rapat" Aku bergegas mandi dan bersiap siap diri. Setelah 35 menit akhirnya aku telah siap dan segera berangkat.

"Tidak makan dulu?" Tanyanya.

"Nanti balik cepet kok" Senyumku. Aku meninggalkannya dan menaiki mobil sportku dan menuju kantorku.

Sesampainya disana kami langsung memulai rapat.

4 jam berlalu, akhirnya rapat selesai. Aku melonggarkan dasiku dan menghela nafas kelelahan.

"Hey dude" Tepuk Gordon. Dia teman bisnisku.

"Tampaknya kau lelah sekali" Ujarnya.

"Maybe, I don't care" Ucapku pelan.

"Bagaimana kehidupanmu? Setelah tidak bertemu 6 bulan denganku? Sudah punya calon istri atau anak?" Dia memang tidak bertemu denganku selama 6 bulan belakangan ini. Dan rapat ini adalah pertemuan kami secara kebetulan.

"Sudah" Aku menghela nafas.

"Wow benarkah? Siapa nama calon istrimu?"

"Xellecia Earls"

"Ohh sepertinya aku pernah mendengar nama itu, kalau tidak salah dia murid beasiswa terbaik tahun ini" Ujarnya sambil melepas jasnya.

"Benarkah? Aku tidak tau" Ucapku tidak peduli sambil memalingkan wajahku.

"Kenapa sampai kau tidak tau? Aneh sekali. Kau bertemu dengannya dimana?"

"One stand night" Ujarku.

"Wah tak kusangka, apa kau mencintainya?" Ucapnya sambil tertawa geli.

Aku melihatnya dan terdiam sejenak. Lalu aku berkata.

"Tidak"

"Mengapa tidak?" Tanyanya penasaran.

"Entahlah rasanya aku tidak siap jatuh cinta, sana pulanglah kau masih ada kerja" Usirku.

"Wah sepertinya ada yang stress haha" Dia tertawa.

"Jangan lukai perasaan wanitamu dude, perasaanya bagaikan gelas kaca jika kau melukainya maka gelas itu akan hancur dan kau tau apa yang terjadi? Gelas itu tidak akan kembali seperti semula" Ujarnya sambil menepuk pundakku.

"Like a glass? Oke aku mengerti" Angguk-ku.

"Great, kalau begitu aku duluan ya. Bye" Dia pergi.

Peduli amat sama perasaan. Xellecia hanya sebagai mainanku dan aku menikahinya karena dia mengandung anakku. Aku sama sekali tidak mencintainya. Persetan amat sama cinta.

Aku langsung masuk keruanganku dan melanjutkan pekerjaanku. Tetapi entah kenapa kata kata Gordon tadi terus terngiang ngiang dikepalaku. Bagaikan gelas kaca? Selama ini aku tidak pernah membuat wanita menangis. Ah peduli amat!

Drttt drttt! Handphoneku bunyi. Dad calling..
Untuk apa dia meneleponku? Tidak biasanya. Aku mengangkat telponnya.

"Halo? Dad?"

"Ohh nathan, apa pekerjaanmu sudah selesai?" Tanyanya dengan suara serak.

"Belum, memang ada apa Dad? Kalau tidak terlalu penting jangan ganggu aku. Aku sibuk Dad"

"Perbaiki sikapmu Jonathan blue, baiklah setelah kau selesai bekerja tolong datang kerumahku, aku ingin bicara"

"Baiklah Dad, see you" Aku menutup telponnya dan melanjutkan pekerjaanku. Bicara apa lagi? Jangan bilang tentang pernikahan? Oh shit.

Aku memutuskan untuk tidak terlalu memikirkan hal itu. Aku tidak ingin fokus di kepalaku tiba tiba hilang karena hal sepele. Kalau saja aku tidak bertemu Xellecia earls mungkin aku sudah terbebas sekarang, batinku.

MY POSSESIVE CEOTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang