Seminggu kemudian..
XELLECIA
"Berita terhangat hari ini! Mr.Jonathan tertangkap kamera sedang mampir di Restoran termahal di Jerman!! Bersama seorang wanita cantik yang menemaninya! Siapakah dia? Apakah dia wanita baru dari Mr.J? Mari kita lihat ber--" Aku mematikan televisi didepanku. Aku menghela nafas. Itu kan aku. Mengapa wajahku selalu muncul bersama Jonathan? Padahal kami cuma mampir untuk makan malam waktu itu. Lagipula pembawa acara itu seenaknya saja bilang aku wanita baru. Lama lama akan kujambak rambutnya hingga botak.
Aku menghela nafas dan bersender di sofa yang kududuki. Aku menatap langit langit ruangan. Aku kangen kuliah. Tiba tiba Jonathan keluar dari kamar, dia menguap dan menatapku. "Pagi pagi udah bangun aja Honey" Ucapnya sambil menggaruk badannya yang bidang.
"Pagi? Cuci muka sana! Udah jam 11 siang tau" Tukasku kesal. Dia melihat jam dan nyengir. "Oiya maaf ya aku kan ngga lihat" Ucapnya dan menghampiriku. Dia duduk disampingku dan merangkulku. "Kok tv nya ngga dinyalain?" Tanyanya. "Setiap kubuka channel ada wajahmu dan iklan baju dari temanmu itu makanya aku bosan" Ucapku malas. Dia tertawa.
"Wajar dong, aku kan famous dan karena kamu istriku berarti kamu juga ikut famous" Ucapnya sambil mencium leherku. Aku merinding geli. "Jonathan! Hentikan! Kau bau, sana mandi" Ucapku sambil berusaha mendorongnya. Tapi dia tak bergeming.
"Mandiin aku dong, kan kamu istriku" Ucapnya manja. "Memang sebagai istri harus banget nurutin perintah suami ya?" Ucapku balas. Dia tersenyum miring. "Ya haruslah" Ucapnya. Tiba tiba dia bangun dan berlutut di depan ku. Dia membuka kaus ku dan mencium perutku yang semakin membesar.
Entah kenapa aku suka ciumannya. Menghangatkan dan membuatku tenang. Aku yakin bayiku suka. "Aku tak sabar menantinya lahir" Ucapnya sambil menciumi perutku. Aku memgangguk kecil. "Haha aku juga" Ucapku senang.
"Jonathan.." Ucapku lirih. Dia menatapku dengan mata yang terkesan sexy. "Ada apa sayang? Mau jatah?" Ucapnya sambil bangkit dan duduk disampingku. Wajahku memerah dan aku memukul dadanya. Dia tertawa geli. "Baiklah baiklah, ada apa sayang?" Tanyanya.
"Aku mau kembali ke Perancis" Ucapku penuh harap. Dia menatapku bingung. "Tumben mau pulang? Gasuka Jerman ya?" Ucapnya. Aku menggeleng. "Aku rindu dengan Perancis" Ucapku sambil mengelus perutku. Mungkin bayiku lebih suka Perancis daripada Jerman.
Jonathan mengangguk. "Baiklah ayo kita siap siap" Ucapnya.
***
JONATHAN
Akhirnya kami sudah berada di dalam Jet pribadiku. Xellecia meminta untuk pulang. Aku mau tak mau harus menurutinya.
Hari ini jam 2 siang kami masih di jet dan sedang dalam perjalanan. Aku menatap Cia yang memandangi jendela. Aku mendekati wajahku ke wajahnya. Kuhembuskan nafasku. Dia tak bergeming. Kusentuh dagunya dan kulihat dia tertidur dengan nyenyak.
Wow sungguh menggemaskan, kuharap anakku mewarisi semua gen miliknya jika ia perempuan. Aku menyenderkannya dibahuku. Setelah 4 jam kami terbang akhirnya kami sampai di Perancis. Setelah mendarat aku langsung menggendongnya dan membawanya ke Mansionku.
Sesampainya di Mansion aku langsung membawanya ke kamar tanpa memedulikan pelayan yang menyapaku. Aku menidurkannya dengan hati hati. Aku memandang wajah cantiknya yang terlelap. Aku mengecup keningnya. "Sleep well beautiful"
XELLECIA
Aku bangun dengan sinar matahari yang terpancar di sela sela jendela. Aku merasakan ada sesuatu yang besar memelukku. Aku mulai membuka mataku. Jonathan memelukku. Wajahku terbenam di dada nya yang bidang dan dia memelukku dengan posesif. Dia topless dan selimutnya hanya mencapai pinggangnya. Aku berusaha bangun tapi dia seperti tidak mengizinkanku untuk keluar dari pelukannya.
Dengan sekuat tenaga akhirnya aku bisa melepaskan tangannya yang besar dan aku bebas dari pelukannya. Aku memandang keadaan sekitar. Sepertinya ini bukan kamar semalam yang kutiduri. Ini kan-- kulihat keluar jendela dan terlihat menara eiffel. Aku ada di Perancis! Ternyata Jonathan yang membawaku kesini. Kuyakin dia sangat bersusah payah membawaku. Aku langsung keluar kamar dan menuruni tangga, aku melakukan kegiatan ku sebagai istri seharusnya yaitu memasak, menyuci, menyetrika dan sebagainya.
Aku mengambil baju kotor Jonathan dan bajuku dan membawanya ke ruang cuci. "Miss?! Biar saya saja yang bawa, Miss ngga boleh kecapean!!" Ucap salah satu pelayan, Crishtina.
Aku ketawa kecil. "Tenanglah, aku kuat kok" Ucapku enteng. Memang agak berat sedikit sih. Aku langsung menuruni tangga dan masuk ke ruang cuci. Chrishtina mengikutiku.
"Tapi Miss, kata Tuan muda, Miss ngga boleh terlalu cape nanti bahaya buat bayinya Miss" Ucap Crishtina. Aku tersenyum lebar.
"Tak usah cemaskan aku, aku baik kok terima kasih telah menawarkan bantuan. Aku akan melakukannya sendiri" Ucapku. Crishtina menatapku sendu. "Baiklah Miss kalau ada apa apa panggil saya ya Miss" Ucapnya nada cemas. Aku mengacungkan jempolku dengan mantap.
45 menit berlalu, aku sudah menyelesaikan cucianku. Aku naik turun tangga 4 kali. Aku langsung membawa cucianku ke ruang tengah.
"CIAA!!" Ucap seseorang dengan kaget. Bukan hanya dia yang kaget, bahkan aku pun kaget. "Kamu ngapain nyuci beginian?!! Nanti kalau kamu kenapa napa gimana?!! Kalau kamu cape gimana?!!" Ucap Jonathan sambil mengambil alih cucianku dan menaruhnya di tempat pengeringan baju. "Aku cuma mengerjakan tugasku sebagai istri kok" Ucapku santai.
Dia membawaku ke sofa dan menyuruhku duduk. Aku duduk dan menghela nafas lega. Akhirnya pekerjaanku selesai. Kulihat Jonathan berlutut didepanku. "Kamu capek kan?" Ucapnya. Dia memegang kakiku dan memijitnya dengan lembut. Aku tersenyum kecil. Tumben tumbennya dia mengerti kalau aku sedang lelah.
Aku menikmati pijitannya. "Lain kali, untuk pekerjaan seperti itu pelayan saja yang mengerjakannya" Ucapnya pelan. Aku mengerucutkan bibirku. "Ngga enak dong! Masa seorang istri cuma melayani suami dan ngga kerja fisik?" Ucapku. Dia tersenyum miring. "Bagiku, kamu itu segalanya dan aku ngga bakal biarin kamu lelah apalagi kamu lagi hamil" Ucapnya. Aku memutar bola mataku.
"Memang apa istimewanya kalau aku hamil?" Ucapku tantang. Dia menatapku lalu duduk disampingku. "Aku ingin yang terbaik untuk istri dan.. Anakku" Ucapnya sambil mengusap bibirku dan menciumku. Aku tersontak. Tapi lama lama aku membalas ciumannya dan aku mengalungkan tanganku dilehernya. Kami hanyut dalam ciuman.
"Mmhh.. Jonathan.. I love you" Ucapku tanpa sadar.
"Love you too" Ucapnya sambil terus menciumiku.
Aku memejamkan mataku. Apakah perasaanku ini membohongiku? Apakah aku benar benar mencintainya? Batinku.
KAMU SEDANG MEMBACA
MY POSSESIVE CEO
Romance#DON'T COPY MY WORK!!! Bagaimana rasanya jika sudah terlanjur cinta tapi disakiti? Ya itulah yang dirasakan Jonathan blue. Dia sudah berjanji untuk tidak mencintai lagi dan berharap hatinya tak terpikat untuk orang lain. Tapi bagaimana jadinya kal...
