7. Love is (not) over

902 113 31
                                        

Nongkrong di Coffeeshop kali ini mungkin menjadi nongkrong paling canggung yang pernah Bara alami. Sejak detik pertama ketika dia memasuki pintu kaca itu, kedua gadis yang sudah lebih dulu tiba di sana tak mengeluarkan sepatah kata selain tatapan tajam yang terlihat begitu kentara. Selain merasa bersalah karna tidak menuruti permintaan Rona untuk dijemput, jujur saja Bara lebih merasa bersalah dengan Lena. Karna Bara mengajak seorang lelaki yang jelas-jelas tidak diundang dan kehadirannya pun tak pernah diharapkan lagi.

"Lo hutang penjelasan sama gue" Rona menatap Bara tajam, kemudian melirik lelaki yang duduk di samping Bara dengan tatapan yang tak kalah tajam.

Lelaki yang dilirik itu hanya tersenyum manis dengan wajah tanpa dosanya yang berhasil membuat Rona geram setengah mati. Bukan karna senyuman itu dibuat-buat, tapi karna dia tulus. Dan Rona tak habis pikir tentang bagaimana lelaki itu masih bisa tersenyum tanpa rasa bersalah sedikitpun.

Rona menolehkan kepalanya menghadap Lena yang sedang menatap lelaki itu dengan tatapan dan ekspresi yang sulit didefinisikan. Tapi baik Rona maupun Bara, mereka tahu seperti apa perasaan Lena saat ini. Bertemu lagi dengan Lilo Hafizuan Hadit-seorang lelaki yang tiba-tiba menghilang setelah mengucapkan selamat tinggal dengan hubungan yang bukan sebentar, jelas sesuatu yang sulit.

"Tepatin janji lo, kalo lo emang gentle" Bara menepuk pundak Lilo, kemudian menekan luka segar di ujung bibir lelaki itu. "Atau gue tambah lagi sobek di bibir lo"

Lilo meringis, tapi kemudian dia tertawa menanggapi ancaman Bara yang terdengar ambigu di telinganya. "Sobekin gimana? Lo mau cipok gue?"

Mereka tahu Lilo hanya ingin mencairkan suasana dengan candaannya, karna memang begitulah Lilo. Namun mengingat apa yang sudah terjadi, mereka enggan tertawa.

"Serius, ler."

"Wah, bahasa lo ya, Rona Rembulan. Nggak berubah"

"Panggil gue gitu sekali lagi, gue patahin idung lo"

"Penampilan lo boleh aja berubah, tapi sikap lo tetap kaya nenek sihir"

"Jangan ngomong seolah-olah kita dekat, gue jijik dengernya"

"Langsung aja" Lena menyela dengan helaan nafasnya yang jengah. "Lo punya waktu 5 menit, lebih dari itu gue cabut"

"5 menit nggak akan cukup untuk jelasin semuanya"

Rona berdecak. "Nggak cukup ngebuat Lena nangis kali maksud lo?"

"Ron, ayo cabut" Bara langsung bangkit dan menarik lengan Rona dengan paksa. "Kalo lo di sini, bisa lo buat hancur tempat ini"

"Lewat dari 5 menit, gue cabut gigi lo" Rona bangkit dari duduknya karna desekan dari Bara. Dengan mata yang masih menusuk Lilo, gadis itu beranjak pergi bersama tas gitarnya setelah menepuk pundak Lena.

"Gue duluan, Na" Bara mengacak sekilas puncak kepala Lena, kemudian menyusul Rona setelah menyedot habis Ice latte miliknya.

Mata Lilo mengekori kepergian kedua sahabatnya itu, entah mereka masih menganggapnya sahabat atau tidak, Lilo tak peduli karna dia tetap menganggap mereka sama seperti dulu. Lilo melambaikan tangannya ketika Rona membalikkan badan, yang lantas dibalas Rona dengan sebuah acungan jari tengah. Kasar memang, tapi Lilo justru tertawa lantaran sadar tingkah sahabatnya itu tidak berubah.

Ketika Lilo mengalihkan pandangannya kembali ke Lena, gadis itu langsung membuang muka, mungkin malu karna kepergok memperhatikan Lilo atau memang Lena yang tidak bisa menatap mata lelaki itu lebih lama.

"Lo yang makin cantik, atau cuma gue aja yang lupa kalo lo memang udah cantik dari dulu?" Kalau urusan senyum, milik Lilo adalah yang paling tulus, tidak terlihat nakal dan mengada-ngada. Tatapan matanya juga hangat, dan cara bicaranya terdengar ramah dan menyenangkan. Satu hal yang ingin Lena percayai, Lilo tidak berubah.

ALPHABET [TAHAP REVISI]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang