60. We Are Bulletproof pt.1

278 47 6
                                        

Satu minggu berlalu dengan tenang. Bahkan terlalu tenang sampai membuat Lena muak. Bagaimana tidak, Lena sama sekali tidak menerima kabar dari pihak Keira, mereka tidak memberi respon apapun mengenai pertunangan Lena dan Elvin. Mereka hanya hilang tanpa kabar, Lena berasumsi mereka pasti sudah kembali ke Bandung. Padahal Lena mengira Keira dan Farel akan datang ke rumah Dimilo, menuntut Zidan dan menjemput Lena pulang. Namun Lena salah. Mereka bahkan sudah tidak peduli lagi dengan Lena. Atau mungkin mereka justru kecewa dengan Lena.

"Setelah apa yang kamu lakukan sekarang, kamu pikir mereka akan tetap percaya sama kamu?"

Buru-buru Lena menggelengkan kepalanya. Tidak. Dia tidak boleh terpengaruh dengan ucapan Zidan. Lena percaya keluarganya tidak akan begitu, iya kan?

"Dek?" suara berat itu langsung membuat Lena tersentak dari lamunannya. Lena langsung menolehkan kepalanya yang semula menatap ke luar jendela mobil menjadi menatap Chrisdy yang duduk di sampingnya.

"Jangan melamun." kata Chrisdy, menatap Lena tepat di mata. "Jangan terlalu dipikirkan, semuanya pasti baik-baik aja."

"Apa yang akan baik-baik aja?"

"Sidangnya pasti akan berjalan dengan lancar." jawab Chrisdy.

Lena hanya tersenyum tipis. Benar, mereka memang sedang menuju pengadilan. Tapi bukan itu yang Lena lamunkan. Lena tidak khawatir dengan hasil sidang nanti karena Farel sudah berjanji dia tidak akan dipenjara, dan itu cukup bagi Lena.

"Bethalena." Zidan memanggil dari kursi kemudi. "Di sana nanti, jangan berbicara dengan Keira. Bersikaplah seolah kamu tidak mengenal mereka sama sekali."

"Dia bundaku, dan mereka semua temanku." jawab Lena dengan tegas. "Aku akan sapa mereka dan duduk bersama mereka." lanjut Lena seperti menantang.

"Terserah kamu." ucap Liliana penuh penekanan. "Lakukanlah semua itu, kalau mereka memang masih menganggap kamu teman mereka."

"Jangan merusak harga diri kamu." kata Zidan setelah mobil yang dikendarainya berhenti di tempat parkir "Jangan bersikap manis pada mereka, mereka akan mengabaikan kamu. Ah bukan, mereka memang sedang mengabaikan kamu."

Tangan Lena langsung terkepal kesal. Kenapa setiap pembicaraan dengan Dimilo selalu membuatnya merasa tersudut?

Chrisdy tiba-tiba menggenggam tangan Lena dengan lembut dan membuat Lena langsung menoleh padanya. Laki-laki itu tersenyum, seperti mencoba menenangkan Lena.

"Ayo turun sama-sama." kata Chrisdy, kemudian mendekatkan kepalanya ke telinga Lena. "Abaikan Papi. Kita bisa sapa mereka kalo kamu mau."

Lena menarik pelan tangannya dari tangan Chrisdy, lalu menggelengkan kepalanya. "Nggak perlu."

"Ayo turun." titah Zidan sambil membuka pintu mobil. Semuanya menurut dan mengikutinya.

Setelah Lena turun dari mobil, dia langsung diserang dengan flash kamera. Mendadak banyak orang yang mendekati mobil dengan membawa kamera dan menyodorkan microphone pada keluarga Dimilo. Lena tak pernah menyangka dia akan berhadapan dengan semua ini, terlebih lagi setelah dia bertunangan dengan Elvin.

Untung petugas keamanan bergegas mengamankan keadaan dan menuntun Dimilo memasuki gedung. Meski begitu, para wartawan tidak menyerah. Mereka tetap merekam dan memaksa menanyai pertanyaan yang di antaranya Lena mendengar mereka menyebut Genocide dan Elvin. Tapi tentu saja tidak ada yang menjawab pertanyaan mereka.

ALPHABET [TAHAP REVISI]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang