39. Supplementary Story: Rona

349 45 0
                                        

Rona tak menemukan kata yang tepat untuk mewakili perasaannya saat ini. Semuanya mendadak menjadi menyebalkan. Sejak dimulainya hari, Rona merasa tak nyaman untuk melakukan segala hal. Bahkan setelah bertemu dengan Elvin justru semakin memperburuk suasana hatinya, padahal Rona berharap laki-laki itu akan membuatnya merasa lebih baik. Hatinya dongkol, geram tanpa alasan yang jelas.

Setelah membanting pintu rumahnya sehingga menimbulkan bunyi yang cukup keras, Rona melemparkan kantung belanjaannya ke sofa. Gadis itu terus berbicara pada dirinya sendiri dengan nada suara kesal, merutuki kebodohan yang sudah dia lakukan—bertemu dengan Elvin.

"Dasar bodoh!" erangnya sebal sembari menedang-nendang kakinya dengan asal. "Otak burung!"

Wajah Rona memerah, hampir menyamai warna rambutnya saking dongkolnya. "Bego! Dungu! Idiot!" dan sejujurnya Rona sendiri tak yakin memaki pada siapa, mungkin pada dirinya sendiri.

'Gue rindu sama lo.'

Sepertinya semua kata makian itu tertuju untuk Elvin, karena saat ini wajah laki-laki itu muncul di pikiran Rona.

"Gue benci dendeng balado!"

Rona sudah gila. Atau mungkin, tidak. Dia hanya sedang mengekspresikan perasaannya, dengan cara yang gila. Meski sebenarnya dia sendiri tidak mengerti dengan apa yang sedang dia rasakan.

Rona merasa ada sesuatu yang janggal di dalam dadanya, membuatnya merasa tidak nyaman. Wajahnya terasa panas, terlebih lagi di area rongga matanya.

Tok tok.. tok.

Helaan napas kasar keluar dari mulut Rona. Itu Elvin, laki-laki itu pasti mengejarnya. Dengan tangan yang terkepal, gadis itu membalikkan badannya menatap pintu dengan tatapan yang seolah-olah akan membuat pintu itu terbelah menjadi dua, sekaligus membelah sosok Elvin yang berdiri di baliknya.

'Itu artinya, gue nggak mau liat lo lagi.'

'Itu artinya lo pulang ke rumah lo dan gue pulang ke rumah gue.'

'Itu artinya gue nggak mau lo ngejar gue. Biarin gue pulang sendiri.'

Itu serentetan kalimat  terakhir yang diucapkan Rona ke Elvin. Itu baru beberapa menit yang lalu, dan sudah jelas gadis itu tidak akan menarik kembali kata-katanya. Dia tidak akan menemui Elvin, tidak akan membukakan pintu itu untuk Elvin.

"Si brengsek sialan, nggak ngerti bahasa manusia ya?!" umpatnya, namun gedoran pintu terdengar semakin kuat.

Rona berdecak sebal, dan hanya dalam hitungan detik dia menarik kembali kata-katanya, gadis itu langsung membuka pintu sambil memaki "UDAH GUE BILANG NGGAK USAH NGEJAR GUE! ELVIN SIA—astaga!."

Rona terperanjat di tempatnya dengan tangan yang membekap mulutnya sendiri. Di hadapannya berdiri seorang gadis yang terlihat super terkejut—wajahnya bahkan pucat seketika seperti aliran darahnya berhenti di leher—karena lengkingan dan makian membahana dari Rona yang tersembut tepat di depan mukanya. Rona pun sama terkejutnya dengan gadis itu, dia bahkan melihat sosok yang dihadapannya itu seperti melihat sesosok hantu.

"L-lena?" Rona berkata ragu. "Lo beneran Lena kan?"

Gadis itu mengerjapkan matanya beberapa kali, seperti menyatukan nyawanya kembali ke tubuhnya setelah shock karena 'sambutan' Rona. Namun seulas senyuman langsung terpatri di bibirnya bersamaan dengan pucat yang pias seketika. "Hai!" sapanya dengan canggung.

ALPHABET [TAHAP REVISI]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang