48. You Better Know

338 53 3
                                        

Lena tak habis pikir dengan apa yang sedang dilihatnya saat ini. Gadis itu langsung mengutuk dirinya sendiri yang sudah menangis tersedu-sedu dan tenggelam dalam kekhawatiran sambil menjaga Farel yang tak sadarkan diri semalaman. Bahkan tadi Lena sempat tak ingin pulang untuk mandi dan ganti baju karena tak mau meninggalkan Farel sendirian di kamar sebelum akhirnya Genocide datang tanpa Kioki dan menawarkan diri untuk bergantian menjaga Farel.

Lena langsung menyesal karena mengkhawatirkan hal yang sia-sia. Karena begitu Lena kembali ke rumah sakit, gadis itu langsung mendapati sosok Farel yang sudah tertawa terbahak-bahak dalam posisi terduduk di atas kasur dan tangan kiri yang masih terborgol di besi tempat tidur. Laki-laki itu sama sekali tak terlihat kesakitan meski wajahnya penuh luka dan punggungnya didiagnosa mengalami keretakan. Farel terlihat sehat wal afiat, tertawa bersama member lengkapnya.

"Gue tahu lo emang paling nggak bisa kontrol emosi, tapi lo nggak pernah sampe sekalap ini sebelumnya," kata Audio setelah tawa mereka mulai reda. "Lo bahkan hampir bikin si Chrisdy tewas. Apa yang ngebuat lo sampe kepancing gitu?"

Farel mendecakkan lidahnya. "Gue paling nggak bisa ngeliat orang nyakitin keluarga gue."

"Dia ngelakuin sesuatu ke Lena?" tanya Kioki khawatir.

"Ya. Dia bahkan ngebuat Lena sampe teriak kesakitan," ucap Farel, mengingat bagaimana Lena memohon Chrisdy untuk melepaskan tangannya waktu itu. "Mungkin kalo Kioki yang ada di situ, Chrisdy udah pasti tewas malam itu."

"Wah kurang ajar banget si tiang listrik," Kioki langsung menaikkan lengan kaosnya. "Apa sekarang gue matiin aja ya alat-alat rumah sakit dari tubuhnya biar ketemu maut sekalian?"

"Gayaan lo, bang. Emang tau gimana cara matiinnya?" tanya Arka sambil mengunyah apel yang tadi dibawanya untuk Farel.

Elvin menjawab. "Langsung cabut aja colokan dari stop kontak, apa susahnya?"

"Tapi ya percuma juga. Dia nggak benar-benar butuh alat itu. Kedok doang mah, nyatanya dia emang nggak koma," kata Audio.

"Ya logika aja deh, masa dia bisa koma cuma gegara digebukin Farel yang tingginya bahkan nggak nyampe setengah dia?" canda Elvin. "Cemen banget berarti dia."

"Heh, kambing!" Farel lansung melempar Elvin dengan jeruk utuh, tapi berhasil ditangkap oleh laki-laki itu. "Lo aja sini gue bikin koma, mau?"

Semuanya langsung tertawa melihat Farel yang sudah kembali seperti semula, bahkan laki-laki itu sudah mengeluarkan kata favoritnya.

"Oh, abang udah bisa ketawa sekarang?" Lena berjalan memasuki ruangan setelah dari tadi hanya memerhatikan dari pintu, gadis itu berhenti beberapa langkah di depan ranjang. "Muka abang lecet dan tulang punggung abang retak, tapi abang masih bisa ketawa?"

Kedatangan Lena disambut dengan keterkejutan Genocide. Dilihat dari raut wajah dan cara bicaranya, sudah pasti Lena sedang marah, tapi tak ada yang tahu karena apa.

"Gue baik-baik aja," kata Farel santai. "Gue bisa ketawa bebas karena gue nggak koma."

Genocide kecuali Kioki langsung tertawa ketika mendengar kata terakhir Farel. Lena mengernyitkan keningnya, apa yang lucu dengan 'koma'? Itu jelas bukan hal yang bisa dibercandakan.

"Kenapa? Abang bangga udah bikin orang koma?" Lena meninggikan suaranya, suara tawa langsung lenyap. "Chrisdy bisa mati malam itu karena abang! Sekarang abang ketawa karena dia koma?!"

Farel langsung terkesiap. Dia tak menyangka adiknya akan berkata demikian. Lantas Farel langsung melirik teman-temannya, meminta mereka untuk meninggalkannya dan Lena sendirian. Mereka menurut dan langsung keluar dari ruangan.

ALPHABET [TAHAP REVISI]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang