62. Supplementary Story: Chrisdy

307 48 11
                                        

Setelah kembali dari persidangan, Lena menghabiskan harinya sendirian di dalam kamar. Insiden pelemparan telur tadi membuatnya menyadari bahwa sekarang banyak orang membencinya. Bahkan sebelum insiden itu, Lena sudah merasa dirinya dibenci oleh beberapa orang, seperti Genocide dan Rona yang sudah jelas kecewa padanya karena pertunangannya dengan Elvin, juga Liliana dan Chrisdy yang semakin membencinya karena kesaksiannya di persidangan tadi. Dan sekarang, dia dibenci oleh Cyanide.

Siang sudah berganti malam, namun Lena belum bisa berhenti memikirkannya. Dadanya terasa sesak. Lena tak bisa mendefinisikan apa yang sedang dia rasakan saat ini, seolah semua emosinya terlalu campur aduk untuk dideskripsikan. Lena seperti ingin teriak sekuat-kuatnya, namun mendadak suaranya tak keluar. Lena merasa seperti ingin menangis sejadi-jadinya, namun tidak ada setetespun air yang keluar dari matanya. Ada sesuatu yang menjanggal di hatinya.

Drrtt...drrrttt...

Lena memejamkan matanya, berniat untuk segera tidur dan menghiraukan panggilan yang masuk ke dalam ponselnya. Meski sudah lebih dari sepuluh kali nama Farel dan bundanya bergantian muncul di layar ponsel itu, Lena sama sekali tidak berniat untuk menjawabnya. Dia hanya tak ingin berhubungan dengan siapapun sekarang.

Namun, tak lama kemudian pintu kamarnya terbuka. Tanpa Lena membuka matanya, Lena tahu itu pasti Chrisdy. Laki-laki itu berdiri di depan pintu, memperhatikan Lena yang sudah terbungkus selimut di atas kasur. Chrisdy tahu gadis itu belum tidur, karena lampu kamar yang belum dimatikan.

"Kamu baik-baik aja?" tanya Chrisdy, sepenuhnya khawatir. Lena tak memberi respon sama sekali.

"Abang ke sini cuma mau mastiin kalo kamu baik-baik aja." katanya. "Kamu baik-baik aja, kan?"

Kehadiran Chrisdy saat ini membuat Lena teringat bagaimana laki-laki itu memeluknya, melindunginya dari serangan telur busuk. Lena benci mengakuinya, namun dia yakin Chrisdy melakukannya dengan tulus. Bahkan sekarang juga begitu.

"Soalnya abang kamu khawatir." ucap Chrisdy dengan suara lebih pelan. "Dia telepon abang tadi, nanyain kamu."

Mata Lena langsung terbuka, perlahan dia merubah posisinya menjadi duduk, matanya menatap sosok Chrisdy lekat-lekat.

"Kenapa kamu nggak angkat teleponnya? Kamu juga nggak angkat telepon Bunda, kenapa?" tanya Chrisdy dengan wajah yang sarat akan  kekhawatiran.

"Abang lagi ngapain sih sekarang?" Lena justru balik bertanya dengan ketus.

"Abang cuma mau bilang kalo Bang Alpha-mu dan Bundamu khawatir sama kamu."

"Ya terus kenapa?" tanya Lena sengit. "Apa hubungannya sama Abang?"

Chrisdy menghela napas. "Mereka itu khawatir banget sama kamu sampe nekat nelepon abang cuma buat nanyain kamu."

Lena mengepal tangannya kesal. Apa semua emosinya sekarang ini akan dia lampiaskan pada Chrisdy?

"Ya terus apa?! Kenapa juga Abang mau angkat telepon itu?!" katanya dengan suara naik satu oktaf. "Kenapa Abang masih mau peduli sama aku?!"

Atau mungkin, yang menjanggal di hatinya justru memang karena Chrisdy.

Chrisdy menutup pintu, kemudian mengambil langkah mendekati Lena dengan tenang. Laki-laki itu berdiri di hadapan Lena.

"Kenapa Abang masih sudi dekat sama aku?" kini suara Lena sudah mulai melemah meski matanya menatap Chrisdy lekat-lekat. "Memangnya Abang nggak marah?"

"Marah untuk apa?" tanya Chrisdy dengan sangat lembut. "Memangnya apa salah kamu?"

"Oh, karena kesaksian kamu di persidangan tadi?" ucap Chrisdy setelah menyadari sesuatu. "Kamu pikir Abang bakalan marah karena itu?"

ALPHABET [TAHAP REVISI]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang