Lena memberanikan diri untuk menelepon Farel dan memberitahu beberapa hal ke Abangnya itu. Bukan tentang dia dijodohkan dengan Elvin, Lena tak akan mengatakannya atau bahkan sekedar menyinggung perihal perjodohan untuk saat ini. Tapi paling tidak, Farel harus tahu tentang keputusan Lena yang kembali tinggal di rumah Dimilo, meski Lena tahu laki-laki itu pasti tidak akan setuju dengannya.
Helaan napas berat keluar dari mulut Lena sebelum dia menekan tombol dial dan meletakkan ponselnya di dekat telinga kirinya. Jantung gadis itu berdegub kencang, jari tangan digigitnya dengan gelisah, kakinya membawanya mondar-mandir ke penjuru kamar, matanya berulang kali melirik jam yang tertempel di dinding kamarnya. Melihat waktu yang sudah menunjukkan pukul 11 malam membuat Lena sedikit berharap semoga Farel sudah tertidur. Karena sesungguhnya Lena tak ingin memberitahu Farel, dia takut. Takut Farel akan marah padanya dan mengacuhkannya lagi, seperti dulu.
"Halo?"
Lena menelan ludahnya dengan susah payah membasahi tenggorokannya yang mendadak kering. Farel belum tidur. "Abang."
"Iya, kenapa?"
"Abang lagi sibuk?"
"Ya. Ada yang mau diomongin?"
"Iya."
"Ngomong aja. Gue lagi di studio, nggak bisa keluar."
Lena tersenyum lega. "Oh, sibuk banget ya? Kalau gitu, nanti aja aku telepon lagi." dia hanya mencoba mengulur waktu.
"Sekarang aja. Ini terakhir gue pegang hape. Mulai besok gue harus fokus."
Lena menghela napas berat.
"Kenapa?"
"Aku mau kasih tahu sesuatu, tapi Abang janji jangan marah."
"Apa?"
"Janji dulu, baru aku kasih tau."
Dari seberang sana Farel mendecakkan lidahnya dengan gemas. "Iya, janji."
"Aku wisuda kamis ini." kata Lena, memutuskan untuk memberitahu kabar gembira terlebih dahulu. Karena jujur saja dia masih ragu untuk mengatakan hal yang sebenarnya ingin dia katakan.
"Wah bagus dong! Selamat ya adiknya Abang!" Farel bersorak dengan riang dan berhasil membuat senyuman Lena melengkung lebar. "Itu kan kabar baik, kenapa gue harus marah dengarnya?"
"Karena sebenarnya bukan itu yang mau aku kasih tahu. Ada yang lain."
"Apa?"
"Tapi abang janji dulu sama aku."
"Ck. Iya, janji gak akan marah. Okay?"
"Janji bakalan datang ke wisudaan aku. Janji?"
"Kapan acaranya?"
"Kamis loh abang."
"Kamis?"
Lena mengangguk, meski dia tahu Farel tak bisa melihatnya. "Iya. Kenapa kaget gitu? Abang udah ada janji lain?"
"Abang gak bisa datang?"
"Liat nanti."
Lena berdecak sebal. "Liat nanti?" ketusnya. "Apa-apaan dibilangnya liat nanti?"
"Abang tuh harus datang tau! Adiknya mau wisuda masa gak datang?"
"I'm a bad brother, you know?"
"Emangnya itu bisa dijadiin alasan supaya nggak datang ke wisuda aku? Yaampun abang! Abang tuh ya--"
Lena terpaksa menelan kembali kata-katanya karena di seberang sana secara tak terduga seorang Alpharel Dimilo tertawa. Tawanya terdengar manis dan lembut.
KAMU SEDANG MEMBACA
ALPHABET [TAHAP REVISI]
Fiksi RemajaSepasang saudara yang terpisah karena sifat mereka yang bertolak belakang. Alpharel Dimilo atau yang biasa disapa Farel adalah anak sulung keras kepala dan pembangkang, sedangkan adiknya Bethalena Dimilo adalah seorang anak yang penurut. Namun ked...
![ALPHABET [TAHAP REVISI]](https://img.wattpad.com/cover/121120509-64-k490613.jpg)