Hari ini tidak hujan, tapi sebagian baju Kioki sukses menjadi basah. Lena terlihat baik-baik saja, meski sebenarnya tidak. Awalnya Kioki mengira semuanya akan berbeda ketika dia berada di taman ini untuk kali kedua. Hujan tidak turun dan Kioki tidak menemukan Lena dalam keadaan sedang menangis. Hari ini cuacanya cerah dan tidak terlalu panas walaupun matahari bersinar terik. Suasananya terasa hangat, terlebih lagi ketika dia memeluk Lena.
Ada dua alasan Kioki memeluk Lena. Pertama, karena dia merindukan gadisnya dan ingin sekali memeluknya untuk melepas rindu. Kedua, karena Kioki sadar gadisnya memerlukan sebuah pelukan untuk menenangkannya. Sebuah pelukan untuk melepas beban di hatinya. Kioki tahu ada sesuatu yang terjadi dengan Lena meski gadis itu belum mengatakannya, Kioki tahu Lena ingin menangis. Kioki bisa melihatnya dari mata gadis itu yang tidak memancarkan sinar-sinar keceriaan seperti biasanya. Meski gadis itu tersenyum, matanya tak ikut tersenyum. Kioki tahu karena mata tak bisa berbohong.
"Maaf udah bikin baju lo basah." itu yang Lena katakan setelah melepas pelukannya. Gadis itu menyeka sisa-sisa air mata di pipinya dengan kepala yang tertunduk. Tapi Kioki langsung menahan tangan gadis itu. "Lo cuma boleh nangis, nggak boleh hapus air mata."
"Lo nggak bisa nangis sendiri dan hapus air mata lo sendiri. Bukan gitu cara kerjanya." Kioki menyeka pipi Lena menggunakan ibu jarinya dengan lembut. "Setiap orang butuh oranglain untuk hapus air matanya, untuk ngebuat dia berhenti menangis dan lupain semua kesedihannya. Di sini lo punya gue, Lena. Gue akan selalu hapus air mata lo dan membuat lo merasa lega. Gue jamin, lo punya gue." Kioki menangkup pipi Lena dengan kedua tangannya, menatap gadis itu tepat di mata dengan tatapan yang lembut.
Lena tersenyum. Benar, dia memiliki Kioki. Benar, dia merasa lega karena laki-laki itu adalah miliknya. Mata mereka saling bertatapan cukup lama, tapi hanya Lena yang tersenyum. Sedangkan Kioki memasang ekspresi yang sulit dijelaskan, laki-laki itu terlihat sedikit kesal meski tatapannya melembut.
"Kenapa?" Lena meletakkan tangannya di atas tangan Kioki yang masih berada di pipinya. Melihat Kioki yang tidak tersenyum membuat Lena cemberut. "Gue jelek ya?"
Kioki menggeleng. "Gue pernah bilang sama lo, lo selalu cantik dalam kondisi apapun. Tapi lo lebih cantik kalo nggak nangis." Kioki merapikan rambut Lena dan menyelipkannya di telinga. "Dan gue nggak suka liat lo nangis. Meski bukan karena gue, gue benci sama diri gue sendiri setiap kali liat lo nangis. Gue benci karena ngebiarin orang lain nyakitin lo. Lo nggak pantas untuk disakiti, gue mau bilang itu ke orang itu. Gue pengen teriak tepat di muka dia dan jauhin dia sejauh-jauhnya dari lo. Gue mau buat dia menyesal karena udah buat cewek baik dan berharga kayak lo nangis. Gue mau buat dia nangis dan minta maaf ke lo, setelah itu gue mau dia menghilang."
"Kenapa lo mau dia menghilang?"
Kioki tersenyum ketika melihat wajah Lena yang sudah lebih baik dari sebelumnya, tidak ada lagi jejak air mata yang tersisa di pipi, rambut gadis itu juga sudah Kioki rapikan. Kalau begini, Lena terlihat lebih cantik. "Terkadang ada orang yang nggak bisa diberikan kesempatan kedua, dia tetap akan ngelakuin kesalahan yang sama meski udah dimaafin. Jadi lebih baik dia menghilang dari pada nanti buat lo nangis lagi."
"Cold heart." Lena mendengus.
"Just for the jerks who make my girl cry." Kioki terkekeh, lalu mencolek hidung Lena. "Seharusnya lo bilang uhh so sweet. Bukan malah ngatain gue dingin."
"Karena lo emang kedengaran dingin." Lena mendengus, lagi. "But, yeah, sweet in the same time."
Kioki menarik penuh senyumannya. Melihat lelakinya yang tersenyum puas membuat Lena ikut tersenyum. Hati Lena merasa tenang, seolah semua alasan dia menangis sudah terlupakan. Semua ini karena Kioki. Lena merasa beruntung memiliki laki-laki seperti Kioki yang selalu bisa membuatnya tersenyum dan melupakan semua masalahnya. Mereka saling pandang cukup lama, terhanyut ke dalam sepasang bola mata indah milik orang yang mereka sayangi. Sampai akhirnya Lena terpaksa memejamkan matanya karena Kioki yang tiba-tiba mengecup bibirnya. Laki-laki itu melakukannya dengan cepat, dia hanya menempelkan bibirnya di atas bibir Lena selama sepersekian detik. Meski begitu, Lena sukses dibuat berdebar. Jantung gadis itu bekerja melibihi dua kali lipat cepatnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
ALPHABET [TAHAP REVISI]
Teen FictionSepasang saudara yang terpisah karena sifat mereka yang bertolak belakang. Alpharel Dimilo atau yang biasa disapa Farel adalah anak sulung keras kepala dan pembangkang, sedangkan adiknya Bethalena Dimilo adalah seorang anak yang penurut. Namun ked...
![ALPHABET [TAHAP REVISI]](https://img.wattpad.com/cover/121120509-64-k490613.jpg)