63. Love Maze

338 54 2
                                        

Sehari setelah pertunangannya dengan Lena, tak ada satu hari pun Elvin lewati tanpa mencoba menemui Rona. Bahkan Elvin bisa dikatakan menjadi penguntit karena selalu mengikuti Rona kemanapun gadis itu pergi. Laki-laki itu tak pernah mencoba untuk berbicara dengan sang gadis, karena dia tahu Rona tak akan mau mendengarkan. Jadi Elvin hanya berada di dekatnya sambil menunggu waktu yang benar-benar tepat. Namun sepertinya itu tak akan terjadi karena Rona sama sekali tak pernah menganggapnya ada sejak hari pertama.

Padahal Elvin sudah mencoba menarik perhatiannya seperti duduk di hadapannya ketika mereka sedang di Kafe Nando, selalu menemaninya pulang pergi ke Kafe dengan cara berjalan berdampingan, bahkan selalu memberinya sebuket mawar hitam yang pasti akan berakhir di dalam tempat sampah yang sama setiap harinya. Namun Elvin tak pernah menyerah, bahkan ketika hari hujan dan kondisinya yang tidak sehat sekalipun.

Seperti pagi ini, rintik-rintik hujan sudah turun ketika Elvin menunggu di depan gerbang rumah Rona. Laki-laki itu mengenakan payung hitam berukuran cukup besar untuk bisa melindungi dua orang sekaligus, di tangan kanan Elvin ada sebuket mawar hitam. Tak lama kemudian pintu rumah Rona terbuka, gadis itu keluar dengan sebuah payung kecil di tangan dan tas gitar di punggungnya. Seperti tak melihat Elvin, gadis itu langsung melangkah setelah kembali menutup pintu.

Saat Rona sudah berada di hadapannya, Elvin langsung menyodorkan buket bunga itu. Bibir pucat laki-laki itu langsung tersenyum ketika Rona mengambil buket itu, meski dia tahu sang gadis pasti akan membuangnya lagi seperti bunga-bunga sebelumnya.

Elvin menyamakan langkahnya dengan Rona. Namun, baru beberapa langkah meninggalkan rumahnya, Rona berhenti. Matanya menatap tajam punggung Elvin yang berhenti dua langkah di depannya. Dan detik selanjutnya, Rona langsung melemparkan buket bunga itu ke punggung Elvin.

"Ngomong, bego!" ketus Rona sambil mengepal tangannya. "Cepat ngomong dan berhenti ganggu hidup gue."

Rona mendengus kesal ketika Elvin tak kunjung membalikkan badannya untuk berbicara dengannya.

"Selama ini lo ngapain sih? Tiap hari ngikutin gue, mau jadi stalker?" tanya Rona dengan suara yang sudah bergetar, sebenarnya saat ini dia sudah muak dengan semuanya. "Kalo ada yang mau lo omongin, mending lo omongin sekarang."

Rona masih melihat punggung Elvin yang sepertinya enggan untuk berbalik.

"Oke. Gue ngerti sekarang lo mendadak bisu. Kalo lo ngelakuin semua ini cuma untuk minta maaf, gue udah maafin lo. Jadi mulai hari ini lo nggak perlu ngikutin gue lagi. Ngerti?" Rona semakin mengepal tangannya, tatapan matanya seolah menusuk punggung Elvin. "Jauh-jauh dari gue."

Setelah tak mendapat respon dari Elvin, Rona langsung membalikkan badannya dan berjalan meninggalkan laki-laki itu.

Tak lama kemudian, Rona mendengar suara keras seperti sesuatu terjatuh ke atas tanah. Rona buru-buru membalikkan badannya dan mendapati tubuh Elvin yang sudah terbaring lemah di atas pedestrian. Dengan khawatir, Rona langsung berlari dan berlutut di samping laki-laki itu yang saat ini sudah memejamkan matanya.

"Elvin!" Rona menangkup wajah laki-laki itu dan merasakan betapa tingginya suhu badan Elvin. Rona juga baru menyadari bahwa bibir Elvin pucat dan kering. Seharusnya Rona memperhatikan laki-laki itu dari awal, namun dia justru tak meliriknya sedikitpun. "Elvin!"

A L P H A B E T

Lena sedang duduk di ayunan ketika gerimis turun tiba-tiba. Tahu bahwa tak ada lagi 'dia' yang akan memayunginya, Lena segera bangkit dari sana dan berteduh. Namun belum sempat Lena mengangkat bokongnya, seseorang sudah lebih dulu berdiri di hadapannya seolah menghalangi Lena untuk pergi.

ALPHABET [TAHAP REVISI]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang