Dengan senyum manis yang terus merekah, Lena ikut berbaris bersama ratusan manusia berbagai usia dengan mayoritas perempuan. Sebuah fansign sedang diadakan di lobi sebuah Mal terbesar di pusat kota. Sejak pagi tadi tempat itu sudah dipenuhi oleh para penggemar yang membawa pernak-pernik bertema Grup Band yang sedang naik daun itu--GENOCIDE, seperti kaus, kipas, banner, poster, topi dan lainnya. GENOCIDE sendiri adalah Band yang beranggotakan lima lelaki tampan yang berumur 20-an. Selain memiliki wajah yang fresh, kemampuan bermusik mereka juga bukan main-main. Hampir semua dari lagu GENOCIDE diproduksi oleh mereka sendiri.
Tak sedetikpun ruangan ini sunyi. Sejak GENOCIDE datang dan memberi salam, CYANIDE--sebutan untuk penggemar mereka--terus berteriak histeris. Mereka meneriakkan nama semua member, membalas semua perkataan, memotret dengan kamera canggih, mengagumi ketampanan lima laki-laki itu yang bak malaikat kasat mata, dan berteriak gemas tiap kali GENOCIDE melakukan sesuatu yang imut. Mereka adalah CYANIDE yang sesungguhnya, sama dengan Lena. Meski sebenarnya misi utama gadis itu mengikuti fansign bukan untuk bertemu GENOCIDE, melainkan abangnya.
Saat ini Lena sudah berada di depan meja panjang tempat GENOCIDE berinteraksi dengan CYANIDE secara dekat. Member yang duduk di tempat pertama adalah Elvin sang main vocalist sekaligus visual. disebelahnya ada Audio sang leader, Kioki keyboardist lucu, Arka drummer bayi berbadan kekar, dan yang terakhir Farel sang gitaris sekaligus penulis untuk banyak lagu yang sudah mereka rilis.
"Hai cantik~ Siapa namanya?" sapa Elvin dengan senyum yang menawan dan kilatan nakal yang seksi di matanya, meski begitu suaranya terdengar ramah dan menyenangkan.
Lena membalas dengan senyum semringah khas anak kecil yang lucu, gadis itu selalu senang tiap kali para member menanyakan namanya. "Bethalena!"
"Bethalena?"
"Betha-Lena!" sahut Lena semangat dan penuh penekanan. Elvin yang mendengarnya tanpa sadar langsung tertawa gemas.
"Imutnya." gumam Elvin hampir tak bersuara sambil menandatangani album dan poster yang dibawa Lena.
"Kak El juga imut kok! Kulit Kak El putih banget kaya bakpau, tapi pipinya nggak tembem. Coba aja kalo tembem, pasti makin imut."
Elvin terperangah, dia tak menyangka pujiannya terdengar oleh Lena. Tapi di luar dugaannya, biasanya ketika Elvin memuji seorang penggemar, orang itu pasti akan histeris atau mungkin tertunduk malu. Tapi Lena justru malah membalas pujiannya, dia juga blak-blakan. Manis.
"Nggak ah, imutan kamu lah kemana-mana!"
Lagi-lagi di luar dugaan Elvin, Lena memberengut dan menatapnya tajam, tangan kanannya menuding Elvin. "Dilarang gombal! Nanti kalo misalnya jadi baper gimana? Mau ngasih kepastian?"
Sungguh, ini kali pertamanya ada seorang penggemar yang menolak bahkan mengomeli Elvin. Bisa-bisa image Elvin si main vocal yang suka gombal dan tebar pesona runtuh karena penolakan Lena. Tapi Elvin justru tak bisa merasa kesal, dia malah tertawa. Gadis di hadapannya ini sungguh lucu.
"Kenapa harus ngasih kepastian cobak?" Elvin bertanya iseng.
"Karena cewek butuh yang pasti-pasti. Kalo nggak pasti ya tinggalin. Tapi sayang, ninggalinnya susah."
"Aku nggak perlu ngasih kepastian dong ke kamu, kan kita udah pasti. Ya nggak?" lagi-lagi Elvin menggombali Lena.
Gadis itu menggeleng cepat. "Nggak tuh. Kita putus sekarang, bye!"
Elvin terkekeh, kenapa Lena sangat menggemaskan? Bahkan ketika dia berlakon memutuskan hubungannya dengan Elvin, lelaki itu malah dibuat gemas, sama sekali tidak kesal meski hubungan mereka diputuskan sebelah pihak.
KAMU SEDANG MEMBACA
ALPHABET [TAHAP REVISI]
Fiksyen RemajaSepasang saudara yang terpisah karena sifat mereka yang bertolak belakang. Alpharel Dimilo atau yang biasa disapa Farel adalah anak sulung keras kepala dan pembangkang, sedangkan adiknya Bethalena Dimilo adalah seorang anak yang penurut. Namun ked...
![ALPHABET [TAHAP REVISI]](https://img.wattpad.com/cover/121120509-64-k490613.jpg)