"Buka bajunya"
"Na, gue nggak siap" Kioki tersipu malu sambil mendekap menyembunyikan tubuhnya.
"Kalo nggak dibuka, gimana mau diobatin?" Tanya Lena dengan sebuah kain basah di tangannya. Saat ini mereka sudah berada di ruang tengah penginapan, di atas meja tersedia kotak P3K dan sebaskom air hangat. "Dibersihin dulu lukanya"
"Gue bisa kok, Na. Biar gue bersihin sendiri aja ya?"
"Nggak."
"Tapi gue bisa kok"
"Nggak."
"Lena" Kioki merengek sambil menggoyang-goyangkan tubuhnya seperti anak kecil, namun kemudian langsung meringis karna merasakan perih di perutnya.
"Tuh kan, dibilangin juga." Lena menghela napas jengah, lalu bergeser mendekati Kioki. "Sini, biar gue obatin. Nggak akan sakit kok, nggak perlu takut"
Tangan Lena perlahan mendekati kemeja Kioki, ketika dia mencoba melepaskan kancing itu, Kioki menangkap tangannya dengan hangat. "Gue nggak takut kalo ini bakal sakit, yang gue takutin lo akan jijik ngeliat isi di balik kemeja ini. Ada banyak rahasia di dalam sini, Na"
"Kioki, gue nggak akan jijik. Udah tiga tahun gue membedah mayat, keluar-masukin ginjal segala macam. Cita-cita gue jadi dokter, udah biasa bagi gue untuk berhadapan dengan darah. Bahkan luka lo bukan apa-apa bagi gue" Lena menatap ke dalam manik mata Kioki, mencoba meyakinkan lelaki itu. "Jadi, biarin gue obatin luka lo, sebelum lo terinfeksi"
Hening sesaat.
"Gue nggak lagi ngomongin tentang luka ini" Kioki berujar pelan, matanya tak mampu menatap Lena. "Ada banyak yang nggak lo tau tentang gue, Bethalena"
"Gue tau banyak hal tentang lo, Kioki. Lo lupa ya? Gue kan CYANIDE! Dan lo, Kioki si main vokal sekaligus pianis GENOCIDE, lo member terfavorit gue!"
Kioki jelas tak bisa menyembunyikan senyum yang begitu saja tertarik di bibirnya, namun ada satu yang masih mengganjal di hatinya. "Lo bohong. Member favorit lo kan Bang Farel. Kemaren pas konser, lo bawa pernak-pernik Bang Farel, bukan pernak-pernik gue"
"Itu karna waktu itu gue malu" Salting lebih tepatnya. Lo minta nomor hape gue sih.
"Yaudah, cepat buka bajunya biar gue obatin sebelum terinfeksi" Lena kembali memaksa Kioki sambil menggeser pantatnya mendekati lelaki itu.
"Tunggu, buktiin dulu baru gue mau lo obatin"
"Oke" Lena menarik napas. "Nama lo Kioki, lahir 27 November 22 tahun yang lalu di RS. Budi Mulia. Hobi semua hal berbau musik, lo bisa main saxophone. Anak tunggal. Alergi kacang dan paling suka makan semangka. Lo punya satu bekas luka di perut karna jatuh dari sepeda pas kelas 2 SD"
Kioki hanya tersenyum, dan Lena kurang puas karna lelaki itu tidak menarik penuh urat di bibirnya. "Buktinya masih kurang?"
"Oke gue tambahin. Lo cucu kesayangan oma dan lo paling sayang sama dia karna lo udah tinggal sama oma sejak kecil" Lena menambahi dengan senyuman bangga.
"Kok lo bisa tau sampe situ?" Kioki tergelak.
"Semua CYANIDE pasti tau, informasi tentang kalian berserakan di google"
"Tapi nggak semuanya benar"
"Iya" Lena setuju, karna sebagian besar 'fakta Farel GENOCIDE' yang dia cari di google, bukanlah sebuah fakta.
"Bahkan nama gue nggak tertera dengan benar di sana, atau di manapun." Kioki berucap dengan suaranya yang tiba-tiba menjadi rendah.
"Maksud lo?"
KAMU SEDANG MEMBACA
ALPHABET [TAHAP REVISI]
Teen FictionSepasang saudara yang terpisah karena sifat mereka yang bertolak belakang. Alpharel Dimilo atau yang biasa disapa Farel adalah anak sulung keras kepala dan pembangkang, sedangkan adiknya Bethalena Dimilo adalah seorang anak yang penurut. Namun ked...
![ALPHABET [TAHAP REVISI]](https://img.wattpad.com/cover/121120509-64-k490613.jpg)