21.1 MAMA

542 81 2
                                        

Farel panik setengah mati ketika mengetahui Bundanya mendadak mendatangi rumah Dimilo yang jaraknya hampir 100 mil dari tempatnya tinggal, sambil marah-marah pula. Farel memang sempat mengabari Keira tentang adiknya yang minggat dari rumah, lelaki itu pun sampai menangis tersedu-sedu ketika menceritakan itu. Farel memang hampir tak pernah curhat, apa lagi sampai menangis, bahkan dia dijuluki 'Sang Hati Baja' oleh membernya karna tak pernah menitikkan setetes air matapun selama mereka tinggal bersama.

Namun nyatanya Farel tetaplah seorang manusia, dia bisa juga menangis, meski hanya sang Bundalah satu-satunya orang yang diizinkan untuk tahu. Karna memang hanya Keira tempatnya mengadu.

Tapi jelas bukan ini yang Farel harapkan dari sesi mengadunya, dia hanya ingin Keira tahu tentang Lena, hanya sebatas itu, sama seperti biasanya Farel memberi kabar tentang gadis itu ke Bundanya. Hanya sebatas memberi kabar, bukannya ingin sang Bunda memasang badan dan melabrak pihak yang bersangkutan karna sudah membuat anaknya menangis. Sumpah, Farel bukan anak kecil cengeng yang selalu bergantung pada Mamanya tiap kali mainannya diambil oleh temannya dan sang Mama akan langsung memarahi temannya itu. Namun, kondisinya saat ini jelas terlihat seperti itu.

Ketika mendapat panggilan dari Chrisdy, Farel buru-buru mendatangi rumah Dimilo sebelum semuanya terlambat.

🚧ALPHABET🚧

"Dimana Zidan?" Itu adalah kalimat pertama yang diucapkan Keira ketika melihat Liliana dan Chrisdy menuruni anak tangga untuk menemuinya di ruang tamu.

Kening Liliana mengerut kala memperhatikan sosok Keira yang berdiri di hadapannya dengan mengenakan sweater coklat gelap yang longgar dan rok floral sebatas mata kaki, alas kaki perempuan itu hanya berupa sandal jepit. Penampilan Keira memang sederhana, namun justru terlihat berkelas karna postur tubuhnya yang tinggi ramping bak seorang model di usia separuh baya. Liliana benci mengakui itu.

Keira belum mendapat jawaban dari Liliana, namun tiba-tiba seorang penjaga langsung menarik tangannya setelah mengejar Keira karna menerobos masuk. Lelaki itu hendak menarik Keira keluar setelah membungkukkan badan kepada Liliana, namun Keira langsung menepis tangannya dengan kasar. "Maaf, tapi anda harus keluar."

"Diam kamu!" Keira menepis tangannya lagi, dan detik berikutnya penjaga itu langsung pergi ketika Liliana memerintahkannya.

Liliana berdiri di atas tangga terakhir bersama Chrisdy di sampingnya. Perempuan itu menatap Keira dengan tatapan yang sarat akan intimidasi dan disertai dengan senyuman yang lebih tepat disebut sebagai seringai.

"Wah, sudah lama ya, Keira."

Keira hanya diam di tempatnya, menatap intens Ibu dan anak di hadapannya itu dengan napas yang memburu. Perempuan itu berusaha sekuat tenaga untuk mengendalikan emosinya, kembali ke rumah ini sudah cukup membuat darahnya mendidih. Ditambah lagi harus berhadapan dengan sosok Liliana.

"Duduk dulu dong, masa orang bertamu nggak mau duduk sih, Keira?"

"Nggak perlu basa-basi." Keira menekan kata-katanya. "Saya cuma mau ketemu Zidan."

"Kenapa? Kangen?"

"Najis!"

"Oh, gitu ya. Aku kira kamu bakal kangen setelah 9 tahun nggak ketemu Zidan. Ternyata enggak, ya." Liliana semakin menarik senyum jahatnya sambil melipat tangan di atas dada. "Bagus deh."

Kedua tangan Keira terkepal dengan kuat di samping badannya, matanya menatap tajam sosok Liliana. Jika saja Keira adalah Keira yang dulu, sudah pasti sebuah tamparan akan mendarat dengan keras di pipi Liliana. Namun Liliana beruntung, karna Keira yang sekarang bukanlah Keira yang dulu.

ALPHABET [TAHAP REVISI]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang