"Kenapa sih?" tanya Lena gemas, dari tadi Kioki terus membuang muka dengan tangan yang terlipat di atas dada. Laki-laki itu memberengut, bibir bawahnya maju satu centi.
"Makasih Tante, makasih Om, makasih Lala," Kioki menirukan Lena dengan bibirnya yang masih dimajukan. "Makasih Kioki mana?"
Oh ternyata karena itu.
"Nggak mau," kata Lena, sibuk menatap bunga tulip merah muda yang belum mekar sempurna itu dengan senyuman di bibirnya.
"Itu bunganya dari gue loh, gue pilih jenisnya khusus buat lo. Cantik kan?" Kioki berusaha menarik perhatian Lena dengan cara memajukan kepalanya mendekati gadis itu.
Lena langsung menghindar. "Ini bunga dari Mama kok, bukan dari lo. Nggak usah ngaku-ngaku, ya."
"Ih, dari gue padahal!"
"Nggak, dari Mama! Lala bilang Mama yang beli."
"Yaiyalah, gue yang minta beliin. Makanya dibeliin. Kalo nggak gue minta pasti nggak dibeliin. Jadi intinya bunga itu dari gue. Titik." Kioki berdiri di depan Lena dengan tangan yang kembali dilipat. "Coba tebak deh, kenapa gue ngasih tulip merah muda untuk lo?"
Lena berdecak, matanya menatap Kioki. "Kalo bunga ini emang beneran dari lo, kenapa nggak lo aja yang beli sendiri? Kenapa harus nyuruh Mama?"
Tatapan Kioki yang semula kokoh, kini melemah. Pundaknya yang tegap, kini turun. Laki-laki itu menghela napas berat, mendadak rasa bersalah yang kemarin muncul lagi.
"Kalo aja gue bisa bebas, bebas keluar dari sini, bebas pergi kemanapun, bebas ketemu lo kapanpun gue mau, bebas bisa datang ke acara kelulusan lo, bebas bisa meluk lo hari itu. Kalo aja gue bebas dari jadi Kioki Genocide, gue nggak akan minta tolong Mama untuk beliin bunga buat lo, Lena. Kalo aja gue bebas, gue nggak akan ngelakuin ini sekarang."
Lena langsung terkejut, dia tak menyangka akan mendengar Kioki yang tiba-tiba berbicara serius. Padahal niat Lena hanya iseng.
"Ini memalukan," kata Kioki, matanya jatuh ke sebuket bunga yang digenggam Lena. "Seharusnya gue ngelakuin semuanya lebih istimewa karena ini kelulusan lo. Tapi gue justru melakukannya dengan cara kayak gini. Nggak keren."
Dengan cepat Lena menggelengkan kepalanya. "Ini udah istimewa kok."
"Nggak, Lena. Padahal gue nggak sesibuk yang lo pikirin, tapi gue malah nggak bisa memberi waktu gue untuk lo. Gue minta maaf," ucap Kioki. "Dan maaf karena nggak selalu ada padahal gue tau lo butuh gue. Gue merasa hina banget karena nggak bisa nepatin apa yang udah gue bilang ke lo. Gue minta ma—"
"Sstt!" Lena langsung menutup mulut Kioki dengan telapak tangannya. "Nggak usah ngomong yang macam-macam lagi."
"Lo nggak salah apa-apa, jadi jangan minta maaf."
Kioki menggelengkan kepalanya, tangannya menurunkan milik Lena dari mulutnya dengan lembut. Kemudian menggenggamnya.
"Gue udah buat lo nangis, itu jelas kesalahan terbesar gue."
"Itu nggak membuat lo pantas untuk menyebut diri lo hina, Kioki. Gue udah biasa nangis, jadi nggak masalah."
"Iya, lo emang sering nangis, dan gue bilang gue akan selalu menghapus air mata lo. Tapi lo justru nangis karena gue, dan gue nggak ada untuk menghapus air mata lo itu. Jadi, siapa orang yang lebih hina dari gue?"
"Lo nggak hina, oke?" Lena mengeratkan genggaman tangannya di tangan Kioki. "Lo Luki Hoki Rajawardhana, ingat? Lo adalah keberuntungan keluarga Rajawardhana, keberuntungan gue. Seharusnya gue yang minta maaf karena udah ngebuat lo merasa hina, padahal lo sama sekali nggak gitu."
KAMU SEDANG MEMBACA
ALPHABET [TAHAP REVISI]
Novela JuvenilSepasang saudara yang terpisah karena sifat mereka yang bertolak belakang. Alpharel Dimilo atau yang biasa disapa Farel adalah anak sulung keras kepala dan pembangkang, sedangkan adiknya Bethalena Dimilo adalah seorang anak yang penurut. Namun ked...
![ALPHABET [TAHAP REVISI]](https://img.wattpad.com/cover/121120509-64-k490613.jpg)