"Bagaimana keadaan pergelangan tangan Anda, Saudari Bethalena?" adalah pertanyaan pertama yang dilontarkan Hakim pada Lena.
Lena tersenyum sambil mengelus pergelangan tangannya yang tersemat gelang shooting star. "Sekarang udah baik-baik aja."
"Bagaimana keadaannya sebelum sekarang?" tanya Hakim itu lagi. "Apa Benar Terdakwa menyakiti Anda seperti yang dikatakan Saudara Farel?"
"Saya yakin Abang nggak melakukannya dengan sengaja." jawab Lena sambil melirik Chrisdy yang sontak tersenyum mendengar jawabannya. "Dia cuma nggak suka melihat saya dekat dengan Farel. Abang menarik tangan saya sampai saya hampir terjatuh dan menyeret saya untuk masuk ke dalam mobil sampai tangan saya memar dan saya meringis kesakitan, bukannya tanpa alasan. Melainkan karena Abang benci melihat saya bersama Farel."
"Walaupun saya merintih dan memohon Abang untuk melepaskan tangannya karena itu terasa menyakitkan, Abang justru semakin mencengkramnya, menarik saya menjauhi Farel." ucap Lena yang mendapati respon berbeda dari Chrisdy, laki-laki itu seperti tak percaya dengan apa yang dikatakan adiknya. "Tapi itu memang salah saya. Saya keras kepala. Seharusnya saya mendengarkan Abang dan masuk ke dalam mobil. Kalau saja saya melakukan itu, mungkin tangan saya nggak akan memar dan mereka nggak akan berkelahi."
"Lantas kenapa Anda tidak menuruti Terdakwa saat itu?"
Lena menghela napasnya, senyuman tipis tersungging di bibirnya. "Karena saya lebih suka bersama Farel dari pada harus bersama Dimilo."
Sontak saya jawaban Lena langsung membuat seisi ruangan kembali heboh. Farel langsung tersenyum bangga sambil melirik teman-temannya yang saat ini jelas sedang tegang mengikuti jalannya sidang dengan serius. Sedangkan wajah Zidan langsung berubah kaku, matanya menatap tajam sosok Lena yang duduk di kursi saksi.
"Jadi, Anda lebih suka bersama orang lain dari pada bersama keluarga? Anda membenci keluarga Anda?"
Lena langsung menggeleng. "Justru karena saya mencintai keluarga saya."
"Kehadiran saya sebagai saksi adalah untuk keluarga saya karena saya yakin abang saya nggak bersalah." lanjut Lena yang sontak membuat senyum Farel mengembang karena dia yakin 'abang' yang dimaksud Lena adalah dirinya, sedangkan Chrisdy memberi respon yang bertolak belakang karena dia ragu yang dimaksud Lena adalah dirinya.
Sang Hakim hanya mengangguk mendengar pernyataan Lena, kemudian berkata "Baiklah kalau begitu, silakan.."
"Yang Mulia!" Jaksa perempuan buru-buru mengangkat tangannya ketika Hakim hendak menyudahi kesaksian Lena. Hakim itu mempersilakan sang Jaksa, kemudian Jaksa tersebut berdiri mengahadap Lena. "Saudara Bethalena, menurut kesaksian Saudara Farel, ambulan dan polisi tiba-tiba datang saat itu. Bisa Anda jelaskan kapan tepatnya ambulan dan polisi datang ke TKP?"
"Mereka datang sangat cepat." jawab Lena sambil mencoba menimbang rentangan waktu di kepalanya. "Mungkin dua atau tiga menit setelah Abang pingsan."
"Apa Anda yang menelepon mereka?"
"Bukan." Lena menggeleng. "Saya terlalu panik saat itu, sibuk melerai mereka. Bahkan ketika Abang pingsan, saya hanya mencoba melakukan CPR."
"Dan kemudian ambulan bersama mobil polisi datang begitu saja?" tanya Jaksa tersebut.
Lena mengangguk. "Kalaupun memang benar saya yang menelepon, mereka nggak akan datang secepat itu."
Sang Jaksa tersenyum puas, matanya melirik Chrisdy sebentar, lalu kembali menatap Lena. "Baiklah, terimakasih banyak."
"Cukup, Yang Mulia. Terimakasih." ucap Jaksa tersebut sebelum akhirnya kembali duduk dan menulis sesuatu di kertasnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
ALPHABET [TAHAP REVISI]
Fiksi RemajaSepasang saudara yang terpisah karena sifat mereka yang bertolak belakang. Alpharel Dimilo atau yang biasa disapa Farel adalah anak sulung keras kepala dan pembangkang, sedangkan adiknya Bethalena Dimilo adalah seorang anak yang penurut. Namun ked...
![ALPHABET [TAHAP REVISI]](https://img.wattpad.com/cover/121120509-64-k490613.jpg)