66. Ending Scene

435 55 4
                                        

Farel yang sedang sibuk mengurus perisapan comeback dengan Genocide terpaksa harus kembali ke Bandung karena Lena yang ingin membicarakan sesuatu yang serius dengannya. Tanpa protes bahkan tanpa banyak tanya, Farel langsung menuruti permintaan adiknya itu.

Jadi di sinilah dirinya sekarang, berdiri dengan posisi setengah duduk di atas kap mesin mobil Daniel bersama Lena yang duduk bersila di sampingnya. Farel melipat tangannya sembari mendengar Lena dengan serius, laki-laki itu tidak menyela sama sekali. Dia hanya mendengarkan sambil mengadahkan kepalanya menatap bintang di langit.

"Lena, dengar." Farel memutar badannya sedikit untuk menghadap Lena ketika gadis itu sudah selesai berbicara. "Lo sama sekali nggak butuh ijin dari gue. Gue nggak akan melarang kalo lo emang berniat menerima tawaran Zidan."

"Bunda sama Ayah juga sama. Jadi lo jangan merasa berat hati. Ini kesempatan besar buat lo, Lena. Lagian, memang ini kan yang selama ini lo impikan?"

Lena menghela napas berat. "Tapi aku nggak bisa tinggalin kalian, Abang. Kita baru aja bisa bersama lagi."

"Na, bersama bukan berarti harus selalu dekat secara fisik. Bersama itu artinya dekat secara hati. Itulah kenapa ada yang namanya LDR, mereka saling terpisah oleh jarak tapi hati mereka tetap bersama." ucap Farel. "Lo tahu nggak sih yang lo bilang tadi seolah nyinggung gue?"

"Hmm?" Lena menatap Farel bingung.

"Gue udah ninggalin kalian ke Jakarta demi karir dan mimpi gue padahal kita baru aja bisa sama-sama lagi."

Lena langsung menggeleng. "Aku nggak pernah beranggapan bahwa Bang Alpha ninggalin kami kok."

"Yap, benar." Farel ikut menganggukkan kepalanya, namun dengan gerakan yang bersemangat. "Gue, Bunda, dan Ayah juga nggak akan beranggapan bahwa lo berniat untuk ninggalian kami."

Mendengar itu, kepala Lena langsung tersentak seolah ada sesuatu yang menghantam kesadarannya dan membuka matanya. Lena menolehkan kepalanya menatap Farel yang sedang tersenyum padanya.

"Sekarang lo ngerti, kan?"

"Tapi Abang cuma ke Jakarta, sedangkan aku—"

Kalimat Lena terhenti ketika Farel tiba-tiba menekan kening Lena dengan jari telunjuknya, seperti menekan tombol diam.

"Jarak itu bukan masalah, Bethalena." Farel mendorong tangannya, membuat kepala Lena terdorong ke belakang. Laki-laki itu melakukannya berulang kali. "Lo bengal banget ya dikasih tahu."

Lena langsung cemberut, dan detik kemudian gadis itu langsung berteriak manja. "Bunda! Bang Alpha anu kepalaku!"

Farel langsung menarik kepala Lena ke dadanya untuk meredam teriakan adiknya itu, lalu dia pura-pura mengelus kepala Lena dengan sayang ketika Keira dan Daniel mendadak muncul di depan pintu. Melihat betapa akur kedua anaknya, Daniel dan Keira hanya tersenyum bangga kemudian kembali masuk ke dalam rumah.

Lena mendorong tubuh Farel untuk meloloskan kepalanya dari abangnya itu. Kemudian gadis itu turun dari kap mobil.
"Kejar aku kalo berani!" tantangnya seperti anak kecil yang menyebalkan.

Farel meringis kesal. "Awas lo ya kalo dapat jangan nangis lo ya."

Lena hanya memeletkan lidahnya mengejek Farel dan detik selanjutnya langsung berlari kencang karena abangnya yang sudah bersiap menangkapnya.

"Bunda liat! Bang Alpha kejar-kejar aku!"

A L P H A B E T

Keesokan harinya Lena mengikuti Farel kembali ke dorm Genocide karena laki-laki itu yang memintanya untuk melakukan perpisahan dengan orang-orang yang beberapa bulan ini dekat dengannya. Terutama Kioki. Meski hubungan Lena dan laki-laki itu tak seperti dulu, setidaknya Lena harus memperbaikinya sebelum benar-benar pergi meninggalkannya. Namun Kioki justru tidak ada di dorm ketika Lena ada di sana.

ALPHABET [TAHAP REVISI]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang