55. Does That Make Sense?

306 42 3
                                        

Taman rumah sakit masih sepi pagi itu, bahkan bisa dikatakan hampir tak ada orang selain Lena dan Chrisdy. Mungkin karena masih terlalu pagi dan matahati belum seutuhnya menampakkan diri. Suasana yang sepi terasa semakin pekat tanpa adanya kata yang terucap dari bibir mereka. Yang terdengar hanya suara kursi roda yang Lena dorong menabrak dedaunan kering di atas jalan setapak.

Hingga akhirnya Chrisdy memilih untuk berbicara lebih dulu. "Maaf," katanya dengan suara yang sangat lirih.

"Hm?" Lena menundukkan kepalanya untuk mendengar Chrisdy lebih jelas. "Abang ngomong sesuatu?"

Chrisdy langsung tersenyum, ada sesuatu yang membuatnya senang ketika Lena memanggilnya begitu.

"Pergelangan tangan kamu masih sakit?" tanya Chrisdy sambil menolehkan kepalanya menatap Lena yang mendorong kursi rodanya. "Maaf, tanpa sadar abang narik tangan kamu sekenceng itu. Masih sakit?"

Lena menatap pergelangan tangannya yang sempat memar tempo hari. Memar di tangannya yang tak seberapa itu menjadi kekhawatiran yang besar untuk Farel, Kioki, dan Daniel. Mereka bahkan melakukan sesuatu karena itu, sesuatu yang bisa dikatakan berlebihan hanya karena pergelangan tangan yang memar. Farel langsung menghajar Chrisdy sesaat setelah laki-laki itu menarik tangan Lena, Kioki menemani Lena check up, bahkan Daniel mengajukan sidang.

Tapi, apa yang dikatakan Chrisdy barusan? Maaf? Maaf karena melakukannya tanpa sadar?

"Udah nggak sakit kok." ucap Lena dengan senyum yang terbit di bibirnya, pada kenyataannya itu memang hanya memar biasa. "Tangannya memar doang, bukan apa-apa."

"Jangan bohong."

Langkah Lena langsung terhenti. Itu bukan suara Chrisdy, suara itu berasal dari depan. Lena langsung mendongakkan kepalanya dan detik selanjutnya matanya bertatapan dengan Farel yang duduk di kursi roda yang hanya berjarak beberapa langkah di depan Chrisdy.
Di belakangnya ada Kioki yang mendorongnya. Tatapan kedua laki-laki itu jelas menunjukkan perasaan tak suka ketika melihat Lena yang berdiri di belakang kursi roda Chrisdy, atau mungkin mereka hanya cemburu.

"Tangan lo memarnya nggak ilang dalam waktu empat lima hari, lo bahkan langsung teriak waktu tangan lo gue tekan pelan." tukas Farel yang sebenarnya untuk Lena, namun tatapannya justru menyerbu Chrisdy. "Itu yang lo bilang bukan apa-apa?"

"Iya." Kioki mendukung apa yang dikatakan Farel. "Waktu itu gue juga coba tekan tangan lo, terus lo langsung pukul gue sambil teriak. Berarti tangan lo beneran sakit kan? Sakit banget kan?"

Kioki berdecak. "Terus apanya yang bukan apa-apa?" katanya dengan kesal. "Lo terluka dan itu nggak bisa disembuhin cuma dengan kata maaf."

Chrisdy mengepal tangannya di atas paha. Matanya menatap tajam milik Farel yang dari tadi juga menatapnya dengan cara yang sama.

"Gue—"

"Ya." Lena langsung menyela sebelum Chrisdy berhasil melanjutkan ucapannya. Di luar dugaan Farel dan Kioki, Lena justru menatap mereka dengan sorotan mata yang tak bisa dibaca. Gadis itu terlihat marah, namun juga kecewa dan sedih. Entah lah, Kioki sulit memahaminya. Lena terlihat seperti sedang menahan tangisnya, tapi kenapa?

"Tanganku cuma memar dan kalian bilang itu nggak bisa dipertanggungjawabkan dengan kata maaf. Terus, apa kabar dengan kondisi bang Chrisdy yang sempat koma?" Lena mengkokohkan tatapannya ke Farel. "Apa yang bisa Abang lakuin sebagai pertanggungjawaban?"

"Lena.." Farel langsung menatap adiknya tak percaya. Ada sesuatu yang memukul hatinya ketika Lena jelas-jelas memihak kepada Chrisdy. Kioki juga tak mampu berkata-kata setelah melihat Lena seperti itu.

ALPHABET [TAHAP REVISI]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang