64. POWER UP

351 53 1
                                        

Sidang kali ini lebih menegangkan dari sidang sebelumnya. Liliana merasakannya. Lebih banyak orang yang hadir hari ini, bahkan keluarga Elvin secara lengkap menempati tempat duduk di dekat Dimilo. Elvin juga ada, duduk bergabung dengan Genocide bersama Rona meski nyatanya hubungannya dengan Genocide sama sekali belum membaik. Genocide masih kecewa padanya, terutama Audio. Mereka bahkan tak bertegur sapa lagi setelah berkelahi di rumah Kioki, Elvin juga baru menampakkan mukanya hari ini.

Dan yang lebih membuat suasana menjadi tegang adalah kedatangan seorang laki-laki tua di saat persidangan akan dibuka oleh protokol. Laki-laki tua itu menjadi pusat perhatian lantaran kehadirannya membuat sang protokol terpaksa menurunkan micnya. Dan meskipun laki-laki itu sudah berumur, sosoknya masih terlihat tegas dengan sebuah tongkat hitam mengkilap yang membantunya berjalan.

"Eyang?" senyum Lena langsung mengembang ketika mengenali siapa laki-laki itu. Gadis itu segera berdiri, menjemput kakeknya dengan sebuah pelukan hangat dan menuntunnya untuk duduk di sebelahnya.

Setelah Lena dan Eyang sudah menempati tempat duduk, protokol langsung membuka persidangan.

"Eyang sendiri aja?" tanya Lena. "Mana Eyangti?"

Eyang mendekatkan kepalanya ke telinga Lena, kemudian berbisik, "Eyangti Eyang kurung di rumah. Tidak diizinkan ikut."

Lena langsung terperangah, namun tertawa kemudian. "Eyang jahat banget."

"Hoho, tentu tidak. Eyangmu ini adalah Eyang yang paling baik." kata Eyang yang hanya dihadiahi anggukan setuju dari Lena.

Dari tempatnya duduk, Kioki memperhatikan Lena yang terlihat lebih bahagia hari ini. Gadis itu kini sudah ditemani oleh seseorang yang bahkan bisa membuatnya tertawa, tidak seperti sidang sebelumnya saat yang dilakukan Lena hanya berusaha terlihat baik-baik saja. Kali ini Lena terlihat lebih santai. Ketika Kioki ingin menolehkan kepalanya, matanya bertemu dengan Eyang. Kioki langsung menyentakkan kepalanya karena tertangkap basah, namun Eyang justru terkekeh melihatnya. Kioki segera menundukkan kepalanya dan mengangkat tangannya ke samping kepala untuk menyembunyikan wajahnya dari Eyang.

Di samping Kioki, Keira dan Farel juga memperhatikan mereka dengan seulas senyuman lega yang mengembang di bibir. Ketika Eyang melihat mereka, mereka langsung menganggukkan kepala seperti mengucap salam. Eyang membalasnya sambil tersenyum. Kemudian Farel mengacungkan jempolnya seolah mengatakan bahwa Eyang sudah melakukan hal yang hebat karena datang ke sini. Lalu kepala Daniel tiba-tiba muncul di balik Farel, laki-laki itu langsung tersenyum dan menganggukkan kepalanya dengan sopan. Wajah Eyang awalnya terlihat bingung, namun ketika tangan Farel bergerak menunjuk Keira dan Daniel secara bergantian lalu membentuk tangannya menjadi hati, akhirnya Eyang paham. Laki-laki itu langsung menganggukkan kepalanya dan memberikan dua jempol kepada mereka.

Interaksi mereka dihentikan oleh ketukan palu Hakim sebanyak tiga kali. Sidang dimulai. Semua orang memperhatikan persidangan dengan serius. Kali ini Jaksa membahas tentang kesehatan Farel, serta bukti-bukti berupa hasil rontgen tulang punggung, catatan kesehatan, dan pernyataan kesaksian seorang dokter.

Bona memasuki arena sidang ketika diminta oleh Hakim. Setelah membaca sumpah, gadis itu duduk di kursi saksi.

"Saudari Bona Thalea, apa benar Anda adalah dokter dari rumah sakit tempat Saudara Chrisdy dan Saudara Farel dirawat?" tanya sang Hakim.

Bona mengangguk. "Iya, tapi saya cuma bertugas merawat Farel dan tidak diizinkan untuk memasuki kamar inap Chrisdy."

"Kenapa Anda tidak diizinkan masuk ke sana?"

"Semua orang nggak diperkenankan masuk ke sana kecuali seorang dokter yang merawat Chrisdy."

"Kenapa begitu?"

ALPHABET [TAHAP REVISI]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang