Kioki demam. Suhu badannya naik. Keringat dingin mulai membasahi sekujur tubuhnya. Bibirnya pucat dan menggigil. Seharian ini dia hanya bisa meringkuh di balik selimutnya. Untuk berjalan dan duduk di meja makan saja dia tak sanggup, Elvin terpaksa harus menyuapinya.
"Cemen banget sih, baru jatoh gitu aja udah langsung demam!" Elvin mengomel dengan semangkung bubur di tangan kiri dan sendok di tangan yang satunya. "Buka mulut lo. Cepat makan, biar bisa minum obat."
"Gue bisa makan sendiri."
"Lo lagi sakit masih bisa keras kepala, ya."
Kioki hanya tersenyum, kemudian menuruti Elvin dengan membuka mulutnya. Kalau sudah begini, Elvin terlihat seperti Omanya Kioki, cerewet dan terlampau perhatian. Maka dari itu Kioki menurut.
"Kita balik ke Jakarta sore ini." Ucap Elvin sambil memasukkan sesendok penuh bubur ke dalam mulut Kioki. "Lo bisa bertahan sampe nanti kan?"
"Gue cuma demam, bang."
"Emang lo pikir, demam nggak bisa bikin orang mati? Nih ya, Ki, tetangga gue aja meninggal cuma karna sariawan."
"Bang, itu nggak ada hubungannya sama demam."
"Anggap aja ada." Elvin berkata santai, yang hanya dibalas Kioki dengan tawa yang lemah.
"Gue minta maaf ya, bang El. Liburan kita jadi kacau gara-gara gue."
"Selo aja lah. Kesehatan lo itu lebih penting dari pada liburan. Lagian, gue juga pengen balik cepet kok."
"Karna perintah bokap lo?"
Elvin menggeleng, kemudian tersenyum semringah. "Karna gue pengen ketemu pacar gue."
🚧ALPHABET🚧
Ruangan kerja Zidan tampak seperti ruang pengadilan di mata Lena. Ketika gadis itu membuka pintu, wajah Liliana menjadi yang pertama yang dilihatnya. Wanita setengah baya itu berdiri di depan meja dengan tangan bersedekap, di belakangnya Zidan duduk dengan tegap di kursi yang tiap-tiap kakinya terdapat roda.
Lena melangkahkan kakinya mendekati orangtuanya setelah menghela napas terlebih dahulu. Chrisdy mengikutinya di belakang.
"Ada apa?" Lena dengan berani menatap Zidan tepat di bola matanya.
"Begitu caramu berbicara dengan Papimu?" Sindir Liliana yang sama sekali tidak dihiraukan Lena.
"Kemana aja kamu dua hari ini?" Zidan langsung bertanya dengan tegas dan membuat nyali Lena hampir ciut. "Papi nggak melihatmu ada di rumah."
"Tumben nanya."
Di saat Zidan hanya diam, malah Liliana yang memekik geram. "Astaga, anak ini!"
"Kamu masih berhubungan dengan Alpharel?"
Satu pertanyaan itu sama sekali tak pernah Lena duga akan dilontarkan oleh Zidan. Lena kira Papinya itu hanya akan bertanya tentang Lilo. Lena diam di tempatnya, nyalinya benar-benar ciut. Zidan pasti akan marah lebih besar dari yang Lena perkirakan jika menyangkut tentang Farel.
"Oh, pantas kamu begini, pembangkang!" Zidan memulai sesi ceramahnya, Lena hanya menunduk sedangkan yang lainnya menjadi penonton.
"Sebenarnya apa sih yang kamu mau? Papi udah turutin semua keinginan kamu! Nggak suka bisnis, oke. Kuliah kedokteran, oke. Temenan sama rocker, oke. Papi nggak mempermasalahkan itu."
KAMU SEDANG MEMBACA
ALPHABET [TAHAP REVISI]
Teen FictionSepasang saudara yang terpisah karena sifat mereka yang bertolak belakang. Alpharel Dimilo atau yang biasa disapa Farel adalah anak sulung keras kepala dan pembangkang, sedangkan adiknya Bethalena Dimilo adalah seorang anak yang penurut. Namun ked...
![ALPHABET [TAHAP REVISI]](https://img.wattpad.com/cover/121120509-64-k490613.jpg)