68. Happily Ever After

760 71 15
                                        

Setelah mengabari Genocide dan manajernya,  akhirnya Kioki menemani Lena untuk menjemput Liona di sekolahnya. Lena sempat mengajak Kioki untuk naik taxi, namun laki-laki itu menolaknya dengan mengatakan dia ingin menghabiskan waktu lebih lama bersama Lena. Lena hanya menurutinya karena kebetulan sekolah Liona juga tak jauh dari venue.

Di sepanjang jalan mereka tak banyak bicara. Jarak mereka bahkan bisa dibilang cukup jauh. Meski mereka berjalan bersebelahan, tapi setidaknya ada lima langkah ke samping yang memisahkan mereka. Walaupun Lena sudah sengaja mengambil jarak, tetap saja masih ada orang yang memperhatikan mereka. Terutama Lena, dia merasa semua orang yang berjalan di sekitarnya memperhatikan dirinya.

"Kita kejauhan." kata Kioki sambil mengambil tiga langkah mendekati Lena. "Kayak orang lagi berantem aja."

"Lo nggak pake masker." ucap Lena. "Semua orang liatin kita."

"Lo yang masih pake jubah dokter." balas Kioki sambil melirik tubuh Lena yang dibaluti jubah putih. "Semua orang liatin lo."

Kening Lena mengerut, lantas dia menundukkan kepalanya untuk melihat apa yang terpasang di tubuhnya sekarang. Lena langsung menyentakkan kepalanya ketika mengetahui bahwa yang dikatakan Kioki ternyata benar. Oh, jadi itulah mengapa supir taxi tadi mengetahui bahwa Lena adalah seorang dokter. Gadis itu langsung meringis, lantas menghentikan langkahnya untuk melepas jubah itu.

Namun Kioki langsung berdiri di hadapannya dan membantunya melepas jubah putih itu. Ada seulas senyuman gemas terbit di bibirnya.

"Lo kayaknya buru-buru banget. Apa yang lo kejar?" tanya Kioki sambil memberikan jubah yang sudah terlepas dari tubuh Lena itu ke pemiliknya.

Lena menerimanya sambil mendongakkan kepala menatap Kioki. Mata mereka saling bertemu. Lena menarik napasnya, kemudian menjawab dengan suara yang lembut. "Lo."

Tubuh Kioki refleks tersentak, tak menyangka akan mendengar jawab seperti itu dari Lena.

"Bang Alpha, Kak Audio,  Kak El—"

Kalimat Lena langsung terhenti dan kedua matanya praktis terbuka ke bukaan maksimal saat Kioki tiba-tiba saja memajukan mukanya ke depan muka Lena membuat jarak diantara mereka sangat sempit. Kalau saja jantung bisa meledak, mungkin milik Lena sudah pecah sekarang.

"Gue tahu lo bohong." ucap Kioki dengan suaranya yang berat. Lena mengedipkan matanya berkali-kali ketika merasakan napas laki-laki itu menyapu wajahnya. "Jangan memaksa gue untuk melakukan ini karena gue tahu bakalan ada orang yang marah."

"Mama!"

Kioki langsung membalikkan tubuhnya ketika mendengar suara cempreng khas anak kecil itu mendekati mereka. Kioki langsung menepi ketika gadis kecil berumur 4 tahun berlari ke arah Lena sambil melebarkan kedua tangannya.

Tahu bahwa anak itu memanggilnya, Lena lantas merubah posisinya menjadi jongkok sehingga dia bisa langsung memeluk gadis kecil itu.

"Mama, why are you so late?" tanyanya ketika Lena sudah menggendongnya. "Liona is scared. Teman-teman udah pulang duluan, tinggal Liona sendiri. Takut."

"Bu Guru nggak temanin Liona?" tanya Lena sambil menyelipkan rambut panjang Liona ke belakang telinga. "Oh ya, kok Liona bisa ada di sini? Kan sekolah Liona masih jauh."

"Liona lari, karena Liona nggak mau tunggu lama-lama lagi." Liona mengalungkan lengannya di leher Lena, kemudian meletakkan  kepalanya di pundak perempuan itu. "I miss you, Ma."

Lena menghela napasnya, lalu menurunkan Liona dari gendongannya. Kemudian Lena kembali merubah posisinya menjadi jongkok untuk menyamai tingginya dengan Liona.

ALPHABET [TAHAP REVISI]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang