"Nak Lena, Oma benar-benar sakit kan?" Oma bertanya dengan polosnya, sambil masih batuk-batuk yang disengaja. Kini Lena tahu, sikap Kioki diturunkan oleh Omanya.
"Iya, Oma sakit beneran kok." Lena menyimpan stetoskopnya ke dalam tas sandang.
"Oma sakit apa?" Kioki dan Lala kompak bertanya, kemudian saling menatap kesal karna tidak suka menjadi kompak.
"Demam."
"Serius?" Lagi, Lala dan Kioki kompak.
"Kok bisa, Oma?" Kening Lala mengerut, kemudian gadis kecil itu duduk di samping Omanya dan meletakkan punggung tangannya di kening Oma. "Bukannya tadi kita cuma pura-pura aja ya? Supaya Mas Luki mau pulang kalau tahu Oma sakit. Iya kan, Oma?"
Kioki terhenyak, dia merasakan sesuatu seperti menampar hatinya bolak-balik. Astaga, apa sebegitu inginnya orang rumah melihat Kioki pulang sampai harus pura-pura sakit segala? Ya ampun, Kioki merasa jahat.
"Iya, aku mendiagnosa Oma terserang demam rindu." Ucap Lena mengambil posisi berdiri di samping Kioki.
"Lala juga sama!" Lala berseru keras sambil meraih tangan kanan Kioki dan mendongakkan kepalanya untuk bertatapan dengan pemilik tangan itu. "Lala juga lagi demam rindu! Lala rindu Mas Luki!"
Lena tersenyum, kemudian menyenggol Kioki, menyuruhnya untuk segera menggendong Lala. Karna memang itu lah yang seharusnya dilakukan oleh seorang Kakak untuk Adiknya yang sedang rindu.
Tapi Kioki tak mengartikan senggolan Lena dengan indah, cowok itu justru langsung mengambil tempat untuk duduk di samping Omanya, dan secara otomatis membuat tangan kecil Lala terlepas dengan paksa dari tangannya.
"Ya ampun, Oma. Kalau kangen kan bisa Video Call, kayak nggak pernah aja, malahan hampir tiap hari kita Video Call-an, kan?" Kioki mengambil tangan Omanya dan mengelusnya dengan lembut.
"Oma maunya ketemu sama kamu, peluk kamu, cubit kamu. Video Call nggak bisa gitu, rindu Oma nggak berkurang sama sekali." Oma mengusap pipi Kioki dengan hangat. "Kamu makin kurus aja, Cucu. Oma sukanya kalau kamu gendut, kamu harus banyak makan."
"Oma juga kurusan. Oma nggak dikasih makan ya?"
"Hus! Kamu ini ngomong apa sih?!" Oma mencubit pipi Kioki dengan gemas. "Tentu aja Oma makan, ini rumah Oma! Bukan orang lain yang kasih Oma makan, tapi Oma makan sendiri!"
"Tapi yang masak ya Mama kamu. Masakan Mama kamu enak, Oma senang sekarang dia mau tinggal di sini. Oma jadi nggak kesepian lagi, ada adik kamu juga, Ayah kamu." Lanjut Oma.
Kioki tersenyum lega. "Baguslah, berarti mereka membayar dengan benar."
"Membayar apa?"
"Mereka sekarang tinggal di sini, dulu mereka bahkan hampir nggak pernah mengunjungi Oma. Sekarang aja, karna udah bangkrut, mereka malah lari ke Oma. Seenggaknya, mereka harus bayar uang kontrakan. Tapi karna nggak punya uang, bayarnya dengan jagain Oma aja udah cukup."
Lena asli dibuat terkejut dengan kata-kata Kioki yang terkesan dingin dan kejam, ini memang bukan pertama kali bagi Lena, mengingat kejadian di ATM. Namun tetap saja mengejutkan, Kioki tidak seharusnya berbicara seperti itu tentang orangtuanya. Terlebih lagi, di depan Lala. Ini sungguh kejam.
Suasana menjadi hening, Lena tahu dia tak seharusnya ada di sini, jadi gadis itu buru-buru keluar dari kamar mengajak Lala. "La, kita bantuin Mama kamu masak, yuk?" Begitu yang dibisikkan Lena ke telinga gadis kecil itu, Lala hanya menurut dan mereka pun pergi meninggalkan Kioki dan Oma dengan pintu yang tertutup.
"Kioki, tarik kata-kata kamu." Oma berkata dengan tenang.
"Aku nggak mengatakan hal yang salah, Oma. Itu kenyataannya."
KAMU SEDANG MEMBACA
ALPHABET [TAHAP REVISI]
Roman pour AdolescentsSepasang saudara yang terpisah karena sifat mereka yang bertolak belakang. Alpharel Dimilo atau yang biasa disapa Farel adalah anak sulung keras kepala dan pembangkang, sedangkan adiknya Bethalena Dimilo adalah seorang anak yang penurut. Namun ked...
![ALPHABET [TAHAP REVISI]](https://img.wattpad.com/cover/121120509-64-k490613.jpg)