15. Hold Me Tight

556 106 18
                                        

Hujan dan hari pun mulai gelap. Namun Chrisdy tak kunjung berhenti berlarian ke sana ke sini mencari jejak Lena. Kemana adiknya itu pergi? Siapa yang dia tuju?
Chrisdy sungguh khawatir.

Lelaki itu sendiri tak tahu kenapa dia bisa sepeduli ini dengan Lena, padahal Liliana sudah melarangnya untuk mencari gadis itu. Namun hati yang menggerakkan tekadnya untuk menemukan Lena dan memintanya kembali ke rumah. Karna Chrisdy memang tak sanggup kehilangan satu-satunya semangat hidupnya, sebut saja dia egois karna memang begitu kenyataannya.

Chrisdy cemas, Lena tidak menjawab teleponnya. Hujan semakin deras dan jas abu-abu yang dikenakannya sudah basah total, rambutnya yang semula kering dan tertata rapi kini sudah lepek dan basah. Meski begitu, Chrisdy tak mau menyerah.

Sampai akhirnya langkah lelaki itu berhenti ketika dia sampai di taman bermain yang biasa dia dan adiknya kunjungi saat kecil dulu. Astaga, bagaimana Chrisdy bisa lupa dengan tempat ini? Padahal jaraknya tak begitu jauh dari rumahnya.

Akhirnya Chrisdy menghela napas lega saat menemukan Lena yang duduk di ayunan, tangan gadis itu menggenggam erat tali ayunan yang berada di kanan dan kirinya. Dilihat dari jarak jauhpun siapa saja bisa tahu, tangan itu menjadi merah saking kuatnya genggaman itu.

Chrisdy masih betah berdiri di tempatnya tanpa mampu mendekati Lena. Dia hanya berdiri di belakang gadis itu dengan jarak beberapa langkah, memandangi punggung dan bahu Lena yang naik-turun karna menangis sesegukan. Gadis itu membiarkan dirinya kehujanan dan basah kuyup dengan ditemani sebuah kopor besar yang setia berdiri di sampingnya.

"Lena, ayo pulang!" Chrisdy langsung menarik tangan Lena begitu dia berdiri di depan gadis itu.

"Untuk apa?" Lena menyentakkan tangannya sampai terlepas dari Chrisdy. "Toh nggak ada yang mau aku tetap tinggal di rumah!"

"Abang mau kamu tetap tinggal!"

Lena tertawa masam. "Abang nggak usah ngelucu!"

"Abang mau kamu balik ke rumah, Bethalena!"

"Abang nggak perlu lagi bersikap kayak gini ke aku. Aku nggak butuh lagi."

"Apa maksud kamu?! Kenapa kamu tiba-tiba jadi kayak Alpha sih?!"

"Karna aku adiknya." Lena menjawab cepat, penuh penekanan. "Mulai sekarang Abang nggak perlu pura-pura jadi abangku lagi. Karna dari dulu sampai sekarangpun, Abangku cuma Alpharel!"

"Kamu ngelantur. Mungkin kepalamu jadi pusing karna kehujanan." Chrisdy kembali menarik tangan Lena. "Ayo pulang, Lena!"

"Cukup!" Lena memekik sambil menghempas tangan Chrisdy dengan kasar. "Berhenti bersikap seolah-olah kamu abangku! Aku muak!"

🚧ALPHABET🚧

"Bang Alpha.... Maafin aku.. Aku nggak bisa jagain rumah."

Hanya itu yang Farel dengan dari Voice note yang dikirim Lena. Napas gadis itu tersengal, terlalu banyak jeda di kalimatnya yang singkat itu, dan suaranya pun serak. Itu sudah cukup membuat Farel tahu, adiknya menangis.

Tanpa mengatakan apapun, Farel langsung mencampakkan ponselnya di atas sofa dan melongos menuju kamarnya untuk mengambil jaket dan topi hitam.

"Ka, gue cabut. Ada urusan." Dengan hanya mengatakan itu Farel kemudian pergi sambil memakai topi yang sedikit menutupi wajahnya. Karna profesinya, dia harus berhati-hati dengan paparazi setiap pergi keluar.

"Kok tiba-tiba? Mau kemana?"

Bukannya menjawab pertanyaan Arka yang keliatannya tidak terlalu peduli dan masih fokus dengan PS, Farel berkata "Lewat jam 12, kunci aja pintu. Mungkin gue nggak pulang."

ALPHABET [TAHAP REVISI]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang