27. JUST ONE DAY

601 72 12
                                        

Hari ini adalah hari yang akan terus Kioki ingat sampai dia tua dan pikun nanti. Hari ini membuatnya percaya bahwa nama yang diberikan Papanya adalah sebuah doa yang terkabul. Kioki merasa beruntung, paling beruntung di dunia karna akhirnya bisa mendapatkan Lena. Klise memang, tapi itu yang benar-benar Kioki rasakan.

Namun kebahagiaan Kioki tak berlangsung lama, karna semesta punya cara sendiri untuk membuat Kioki merasa tak tenang dengan kebahagiaannya.

"Besok pagi Bunda mau balik ke Bandung," Itu yang Kioki dengar ketika dia dan Lena sampai di ruang makan dan melihat Keira, Farel serta Lilo berkumpul di sana. Keira yang duduk di kursi kepala meja langsung menyuruh mereka untuk duduk. Lena mengambil tempat di samping Farel, sedangkan Kioki duduk di samping Lilo dan berhadapan dengan gadisnya. "Bersama Lena." Lanjut Keira yang membuat Kioki hampir tersedak.

"Maksudnya, Lena bakalan tinggal di Bandung?"

"Kenapa? Lo nggak senang?" Farel balik bertanya ke Kioki.

"Jadi maksudnya, kami bakal LDR-an?!" Tanya Kioki mulai panik, masalahnya dia dan Lena bahkan belum genap satu jam pacaran tapi sudah harus berpisah. Memang sih bukan berpisah karna putus, tapi cuma berpisah karna beda kota. Tapi tetap saja, Kioki mana bisa tahan jauh dari Lena. Sedangkan saat tinggal di satu kota dan Lena tidak membalas pesannya saja Kioki nekad mendatangi rumahnya. Lalu, bagaimana kalau beda kota dan Lena tidak mengangkat telponnya? Lelaki itu akan lebih nekad lagi pastinya.

"Ya iyalah." Jawab Keira, Farel, serta Lilo dengan santai. Lalu detik berikutnya langsung tersadar dengan ucapan Kioki. "APA?!" Pekik mereka hampir serempak.

"Kalian udah jadian?!"

"Iya, soalnya Lena bilang pacaran aja dulu, padahal aku maunya langsung nikah." Jawab Kioki dengan santai sedangkan Lena sedari tadi menahan dirinya untuk tidak membenturkan kepala ke meja makan. Gadis itu hanya diam di tempatnya dengan pipi menyala dan mata yang menghindari kontak dengan siapapun.

"Langsung nikah?!"

Kioki menghela napas berat, jengah mendapat pertanyaan dari tiga kepala sekaligus. "Kenapa sih? Kok kayak nggak senang gitu?"

"Bukannya nggak senang." Ujar Farel. "Nikah tuh nggak segampang omongan lo."

Mengabaikan ucapan Farel, Kioki memilih untuk berbicara dengan Keira. "Bunda nggak setuju ya kalo Lena nikah sama aku?"

"Kioki," Keira berujar dengan lembut sambil menunjukkan senyuman manisnya. "Bunda suka sama keberanian kamu. Tapi benar apa yang dibilang Farel. Kalian juga masih muda, kalian mau menyia-nyiakan masa muda kalian? Terus gimana sama mimpi kalian nanti kalau kalian menikah muda?"

Semuanya terdiam. Kalau Keira sudah berbicara serius, tidak ada yang berani membuka mulut. Mereka hanya diam meresapi kata demi kata penuh makna yang keluar dari mulut Keira.

"Gimana sama karir kamu nanti, Kioki? GENOCIDE baru berdiri 3 tahun, kamu yakin mau lepas Bandmu gitu aja? Itu mimpi kamu loh. Itu cita-cita kamu. Memangnya kamu mau berhenti di tengah jalan?" Ucap Keira dengan suara yang lembut. "Bukan cuma Kioki, tapi Lena juga. Lena bahkan belum jadi dokter seperti yang dia impikan, ya emang sih tinggal tunggu wisuda aja. Tapi nggak segampang itu, Lena masih harus koas dua tahun, terus kuliah lagi untuk jadi dokter spesialis."

Diam-diam Kioki menatap Lena yang dari tadi menundukkan kepala, lelaki itu baru menyadari bahwa dia begitu egois. Mengajak Lena menikah dengan mudahnya padahal gadis itu punya mimpi yang harus dikejar. Selama ini Kioki merasa dia hanya memikirkan dirinya saja, selalu berpikiran bahwa Lena menolaknya karna tidak menyukainya. Padahal gadis itu hanya ingin mencapai cita-citanya.

ALPHABET [TAHAP REVISI]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang