67. My Second Date

421 63 3
                                        

Sudah tujuh tahun semenjak pertama kali Lena tinggal di negara ini. Lena sangat berterimakasih pada Zidan karena sudah membiayai studinya dan menyediakan sebuah apartemen mewah atas nama Lena. Selain itu lingkungan tempat Lena tinggal cukup nyaman dan semua tetangganya sangat ramah. Universitasnya dulu dan rumah sakit tempatnya bekerja sekarang jaraknya cukup dekat dari apatemennya. Zidan memang sudah mempersiapkan semuanya dengan baik untuk Lena.

Lena masih terduduk di depan meja riasnya, gadis itu melihat arloji di pergelangan tangan kanannya yang sudah menunjukkan pukul 10, lalu kepalanya mendengak untuk menatap jubah putih yang dipakainya setiap hari kini hanya tergantung di belakang pintu kamarnya. Lena mengambil cuti hari ini, bahkan dia sudah mengajukan permohonan cutinya ini dari jauh-jauh hari agar hari ini semuanya berjalan dengan lancar.

Lamunan Lena buyar ketika ponselnya berdering, gadis itu langsung menjawab panggilannya ketika melihat nama Farel tertera di sana.

"Halo?"

"Lo datang kan?"

Sebelum menjawab, Lena meraih sebuah tiket berwarna emas mengkilap di atas meja riasnya, mencari sesuatu yang tertulis di sana. "Mulainya jam 1 kan? Masih tiga jam lagi."

"Lo harus datang loh ya. Itu tiket VVIP loh. Walaupun bukan dari gue, ya pokoknya sayang aja kalo sampe lo sia-siain. Lo nggak tahu aja kan berapa banyak orang yang rebutan untuk dapetin tiket itu?"

"I know. Aku juga udah pernah ngerasain gimana rasanya berjuang dapetin tiket konser."

"Nah itu tahu. Pokoknya lo harus dateng, emangnya lo nggak kangen sama gue? Sama Genocide?"

Lena menghela napasnya, baru saja dia ingin membalas abangnya yang sekarang sudah berubah menjadi cerewet, namun Farel kembali berbicara membuktikan bahwa dia memang sudah berubah menjadi sangat cerewet.

"Nggak kangen sama Kioki?"

Tenggorokan Lena langsung tercekat ketika mendengar nama itu. Kioki. Laki-laki yang pernah dia cintai dan mencintainya tujuh tahun yang lalu. Laki-laki yang tak pernah Lena dengar kabarnya lagi setelah mereka saling mengucapkan goodnight tujuh tahun yang lalu.

Benar, sudah tujuh tahun dan semuanya sudah berubah. Lena menyadarinya. Lena semakin dewasa dan sekarang sudah sibuk dengan profesinya sebagai dokter, sedangkan Kioki semakin sukses dengan karirnya bersama Genocide. Masing-masing dari mereka sudah tumbuh menjadi orang yang lebih kuat. Mereka bukan lagi dua orang yang sama seperti tujuh tahun yang lalu. Namun Lena menyadari sesuatu yang lebih dari itu, ada satu yang tak berubah dari dirinya. Jantungnya masih bereaksi persis seperti tujuh tahun yang lalu ketika dia mendengar nama Kioki.

"Pokoknya dateng ya! Kalo nggak dateng biar gue sama Genocide yang langsung datengin lo ke rumah sakit!"

Tut...

Farel langsung memutuskan panggilan sebelum Lena sempat menjawab pertanyaannya. Apa dia tidak merindukan Kioki? Tentu saja tidak—tidak mungkin tidak.
Bahkan Lena tak pernah melupakan Kioki satu detikpun, laki-laki itu adalah bagian kisah favorit Lena.

Namun yang menjadi pertanyaan Lena adalah apakah Kioki juga merasakan yang sama?
Apa Kioki sekarang sudah bisa memaafkannya?
Apa Kioki masih membencinya? Karena semenjak tujuh tahun yang lalu, Lena mengira Kioki membencinya.

A L P H A B E T

Lena sudah duduk di tempatnya, tempat yang dulu sempat dia mimpikan namun baru terwujud sekarang. Dulu, bukannya Lena tak bisa membeli tiket VVIP konser Genocide, dia mampu secara finansial namun sulit dilakukannya karena pengeluarannya dulu sering diawasi oleh Zidan. Saat itu Lena jelas tak mau mengambil resiko. Sekarang akhirnya keinginannya kesampaian, bahkan dia tak perlu mengeluarkan satu rupiahpun untuk mendapatkan tiket itu. Tiket itu tiba-tiba saja ada di atas meja kerja Lena bersama dengan setangkai tulip merah mudah. Lena tak tahu siapa pengirimnya, namun tepat setelah Lena menerima itu, dia langsung menerika telepon dari Farel yang menanyakan apakah gadis itu sudah menerima tiketnya.

ALPHABET [TAHAP REVISI]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang