65. Silver Spoon

351 50 0
                                        

Di hari yang sama ketika sidang terakhir dilaksanakan, malamnya Genocide menggelar 'Malam Puncak' seperti yang sudah mereka rencanakan jauh-jauh hari. Malam Puncak yang mereka maksud adalah konser tunggal dadakan dan super sederhana yang mereka gelar di pedestrian tempat biasa Alisya mengamen. Ya, Genocide bekerja sama dengan gadis itu. Itulah kenapa Audio dan Arka mencoba menemuinya malam itu, mereka ingin meminta tolong.

Genocide melakukan malam puncak itu tanpa sepengetahuan agensi dan penggemarnya. Namun, Mike berhasil meretas situs resmi agensi dan mengumumkan pelaksanaan konser mereka tiga puluh menit sebelum dimulai. Maka dari itu saat ini pedestrian sampai ke jalan raya sudah ramai dan padat dengan Cyanide dan pejalan kaki yang kebetulan lewat dan penasaran dengan mereka. Namun mereka belum memulainya karena sedang menunggu Elvin yang baru dikabari tentang rencana mereka ini. Jadi mereka memutuskan untuk menunggu Elvin dahulu di balik bus di dekat sana.

"Hei." Kioki duduk di samping Alisya yang sedang melamun.

Alisya mendongakkan kepalanya, lalu tersenyum membalas Kioki. "Hei."

"Deg-degan?"

"Lebih dari biasanya." jawab Alisya. "Soalnya banyak banget orang di sana, gue takut nggak bisa napas."

"Santai." kata Kioki. "Ingat aja betapa beraninya lo datang tengah malam ke dorm Genocide sambil marah-marah."

Alisya langsung tertawa canggung ketika mengingat kelakuannya waktu itu. "Maaf, gue salah paham waktu itu."

"Santai." kata Kioki lagi. "Oh ya, gimana kabar bokap lo? Taxinya baik-baik aja?"

"Pak Suparman baik-baik aja." Alisya mendengus. "Dia seneng banget waktu gue kasih tahu bakalan ngamen bareng Band lo."

"Gini katanya 'aden itu emang handsome inside outside ya, buktinya dia sudi ngamen bareng kamu' kan agak kampret."

Kioki hanya terkekeh mendengar cerita Alisya.

"Tenang, dia masih nyimpan rahasia lo kok." kata Alisya. "Jadi, gimana kabar cewek itu sekarang?"

Memori otak Kioki tiba-tiba terputar ke waktu Lena dilempari telur oleh Cyanide, dan dia langsung merutuki dirinya dalam hati karena tidak melindungi gadis itu.

"Kita udah nggak sama-sama lagi."

Alisya langsung meringis. "Wah, sayang banget uang 2 juta lo. Padahal lo rela-relain ngeluarin segitu banyak uang untuk ngeliatin dia di kereta dan nyogok bokap gue untuk tutup mulut."

Kioki langsung menolehkan kepalanya dan menatap tajam Alisya.

Alisya tertawa. "Gue bercanda, oke?"

Alisya bangkit dari duduknya, kemudian melongos pergi setelah menepuk pundak Kioki sambil berkata, "Santai dong, santai."

"Tu orang ngeri banget. Perasaan waktu pertama kali ketemu nggak gitu deh." Alisya bergumam sendiri sambil berjalan mendekati Audio dan yang lainnya. "Padahal di cerita Ayah, dia baik banget kayak malaikat."

"Ayo kita mulai." ucap Audio sambil menatap arlojinya dengan ekspresi sedikit kesal. "Mereka udah nunggu terlalu lama."

"Nggak nunggu teman lo yang satu lagi?" tanya Alisya.

"Gue udah kasih tahu Bang Elvin, Bang. Dia pasti datang kok." kata Arka. "Gue telepon dia lagi deh suruh cepet."

"Nggak usah naif, Arka. Dia nggak akan datang."

"Yo, telat dikit lagi nggak apa lah." ucap Farel. "Nanti apa kata Cyanide kalo kita nampil tanpa Elvin?"

"Dia bukan Genocide lagi." ucap Audio tegas dna langsung membuat membernya terkejut. "Maaf gue lupa kasih tahu kalian. Jadi ayo kita mulai sekarang."

ALPHABET [TAHAP REVISI]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang