XLVI

642 42 1
                                        


Sabtu siang, Hendra sudah berada di rumah Delvin. Ia bersama teman dekatnya itu duduk di sofa ruang keluarga dan menceritakan perihal pertemuannya dengan Gendhis kemarin. Delvin mendengarkan dengan seksama dan turut prihatin dengan masalah temannya yang tak kunjung usai dengan sang mantan. 

"Gue rasa si Gendhis udah enggak waras. Segitunya amat enggak bisa balikan sama lu. Padahal kalau dilihat-lihat, lu juga enggak spesial-spesial amat selain muka doang yang gantengan dikit. Jangan-jangan lu punya ajian pelet kali, ya sampai bikin anak orang kayak gitu." Komentar Delvin.

"Yee, lu kalau ngomong jangan asal ngelantur. Enggak butuh gue pakai hal-hal enggak logic gitu." Hendra gantian mengomel, "si Gendhis tuh emang tabiatnya jelek dari dulu. Jadi cewek yang terlalu dominan dan suka ngatur-ngatur. Kalau ingat jaman dulu, sebenarnya malu kalau tahu dia bikin masalah mulu sama cewek-cewek yang gak tahu apa-apa soal masalah kecemburuan dan posesifnya itu."

"Tapi, dulu kan lu juga betah digituin."

"Enggak bisa dibilang betah juga, bro.. gue bertahan karena masih berharap dia mau berubah."

"Hufhh, ya udahlah enggak usah lu inget-inget lagi deh sifat garangnya yang lalu-lalu, yang penting sekarang, tindakan lu apa buat dia?"

"Gue udah jalanin masukan lu. Gue udah rekam semua omongan dia di HP." Ia mengeluarkan ponsel dari saku celana.

"Nah bagus tuh, tinggal lu ancam balik aja pakai bukti rekaman."

Hendra mengibaskan tangan kanannya, "Males gue ancam-ancaman, mau langsung gue eksekusi aja biar dia enggak bisa deketin gue lagi."

"Maksud lu?"

Hendra terlihat berpikir, "Menurut lu mending gue kasih rekaman ini ke orangtuanya atau... polisi?"

"Hah? Polisi? Seriusan lu ada pikiran buat ngelaporin dia?"

Hendra menganggukkan kepalanya, "Iya.... Hmmm atau gue langsung ke polisi aja, ya? biar ditangkap dan enggak bisa keliling di hidup gue lagi."

"Wah, kalau lu tanya pendapat gue... mending lu kasih tahu orangtuanya aja, deh biar mereka yang nanganin. Anak orang tuh, kasihan juga kalau langsung dibui."

"Gue enggak ada rasa kasihan sih sama Gendhis atau orangtuanya. Abis setahu gue, Gendhis kayak gitu juga karena kurang perhatian dan selalu dimanja pakai harta." Hendra berkomentar dengan santai.

"Ya tapi, lu jangan gitu juga lah, bro. Gimanapun juga pasti semua orangtua sedih kalau anaknya punya masalah yang berkaitan sama hukum."

Hendra menyandarkan tubuhnya ke belakang dan mendecak sebal, "Terus maksud lu gue benar-benar harus ngehubungi orangtuanya, gitu?"

Delvin mengangguk, "Lu masih simpan nomor mereka?"

"Masih, sih tapi enggak tahu deh kalau mereka ganti nomor."

"Coba lu hubungi mereka sekarang."

Hendra kembali menegakkan punggung, "Kalau nomor mereka enggak aktif, gue akan langsung ke kantor polisi aja. Malas nyari tahunya, nanti keburu si Gendhis ngelakuin hal yang berbahaya sama gue dan murid gue."

"Iya, deh terserah lu." Delvin membalas dengan pasrah.

"Lu jadi saksi gue, ya bro." Hendra meletakkan tangannya di pundak kiri Delvin dengan mantap.

"Iya, siap."

Hendra tersenyum bangga dengan kesetiaan temannya itu. Kemudian, ia mulai mencari-cari nomor telepon orangtua Gendhis yang dahulu masih disimpannya.

Alone (slow update)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang