XXIII

1.8K 67 0
                                    

"Ada kejadian apa, hari ini?" pertanyaan Pak Hendra menyita perhatianku dari tugas Ekonomi yang 80%-nya telah kuselesaikan.

"Maksud Bapak, kejadian apa?" aku tak mengerti dengan pertanyaannya yang tiba-tiba dan terasa menggantung.

"Bapak perhatikan dari masuk rumah sampai keluar lagi dari kamar, tatapan kamu kosong. Badan kamu disini dan tapi pikirannya di tempat lain. Ada yang lagi dipikirin dengan serius, ya? Apa ada hal buruk yang terjadi setelah Jani pergi?"

"Enggak juga."

Pak Hendra yang semula akan meminum teh buatannya, berhenti, "Enggak juga? Berarti ada indikasi gangguan dong di sekolah? Si Tara, ya?" tanyanya lagi dengan pandangan penuh telisik. "Bapak udah curiga dari omongannya pas perpisahan Jani di jam istirahat." Katanya lagi.

"Bukan." Aku berbohong sambil menundukkan kepala.

"Udah jangan bohong sama Bapak . . . kelihatan kok, kalau omongan Bapak ada benarnya, kan?" ia baru melanjutkan tindakannya untuk meneguk isi dalam cangkir putihnya.

Aku menghela nafas panjang. Baru sebentar tinggal di rumah ini, aku sudah merasa tak bisa menyimpan rahasia apapun. Rasa-rasanya hal yang ingin kurahasiakan bisa terbaca oleh Pak Hendra.

"Diapain?" tanya Pak Hendra lagi, nadanya terdengar lebih sabar—menunggu persetujuanku untuk menceritakan hal yang sebenarnya.

"Enggak diapa-apain, cuma sedikit salah paham." Aku mengakui, "daripada itu, ada hal lain yang lebih penting dan mengganggu saya hari ini."

"Tentang apa?" tanya Pak Hendra lagi.

"Tara, Clara, Frisda dan Sisyl tahu kalau saya bekerja sehabis pulang sekolah di restoran. Saya khawatir mereka akan menyebarkan kenyataan ini dan didengar sama pihak sekolah."

"Lho, kan emang saya juga udah tahu Saya salah satu dari pihak sekolah." Kata Pak Hendra yang masih tak mengerti inti kekhawatiranku.

"Tapi, kan Bapak enggak bocor ke pihak-pihak lain. Yang paling saya khawatirkan kalau berita ini tersebar dan didengar sama kepala sekolah, pasti akan menimbulkan masalah baru."

"Oooohh, kalau itu sih, harus kamu hadapi sendiri. Siap-siap aja ngasih penjelasan kalau benar berita kamu kerja setelah sekolah sampai di telinga kepala sekolah." Aku sedikit tak menyangka dengan respons santai yang ditunjukkan oleh wali kelasku itu. Ada kesal yang kurasakan, karena sebelumnya berharap beliau akan memberikanku solusi bermanfaat dibanding tanggapan yang terasa dingin itu.

"Selain ke saya, kepala sekolah juga pasti minta penjelasan sama Bapak sebagai wali kelas, kan? Nanti Bapak bakal bilang apa?" aku memancing agar ia sadar kalau ia juga terlibat dalam masalahku sebagai seorang wali kelas.

"Ya bilang . . . kalau saya juga baru tahu kalau kamu bekerja setelah jam sekolah. Paling cuma ditegur dan dinasehati agar lebih perhatian. Nah kamu, sebagai terdakwa, mau jawab apa?" aku melirik kearah Pak Hendra yang kembali melemparkan pertanyaan yang terasa memojokkan.

"Saya jawab apa adanya, kerja biar dapet duit supaya bisa makan." Aku menjawab dengan cuek.

"Terus, kepala sekolah akan tanya . . . emang orangtua kamu kemana? mereka enggak bertanggungjawab sama keperluan sehari-hari kamu?" entah kenapa, kini Pak Hendra mengubah cara bicaranya—seolah mengikuti gaya bicara Pak Gatot—kepala sekolahku, yang kental dengan logat Jawanya.

"Enggak. Saya udah enggak tinggal sama orangtua dan saya bertanggungjawab sama kehidupan saya sendiri."

Pak Hendra menautkan kedua alisnya—seperti sedang berpikir atas jawabanku barusan, "Kamu yakin mau jawab sejujur itu?"

Alone (slow update)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang