Heeko dan Junghee berencana berangkat jam sebelas malam. Saat ini sudah menunjukan pukul sepuluh. Masih ada sisa waktu satu Jam untuk mempersiapkan diri. Disela kegiatannya Heeko menghampiri Yoongi yang tengah berada di balkon apartemen.
"Yoongi, aku hendak ke Busan tiga hari. Jika lapar aku sudah menyiapkan makanan untukmu. Kamu tinggal menghangatkan saja. Kalau begitu aku berangkat" Heeko menyandang ransel besarnya dan bersiap pergi. Sebab ia tahu Yoongi tidak akan menyahut.
Tiba-tiba ponsel Heeko berdering. Panggilan dari Junghee. Ia memberi tahu tidak bisa pergi bersama Heeko sebab keluarganya telah menjemput sore tadi. Heeko yang tadi semangat kini melemas. Di hempaskan tubuhnya di sofa sembari menutup matanya menggunakan lengan. "Bagaimana ini?" Lirihnya putus asa.
Heeko di rundung kebingungan. Ia harus pergi malam itu juga. Sebab jika besok pagi pergi tidak ada waktu ke makam Jungkook. Tapi akan sengat mengerikan jika pergi sendirian tengah malam. Dengan niat nekat Heeko menguatkan diri untuk berangkat malam itu juga dan tentunya sendirian.
"Yoongi, aku pergi dulu. Selamat malam" pekik Heeko sambil memasang sepatunya.
"Aku ikut" ucap Yoongi datar dan tiba-tiba, nyaris membuat sepatu Heeko terbang akibat terkejut.
"Hah?"
"Tunggu" Yoongi berlari ke kamarnya. Tak memakan waktu lama Yoongi kembali. Ia mengenakan kaos hitam dan senada dengan hoodie dan celana jeans yang kenakannya. Ia juga menyandang sebuah ransel tapi tak sebesar milik Heeko. "Ayo" ajaknya dingin.
"Yoo-Yoongi kamu i-ingin ke Busan bersama ku?" Heeko menggagap dengan raut terheran bingung ragu atau semacamnya. Pria itu tidak menjawab ia sibuk memasang sepatunya dan keluar dari apartemen.
Heeko mengikuti kemana kaki Yoongi melangkah. Sepertinya pria itu memang ingin ikut bersamanya. Tapi kenapa ia ingin pergi?. Apa ia tahu Heeko pergi sendirian?. Kenapa dia peduli? Pertanyaan demi pertanyaan terus tercipta di benak Heeko. Heeko menyamakan langkahnya dengan Yoongi "Ta-tapi kenapa?" Hanya itu yang mampu Heeko tanyakan.
"Aku bosan" sahutnya datar.
"Benarkah oh hemm, setidaknya aku tidak pergi sendirian" Heeko tersenyum dengan paksaan. Heeko bingung sekaligus senang. Ia tahu Yoongi tak pernah peduli padanya. Yang penting Heeko punya teman untuk pergi bersama.
¤¤¤
Mobil Heeko yang di kendarai Yoongi melaju membelah angin musim gugur.
Sudah dua jam perjalanan mereka hanya diam. Suasana dingin, canggung, kaku, hening dan mencekam. Seolah mobil mereka adalah tempat pemakaman bahkan lebih mengerikan dari itu. Musik atau radio tidak berani di nyalakan. Sebab Heeko tak ingin mengusik ketenangan Yoongi yang sibuk dengan tugasnya menyetir. Heeko hanya menatap lurus kedepan. Sesekali ia melirik ke arah Yoongi dan ingin memulai sebuah pembicaraan namun lidahnya terlalu kelu untuk berucap.
"Apa rencanamu di Busan nantinya?" Heeko berusaha melawan suasana.
Tak tampak Yoongi akan merespon. Heeko sedikit merutuk dirinya yang sok akrab. tapi demi mencairnya suasana Heeko tak hilang akal, ia lawan rasa canggung itu dengan terus melontarkan pertanyaan apa saja agar suasana dingin yang menyelimuti perjalanan mereka sedikit mencair. Tetap saja pria es itu diam seribu bahasa bahkan ia berdecih risih ketika mulut sang gadis tak berhenti bertanya.
Heeko menyerah. Sepertinya pria itu tak tertarik sama sekali padanya. Apalagi berpikir kalau Yoongi ikut hanya menemaninya. Heeko yang lelah kini memilih mengistirahatkan diri.
"Aku ingin tidur, maaf membuatmu terganggu, jika kau lelah bangunkan saja, biar aku biar aku yang mengemudi. Selamat malam Min Yoongi". Ucapnya sebelum mata indah Heeko mengatup lelah dan jiwanya kini memasuki dunia mimpi.
¤¤¤
Heeko tersentak dari tidurnya dan menemukan Yoongi juga tertidur. Mendapati wajah mereka saling berhadapan dengan jarak begitu dekat. Heeko terlonjak spontan mundur belakang. kepalanya terantuk pelan pada kaca pintu mobil. Beruntung suara gaduh tersebut tak membuat Yoongi terbangun.
Heeko melirik jam di tanganya menunjukan pukul empat pagi. Masih butuh empat jam perjalanan untuk sampai di Busan. Matanya berkelana mencari tahu dimana mereka saat ini. Heeko menemukan mobil mereka sedang berada di rest area
Heeko mengucek matanya, menyadarkan diri sepenuhnya dari dunia mimpi. Namun gadis itu tak bisa menahan diri untuk tidak menjadikan Yoongi sebagai objek perhatiannya walau sekuat tenaga ia membuyarkan untuk tak menatap pria berkulit pucat itu.
Heeko melihat Yoongi tampak kedinginan, Hoodie tipis yang di kenakan Yoongi berhasil di tembus dinginnya ac mobil. Pria itu menggosok tangannya kedinginan. Tanpa berpikir panjang Heeko membuka jaket yang dikenakan dan menyelimuti Yoongi dengan hati-hati berharap pria itu tidak terbangun.
"Sepertinya kau lebih membutuhkanya" gumam Heeko di sela menutupi Yoongi menggunakan jaketnya.
Heeko kembali mendekatkan wajahnya, menatap Yoongi dengan sorot penuh arti. Jarak di antara mereka amat dekat. Semilir nafas hangat milik Yoongi menyapu lembut pipi Heeko.
"Maaf jika aku memilih jalan yang tak seharusnya ku pilih. Sebab aku peduli. Jangan tanya kenapa aku peduli, aku bahkan juga tidak tahu jawabannya. Dan jangan larang aku untuk peduli padamu. Ku harap kau bisa kembali hidup normal Min Yoongi" Sebelum Heeko kembali menutup matanya. Melanjutkan kisah mimpi yang sempat terpotong.
Tbc
KAMU SEDANG MEMBACA
BOY MEETS EVIL || Min Yoongi
FanfictionYoo Heeko, gadis keturunan Jepang dan Korea mencoba mencari peruntungan di negeri Ginseng sembari belajar hidup mandiri. Gadis itu baru saja mulai menata hidup barunya. Membeli sebuah apartemen di Kota Seoul. Siapa sangka apartemen yang di beli deng...
