“Ibu, kenalkan ini Park Jimin” ucap Haruna kecut.
Wanita paruh baya yang tengah terbaring di atas ranjang rumah sakit memandang Jimin heran.
“Selamat siang bibi, aku Jimin Park" Sapa Jimin membungkuk memberi hormat.
“apa dia calon suami mu?” Tanya ibu Haruna menatap mereka bergantian.
“Ah bukan begitu ibu, di-di-”
“Benar bibi aku lah orangnya” potong Jimin. Haruna tertegun spontan menoleh ke arah Jimin, wanita itu bergumam seperti sedang kumur-kumur.
“Syukurlah kamu membawa calon suami, jadi ibu bisa operasi dengan tenang”
“kenapa begitu ibu?”
“Ibu hanya memastikan jika ibu tidak ada nanti kamu punya tempat sandaran”
“Ibu bicara apa, ibu hanya operasi usus buntu” Haruna protes dengan sikap ibunya seolah akan meninggal.
“Siapa tahu”
“IBU!” bentak Haruna menahan malu.
“jaga putri ku dengan baik nak Jimin” Ibu Haruna meraih tangan Jimin kemudian menggenggamnya erat. Berharap pria itu bisa menjaga Haruna nanti.
“baik bibi, terima kasih telah mempercayakan Haruna padaku” Jimin mengulas senyumnya
Haruna melirik Jimin di sampingnya, lelaki itu tampak tulus jika di lihat dari senyum dan sikapnya. Seolah apa yang di ucapkannya memang nyata adanya. Jantung Haruna seketika berdesir. Wajahnya terasa panas terbakar. Segera Haruna memalingkan wajahnya dari kedua orang ini.
¤¤¤
Disebuah taman rumah sakit Jimin duduk di bangku yang sempat tertutupi salju tipis, di temani segelas kopi instan hangat mereka nikmati tanpa bersuara.
“aku minta maaf telah merepotkan mu Jim” Ucap Haruna tiba-tiba.
“ini sudah ketiga kalinya kamu berucap demikian, jika mengucapkan sekali aku sungguh tidak memaafkanmu”
Haruna masih tertunduk merasa bersalah, menatap kosong gelas berisi kopi instan yang di genggamnya. Seharusnya Haruna tidak perlu merasa demikian, karena Jimin tidak mempermasalahkannya, namun tetap saja Haruna merasa tak enak hati pada Jimin.
“Besok aku melakukan perjalanan bisnis. Aku akan sangat sibuk. Jadi pertemuan kita hanya sampai malam ini" Jimin mengambil alih percakapan yang sempat terhenti sesaat.
"Ya benar"
"Apa kamu tidak ingin mengajakku jalan-jalan atau apapun itu?"
“ja-jalan-jalan? Kemana?”
“Kemana saja, kamu tahu dimana tempat yang menurut mu paling bagus di suasana seperti ini?”
“aku tidak yakin itu..."
"Tidak apa-apa" Jimin meyakinkan.
"Nanti akan banyak berjalan kaki"
"Bukankah itu lebih baik"
“aku tidak akan menanggung konsekuansinya. Jika ya, ikut aku”
Haruna menarik tangan Jimin, menuntun lelaki itu ke tempat yang dimaksudnya. Jimin tidak protes, malah tersenyum membiarkan gadis itu menarik tanganya sikap Haruna membuat Jimin gemas.
¤¤¤
Tak jauh dari rumah sakit, Haruna membawa Jimin ke pasar kuliner tradisional yang biasa di datangi dulu ketika musim dingin, menikmati jajanan hangat di temani gelak tawa mereka berdua. Seiring berjalannya waktu mereka semakin akrab.
Lama berjalan Haruna mengajak Jimin ke tempat yang pernah datangi ketika masih sekolah, sebuah jembatan yang ditengahnya terbentang sungai yang tak tampak di mana ujungnya. Deretan lampu-lampu yang mulai menyala menghiasi tepi sungai memberikan suasana yang tenang dan penuh romansa.
Sore itu tampak kelabu, matahari tidak terlihat namun warna jingganya menyelimuti awan dingin. Haruna berlari seperti seorang anak-anak. Wanita itu sangat riang begitu kembali ketempat penuh nostalgia ini.
Rasanya tidak berani Haruna mempercayai tulisan namanya dan mantan pacarnya masih terukir manis di pagarnya. Di elusnya tulisan itu dengan perasaan haru dan bahagia.
“Ini tempat apa?” Tanya Jimin yang juga ikut menikmati keindahan yang menenangkan ini.
“Bukan tempat yang spesial. Tapi setiap pulang sekolah aku selalu menyempatkan mampir ke sini”
“oh ya. Kenapa?”
“entahlah bagiku tempat ini adalah obat penenang jika merasa sangat kacau"
“Begitukah?”
Haruna mengangguk mantap. “Bukankah tempat ini indah”
“hmm biasa saja" ejek Jimin disusul gelak tawanya.
“aku tidak akan marah, semua orang juga berpikir begitu" ucap Haruna tanpa mengalihkan pandangannya.
"Tapi kamu tahu Park Jimin, kamu pasti akan takjub jika kesini saat musim panas. Sangat indah sekali. Percayalah padaku.
“Oh ya?"
"Hmm" Haruna mengangguk.
"Kalau begitu beritahu aku jika kamu kesini pada musim panas tiba"
"Kenapa begitu?"
"Aku juga ingin melihatnya"
"Tentu"
Haruna melirik Jimin di sampingnya, pria itu tampak menikmati pemandangan yang disuguhkan di tempat itu.
Seolah ada yang masuk dan menusuk tepat di jantung Haruna. Sesuatu yang kembali mempercepat kerja jantungnya. Lalu saat Jimin juga menoleh ke arahnya. Cepat-cepat Haruna mengalihkan pandangannya, berusaha seolah tidak terjadi apa-apa. Walau jantungnya sedang dalam ritme yang tidak normal.
"Aku tidak yakin, mungkin aku jatuh cinta padamu, Jim" Batin Haruna berbisik.
¤¤¤
Pukul sepuluh biasanya wanita bernama lengkap Yoo Heeko sudah sibuk dengan pekerjaannya di kafe, akan tetapi hari itu Heeko baru bangun dari tidurnya, bukan tanpa alasan Heeko banguh kesiangan, sebab Heeko sedang tidak enak badan. Heeko demam.
Jangan pikir Min Yoongi akan peduli padanya, pria itu bahkan tidak peduli dengan keberadaan Heeko di apartemennya, yang dilakukannya hanya menggosok pistol-pistolnya di balkon setiap pagi.
Ponsel Heeko bergetar tanpa jeda, satu panggilan dari Junghee berhasil membuatnya itu terbangun tapi saat Heeko hendak mengangkat ponsel itu berhenti berbunyi. Ada lima belas panggilan tidak terjawab dari Junghee, tidak biasanya nona kasir itu menelpon sebanyak itu. Heeko lalu menelpon balik. Namun Junghee lebih dulu menelpon
"Kak Heeko" Junghe terdengar tidak tenang seperti di landa cemas.
"Iya Junghee, ada apa?"
"Anu...kak, aku tidak berani mengatakan padamu, lebih baik kakak datang langsung ke kafe ya" Junghee menutup sambungan teleponnnya.
Heeko merasa ada yang tidak beres, seperti ada sesuatu tengah terjadi di kafe. Heeko itu langsung menghambur ke kamar mandi walau tubuhnya seharusnya beristirahat.
¤¤¤
Heeko pun sampai di kafe, ada dua mobil polisi terparkir di depan kafe, garis kuning polisi juga menyilangi kafe dan disekitarnya
Junghee tampak mondar mandir tak jauh dari kafe, juga ada beberapa staff kafe yang berada di sana.
Heeko langsung menghampiri mereka. Dan menanyakan apa yang terjadi "ini kenapa ada garis polisi, Junghee?"
"Anu kak, kafe kita" Junghee mengambil jeda, membuang nafas sesaat. Jujur Junghee merasa tak mampu berucap tapi Junghee harus mengatakan sebenarnya. "Tadi pagi ada kejadian perkelahian di kafe, dua orang meninggal ditikam dan kafe kita hancur berantakan" sahut Junghee ragu-ragu.
"Apa?"
-TBC
KAMU SEDANG MEMBACA
BOY MEETS EVIL || Min Yoongi
FanficYoo Heeko, gadis keturunan Jepang dan Korea mencoba mencari peruntungan di negeri Ginseng sembari belajar hidup mandiri. Gadis itu baru saja mulai menata hidup barunya. Membeli sebuah apartemen di Kota Seoul. Siapa sangka apartemen yang di beli deng...
